alexametrics
27 C
Bojonegoro
Monday, August 8, 2022

Awal Dakwahnya Sering Disemprot Germo

BOJONEGORO – Di tengah kesibukannya menjalankan tugas, Bripka Moch. Wahyudi Utomo, 33, terpanggil menjadi guru ngaji di lingkungan eks lokalisasi Wonorejo alias Gandul di Desa Gesing, Kecamatan Semanding. Sebagian santrinya adalah anak mantan eks pekerja seks komersial (PSK) dan mucikari. 

Celoteh anak-anak mengaji menjelang azan Magrib terdengar jelas ketika memasuki kawasan eks lokalisasi Gandul, Selasa (26/6) sore. Perangkat pengeras suara di atas masjid yang dihadapkan ke barat menjadikan ayat-ayat Allah yang dibaca anak-anak itu terdengar hingga seluruh sudut gang bekas perkampungan pelacuran tersebut. Di tengah kerumunan anak-anak yang duduk bersila di masjid dan tengah mengajarkan mengaji, terlihat seorang pria berpakaian polisi dan berkopiah hitam. Dia adalah Bripka Moch. Wahyudi Utomo. 

Bintara polisi ini terjun di bekas kompleks prostitusi ini sejak Agustus 2017 atau sekitar sepuluh bulan lalu.  Persisnya, setelah dia dimutasi sebagai anggota satlantas ke satuan pembinaan masyarakat (satbinmas) Polres Tuban. Begitu ditunjuk sebagai babinkamtibmas Desa Gesing, polisi pendamping desa setempat ini tertantang untuk terjun ke bekas perkampungan lokalisasi yang dibubarkan Bupati Tuban Fathul Huda pada awal 2013.

Panggilan utama  Wahyudi adalah menyelamatkan akhlak anak-anak PSK dan mucikari. Terlebih, setelah diberangus, sekali waktu mereka sembunyi-sembunyi menerima tamu. ”Ini tantangan berat,”  kata dia kepada Jawa Pos Radar Tuban. Misi lain yang diembannya adalah mewujudkan situasi yang aman dan kondusif di desa yang didampingi.

”Dengan menjadi guru ngaji di Gandul, saya bisa menyampaikan dakwah sekaligus pesan kamtibmas,” imbuh dia. Dikatakan Wahyudi, awalnya dirinya sulit membaur, karena sosok polisi tidak akrab dalam kehidupan masyarakat abangan tersebut. 

Baca Juga :  Jual Merak Hijau di Medsos, Ditangkap

Ketika masuk di lingkungan prostitusi ini, yang dituju kali pertama adalah Masjid At-Taubah. Dikatakan dia, ketika masuk Gandul, kondisi masjid cukup mengenaskan. Debunya tebal. Kotor. ‘’Pas salat Jumat, mentok jamaahnya hanya 1-2 saf saja,’’ kenang dia. 

Dari jamaah yang tak lebih dari sepuluh tersebut, Wahyudi mengawali langkahnya. Dia sering menjadi imam sekaligus katib di masjid tersebut. Agar mendapat respons, mulanya, materi khotbahnya hal-hal ringan. Seperti imbauan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) dan kegiatan kepolisian lainnya. Sebab, ketika awal memberikan khotbah tentang agama justru banyak yang protes. ‘’Lahopo Pak ceramah agama bereng (ngapain Pak ceramah agama, Red),’’ kata Wahyudi meniru protes sejumlah warga.

Sejumlah germo dan PSK juga banyak yang tidak suka ketika dirinya menyampaikan materi agama. Maklum, selama puluhan tahun mereka tinggal di kompleks pelacuran dan jarang tersentuh siar maupun kajian keagamaan. 

Setelah bisa masuk di lingkungan setempat, Wahyudi mulai mendekati anak-anak dan remaja. ‘’Saya ajak ngopi, cangkrukan, dan begadang sampai akhirnya akrab,’’ tutur suami Midya Wahyu Susanti itu.

Setelah benar-benar diterima, alumni SMAN 1 Tuban ini membuka taman pendidikan Alquran (TPQ). Wahyudi sendiri yang mengajar ngaji pada anak-anak mantan PSK dan germo. Mulanya, yang mengikuti ngajinya tak lebih dari sepuluh anak. Lambat-laun, jumlahnya terus berkembang. Perubahan juga terjadi pada orang tuanya.

Kalau sebelumnya mereka menolak ceramah agama, kini justru meminta digelar kegiatan keagamaan tersebut. Atas permintaan mereka, polisi yang menyelesaikan pendidikan hukum di Universitas Sunan Bonang (USB) Tuban ini mendirikan jamaah tahlil. Jadwal pertemuannya tiap Kamis malam untuk jamaah pria dan Minggu malam untuk jamaah wanita.

