alexametrics
24 C
Bojonegoro
Wednesday, May 25, 2022

Pilkades Tensi Tinggi

BOJONEGORO – Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Serentak 2019 di 154 desa kemarin (26/6) dengan tensi tinggi. Terbukti tingkat partisipasi pemilih mendatangi tempat pemungutan suara (TPS) cukup banyak. Hanya, sedikit warga yang tak datang ke TPS.

Adanya persaingan antar calon kepala desa (cakades), dinilai mampu menyedot animo warga mendatangi TPS. Bahkan, proses pencoblosan di balai desa hingga menumpuk dan antre panjang.

Fenomena ini menunjukkan semangat warga untuk membangun desa agar lebih baik. Namun, animo datang ke TPS dan memilih cakades karena adanya politik uang (money politics), justru akan merugikan pembangunan desa.

Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Bojonegoro (Unigoro) Rupiarsieh mengatakan, partisipasi pemilih tiap desa rata-rata di atas 80 persen. Sebab isu regional hingga nasional secara tidak langsung menggerakkan masyarakat lebih kritis.

Tetapi, proses berdemokrasi masyarakat juga masih belum sepenuhnya berdasarkan rasionalitas. Karena tipikal para pemilih juga masih bias. Tak sedikit pemilih yang pragmatis mau datang ke TPS karena ada uangnya.

“Kalau sebagian besar masyarakat bisa menyadari dampak buruk dari politik uang, seharusnya menilai cakades secara rasional. Yakni berdasarkan program-program dan integritasnya,” terangnya.

Dia mengatakan, praktik politik uang masih merajalela. Tetapi, setidaknya efek pilkada dan pilpres beberapa waktu lalu masih hangat, sehingga kesadaran menggunakan hak pilihnya masih tinggi.

“Saya melihat semangat untuk berpartisipasi dalam pemilu masih tinggi, para pemilih butuh pemimpin yang amanah,” jelasnya.

Baca Juga :  Perpanjang Penahanan Kades Pangkatrejo

Berdasar data dihimpun Jawa Pos Radar Bojonegoro, rerata setiap desa, partisipasi pemilihnya tinggi. Di Desa Ngulanan, Kecamatan Dander, jumlah daftar pemilih tetap (DPT) 2.166 pemilih. Yang hadir 1.993 pemilh dan tidak hadir hanya 173 orang.

Desa Mulyorejo, Kecamatan Balen, jumlah DPT 1.323 pemilih. Yang hadir 1.226 dan tidak hadir hanya 97 pemilih. Desa Balenrejo, jumlah DPT 2.620 pemilih. Yang hadir 2.324 pemilih, sedangkan tidak datang ke TPS hanya 296.

Desa Guyangan, Kecamatan Dander, jumlah DPT sebanyak 1.435 pemilih. Yang hadir 1.339 pemilih, sedangkan tidak hadir hanya 96 orang. Desa Trembes, Kecamatan Malo jumlah DPT  917 pemilih. Yang tidak hadir hanya 72 pemilih.

Di Kecamatan Gayam, tepatnya Desa Begadon dengan tiga cakades jumlah DPT 1.184 pemilih. Yang tidak hadir hanya 65 orang. Desa Ringintunggal, jumlah DPT 949 pemilih, yang tidak hadir hanya 53 orang.

Desa Duwel, Kecamatan Kedungadem, jumlah DPT 1.178 pemilih. Yang tidak hadir hanya 83 pemilih. Desa Balongdowo, jumlah DPT 1.301 pemilih. Yang tidak tidak hadir 87 pemilih. Desa Gading, Kecamatan Tambakrejo, jumlah DPT 1.314 pemilih. Yang tidak hadir sedikit, yakni 21 pemilih.

Namun, ada juga pilkades yang tingkat partisipasinya buruk. Artinya, banyak pemilih tidak mendatangi TPS. Seperti di Desa Bareng, Kecamatan Ngasem, jumlah DPT 5.121 pemilih. Namun, yang tidak hadir sebanyak 1.068 pemilih. Desa Sidorejo, Kecamatan Kedungadem, jumlah DPT 3.664 pemilih. Yang tidak hadir sebanyak 986  pemilih.

