alexametrics
27 C
Bojonegoro
Friday, May 20, 2022

Tak Nikmati Manisnya Harga Garam

KOTA – Lonjakan harga garam yang melambung saat ini justru tidak banyak dinikmati petani di Lamongan. Saat bersamaan produksi garam di sejumlah petani mengalami terjun bebas. Faktor cuaca memengaruhi produksi garam di tingkat petani menurun.

‘’Produksi garam di Lamongan sampai saat ini masih 741 ton. Padahal, dalam kondisi normal biasanya sudah mencapai 10.000 ton pada bulan-bulan seperti ini,’’ kata Kabid Pengawasan Dinas Perikanan dan Kelautan Lamongan Basuki kemarin (26/7).

Menurut dia, kondisi produksi garam tidak bagus tersebut sudah terjadi sejak tahun lalu. ‘’Rendahnya produksi garam karena kondisi cuaca. Yakni masih adanya hujan. Sehingga proses penggaraman tidak bisa berjalan optimal,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Agen Belum Ambil Stok Tambahan

Sesuai hukum pasar, tutur Basuki, karena produksi turun sedangkan permintaan tetap, bahkan cenderung meningkat, membuat harga garam melonjak. Termasuk harga di tingkat petani.

Menurut dia, harga garam di tingkat petani antara Rp 2.500 hingga Rp 3.000 per kilogram (kg). Harga tersebut jauh di atas yang ditetapkan dalam peraturan gubernur. Yakni Rp 750 per kg untuk kualitas K1. Sedangkan kualitas K2 sebesar Rp 550 per kg. 

Meski harga melonjak, petani garam tidak bisa menikmati pendapatan yang optimal. Sebab produksi garamnya menurun. Anjloknya produksi garam ini, diperkirakan target produksi tahun ini tidak tercapai, seperti tahun lalu. 

Target produksi garam di Lamongan tahun lalu 30.000 ton. Namun, hingga September 2016 baru tercapai 1.000 ton. Sedangkan bulan yang sama 2015 sudah mencapai 30.000 ton. Penurunan itu karena terjadi kemarau basah.

Baca Juga :  Warung di Trinil Tak Buka Tiap Hari 

Areal produksi garam juga mengalami penyusutan. Yakni dari 213 hektare (ha) pada 2015 menjadi 200 hektare pada 2016. Tahun ini diperkirakan juga semakin menyusut. Penyusutan areal lahan garam akibat alih fungsi lahan menjadi kegiatan perikanan.

KOTA – Lonjakan harga garam yang melambung saat ini justru tidak banyak dinikmati petani di Lamongan. Saat bersamaan produksi garam di sejumlah petani mengalami terjun bebas. Faktor cuaca memengaruhi produksi garam di tingkat petani menurun.

‘’Produksi garam di Lamongan sampai saat ini masih 741 ton. Padahal, dalam kondisi normal biasanya sudah mencapai 10.000 ton pada bulan-bulan seperti ini,’’ kata Kabid Pengawasan Dinas Perikanan dan Kelautan Lamongan Basuki kemarin (26/7).

Menurut dia, kondisi produksi garam tidak bagus tersebut sudah terjadi sejak tahun lalu. ‘’Rendahnya produksi garam karena kondisi cuaca. Yakni masih adanya hujan. Sehingga proses penggaraman tidak bisa berjalan optimal,’’ ujarnya.

Baca Juga :  Remaja Harus Ingat Triad Genre

Sesuai hukum pasar, tutur Basuki, karena produksi turun sedangkan permintaan tetap, bahkan cenderung meningkat, membuat harga garam melonjak. Termasuk harga di tingkat petani.

Menurut dia, harga garam di tingkat petani antara Rp 2.500 hingga Rp 3.000 per kilogram (kg). Harga tersebut jauh di atas yang ditetapkan dalam peraturan gubernur. Yakni Rp 750 per kg untuk kualitas K1. Sedangkan kualitas K2 sebesar Rp 550 per kg. 

Meski harga melonjak, petani garam tidak bisa menikmati pendapatan yang optimal. Sebab produksi garamnya menurun. Anjloknya produksi garam ini, diperkirakan target produksi tahun ini tidak tercapai, seperti tahun lalu. 

Target produksi garam di Lamongan tahun lalu 30.000 ton. Namun, hingga September 2016 baru tercapai 1.000 ton. Sedangkan bulan yang sama 2015 sudah mencapai 30.000 ton. Penurunan itu karena terjadi kemarau basah.

Baca Juga :  Mengkhawatirkan! Angka Kematian Ibu dan Bayi Semakin Maningkat

Areal produksi garam juga mengalami penyusutan. Yakni dari 213 hektare (ha) pada 2015 menjadi 200 hektare pada 2016. Tahun ini diperkirakan juga semakin menyusut. Penyusutan areal lahan garam akibat alih fungsi lahan menjadi kegiatan perikanan.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/