Sementara itu, Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (Unugiri) Bojonegoro Ridlwan Hambali mengatakan, tingginya tingkat kehadiran pemilih dalam pilkades menjadi salah satu indikator SDM masyarakat mulai meningkat. Serta, masyarakat ingin ikut berpartisipasi membangun desanya.

Baca Juga :  Samudra Phone Peduli Covid-19

Selain itu, cakades wajah baru juga tampak terpilih. Seperti di Desa Balenrejo, Kecamatan Balen. Calon petahana tumbang dengan selisih sekitar 40 persen. Sehingga, calon baru menang mutlak karena mendapat dukungan penuh dari masyarakat.

“Warga mulai cerdas, pilkades menjadi ajang untuk peningkatan kesejahteraan di desa,” ungkapnya.

Dia menuturkan, tingginya partisipasi masyarakat ini dipicu dari beberapa faktor. Di antaranya adanya pilkades serentak, yang membuat semangat warga desa untuk menyukseskan pilkades di desanya.

Kemudian masyarakat yang sebelumnya tidak terlibat karena minimnya sosialisasi pilkades, saat ini sudah banyak masyarakat yang mengetahuinya. Hal ini karena pilkades digelar serentak dan ingin menunjukkan desanya paling bagus dibanding desa yang lain.

“Partisipasi yang bagus ini, juga bukti efek positif dari pilkades serentak,” imbuhnya.

Ketakutan masyarakat dengan pilkades, kata dia, pernah terjadi di tahun-tahun sebelumnya, karena masyarakat takut dengan perubahan atau pergantian pucuk pimpinan di desa. Namun, karena serentak, masyarakat sudah semakin dewasa.

Kemudian cakades rata-rata juga sudah mulai lebih dari dua calon, ini membuktikan jika warga mulai berani menjadi aktor penggerak demokrasi di tingkat desa. Sehingga masyarakat semakin terbuka menggunakan hak berdemokrasi.

Selain itu, tingginya partisipasi masyarakat ini juga dampak dari suasana pilkada dan pileg yang masih hangat. Karena, jarak antara pilkada dan pileg, kemudian pilkades sangat dekat.

BOJONEGORO – Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Serentak 2019 di 154 desa kemarin (26/6) dengan tensi tinggi. Terbukti tingkat partisipasi pemilih mendatangi tempat pemungutan suara (TPS) cukup banyak. Hanya, sedikit warga yang tak datang ke TPS.

Adanya persaingan antar calon kepala desa (cakades), dinilai mampu menyedot animo warga mendatangi TPS. Bahkan, proses pencoblosan di balai desa hingga menumpuk dan antre panjang.

Fenomena ini menunjukkan semangat warga untuk membangun desa agar lebih baik. Namun, animo datang ke TPS dan memilih cakades karena adanya politik uang (money politics), justru akan merugikan pembangunan desa.

Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Bojonegoro (Unigoro) Rupiarsieh mengatakan, partisipasi pemilih tiap desa rata-rata di atas 80 persen. Sebab isu regional hingga nasional secara tidak langsung menggerakkan masyarakat lebih kritis.

Tetapi, proses berdemokrasi masyarakat juga masih belum sepenuhnya berdasarkan rasionalitas. Karena tipikal para pemilih juga masih bias. Tak sedikit pemilih yang pragmatis mau datang ke TPS karena ada uangnya.

“Kalau sebagian besar masyarakat bisa menyadari dampak buruk dari politik uang, seharusnya menilai cakades secara rasional. Yakni berdasarkan program-program dan integritasnya,” terangnya.

Dia mengatakan, praktik politik uang masih merajalela. Tetapi, setidaknya efek pilkada dan pilpres beberapa waktu lalu masih hangat, sehingga kesadaran menggunakan hak pilihnya masih tinggi.

“Saya melihat semangat untuk berpartisipasi dalam pemilu masih tinggi, para pemilih butuh pemimpin yang amanah,” jelasnya.

Baca Juga :  Sayangkan Buruknya Pemahaman Aturan, Tertibkan 672 APK Melanggar

Berdasar data dihimpun Jawa Pos Radar Bojonegoro, rerata setiap desa, partisipasi pemilihnya tinggi. Di Desa Ngulanan, Kecamatan Dander, jumlah daftar pemilih tetap (DPT) 2.166 pemilih. Yang hadir 1.993 pemilh dan tidak hadir hanya 173 orang.

Desa Mulyorejo, Kecamatan Balen, jumlah DPT 1.323 pemilih. Yang hadir 1.226 dan tidak hadir hanya 97 pemilih. Desa Balenrejo, jumlah DPT 2.620 pemilih. Yang hadir 2.324 pemilih, sedangkan tidak datang ke TPS hanya 296.

Desa Guyangan, Kecamatan Dander, jumlah DPT sebanyak 1.435 pemilih. Yang hadir 1.339 pemilih, sedangkan tidak hadir hanya 96 orang. Desa Trembes, Kecamatan Malo jumlah DPT  917 pemilih. Yang tidak hadir hanya 72 pemilih.

Di Kecamatan Gayam, tepatnya Desa Begadon dengan tiga cakades jumlah DPT 1.184 pemilih. Yang tidak hadir hanya 65 orang. Desa Ringintunggal, jumlah DPT 949 pemilih, yang tidak hadir hanya 53 orang.

Desa Duwel, Kecamatan Kedungadem, jumlah DPT 1.178 pemilih. Yang tidak hadir hanya 83 pemilih. Desa Balongdowo, jumlah DPT 1.301 pemilih. Yang tidak tidak hadir 87 pemilih. Desa Gading, Kecamatan Tambakrejo, jumlah DPT 1.314 pemilih. Yang tidak hadir sedikit, yakni 21 pemilih.

Namun, ada juga pilkades yang tingkat partisipasinya buruk. Artinya, banyak pemilih tidak mendatangi TPS. Seperti di Desa Bareng, Kecamatan Ngasem, jumlah DPT 5.121 pemilih. Namun, yang tidak hadir sebanyak 1.068 pemilih. Desa Sidorejo, Kecamatan Kedungadem, jumlah DPT 3.664 pemilih. Yang tidak hadir sebanyak 986  pemilih.

Sementara itu, Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri (Unugiri) Bojonegoro Ridlwan Hambali mengatakan, tingginya tingkat kehadiran pemilih dalam pilkades menjadi salah satu indikator SDM masyarakat mulai meningkat. Serta, masyarakat ingin ikut berpartisipasi membangun desanya.

Baca Juga :  Rumah Nenek di Desa Tulungagung, Malo, Ludes Terbakar

Selain itu, cakades wajah baru juga tampak terpilih. Seperti di Desa Balenrejo, Kecamatan Balen. Calon petahana tumbang dengan selisih sekitar 40 persen. Sehingga, calon baru menang mutlak karena mendapat dukungan penuh dari masyarakat.

“Warga mulai cerdas, pilkades menjadi ajang untuk peningkatan kesejahteraan di desa,” ungkapnya.

Dia menuturkan, tingginya partisipasi masyarakat ini dipicu dari beberapa faktor. Di antaranya adanya pilkades serentak, yang membuat semangat warga desa untuk menyukseskan pilkades di desanya.

Kemudian masyarakat yang sebelumnya tidak terlibat karena minimnya sosialisasi pilkades, saat ini sudah banyak masyarakat yang mengetahuinya. Hal ini karena pilkades digelar serentak dan ingin menunjukkan desanya paling bagus dibanding desa yang lain.

“Partisipasi yang bagus ini, juga bukti efek positif dari pilkades serentak,” imbuhnya.

Ketakutan masyarakat dengan pilkades, kata dia, pernah terjadi di tahun-tahun sebelumnya, karena masyarakat takut dengan perubahan atau pergantian pucuk pimpinan di desa. Namun, karena serentak, masyarakat sudah semakin dewasa.

Kemudian cakades rata-rata juga sudah mulai lebih dari dua calon, ini membuktikan jika warga mulai berani menjadi aktor penggerak demokrasi di tingkat desa. Sehingga masyarakat semakin terbuka menggunakan hak berdemokrasi.

Selain itu, tingginya partisipasi masyarakat ini juga dampak dari suasana pilkada dan pileg yang masih hangat. Karena, jarak antara pilkada dan pileg, kemudian pilkades sangat dekat.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/