Baca Juga :  Kursi Empat Kades Kosong

Kegiatannya, membaca Alquran dan ceramah singkat dengan mendatangkan ustad atau tokoh agama. ‘’Kadang kami kesulitan mendatangkan penceramah karena keterbatasan dana transportasinya,’’ imbuh dia. 

Jika tidak ada penceramah, Wahyudi sendiri yang sering mengisinya. Sejak November 2017, Wahyudi dimutasi tugas sebagai babinkamtibmas Desa Tegalrejo, Kecamatan Merakurak.

Meski tak lagi bertugas di Gesing, kegiatan keagamaannya tetap jalan. Dia juga rutin menjadi khotib salat Jumat atau kegiatan keagamaan lainnya di desa tersebut.

Bintara lulusan caba 2004 ini memang tidak memiliki latar belakang pendidikan pesantren. Wahyudi mengaku belajar agama dari dari kakeknya Sholeh, yang merupakan pengasuh Ponpes Hidayatus Sholihin, Desa Kaliuntu, Kecamatan Jenu. Setiap berkunjung ke rumah kakeknya, Wahyudi selalu diberi pesan untuk menebar kebaikan sebanyak mungkin. ‘’Mbah Sholeh selalu berpesan, kebaikan yang dilakukan sekarang akan jadi investasi di akhirat,’’ kenangnya.

Tidak hanya menjadi guru ngaji di perkampungan eks pelacuran, Wahyudi juga mendirikan TPQ At-Taqwa di Dusun Tlogo, Desa Prunggahan Kulon, Kecamatan Semanding. Di TPQ yang didirikannya, dia mengajar secara sukarela anak-anak yatim-piatu dan duafa di lingkungan sekitar. 

Awal Juni ini, Wahyudi memulai peletakan batu pertama pembangunan panti asuhan di sekitar TPQ At-Taqwa. ‘’Ini investasi kelak di hadapan  Allah. Sekaligus menghilangkan pandangan negatif masyarakat terhadap polisi,” tutur dia.

BOJONEGORO – Di tengah kesibukannya menjalankan tugas, Bripka Moch. Wahyudi Utomo, 33, terpanggil menjadi guru ngaji di lingkungan eks lokalisasi Wonorejo alias Gandul di Desa Gesing, Kecamatan Semanding. Sebagian santrinya adalah anak mantan eks pekerja seks komersial (PSK) dan mucikari. 

Celoteh anak-anak mengaji menjelang azan Magrib terdengar jelas ketika memasuki kawasan eks lokalisasi Gandul, Selasa (26/6) sore. Perangkat pengeras suara di atas masjid yang dihadapkan ke barat menjadikan ayat-ayat Allah yang dibaca anak-anak itu terdengar hingga seluruh sudut gang bekas perkampungan pelacuran tersebut. Di tengah kerumunan anak-anak yang duduk bersila di masjid dan tengah mengajarkan mengaji, terlihat seorang pria berpakaian polisi dan berkopiah hitam. Dia adalah Bripka Moch. Wahyudi Utomo. 

Bintara polisi ini terjun di bekas kompleks prostitusi ini sejak Agustus 2017 atau sekitar sepuluh bulan lalu.  Persisnya, setelah dia dimutasi sebagai anggota satlantas ke satuan pembinaan masyarakat (satbinmas) Polres Tuban. Begitu ditunjuk sebagai babinkamtibmas Desa Gesing, polisi pendamping desa setempat ini tertantang untuk terjun ke bekas perkampungan lokalisasi yang dibubarkan Bupati Tuban Fathul Huda pada awal 2013.

Panggilan utama  Wahyudi adalah menyelamatkan akhlak anak-anak PSK dan mucikari. Terlebih, setelah diberangus, sekali waktu mereka sembunyi-sembunyi menerima tamu. ”Ini tantangan berat,”  kata dia kepada Jawa Pos Radar Tuban. Misi lain yang diembannya adalah mewujudkan situasi yang aman dan kondusif di desa yang didampingi.

”Dengan menjadi guru ngaji di Gandul, saya bisa menyampaikan dakwah sekaligus pesan kamtibmas,” imbuh dia. Dikatakan Wahyudi, awalnya dirinya sulit membaur, karena sosok polisi tidak akrab dalam kehidupan masyarakat abangan tersebut. 

Baca Juga :  Beban di Pundak Eks Kapten

Ketika masuk di lingkungan prostitusi ini, yang dituju kali pertama adalah Masjid At-Taubah. Dikatakan dia, ketika masuk Gandul, kondisi masjid cukup mengenaskan. Debunya tebal. Kotor. ‘’Pas salat Jumat, mentok jamaahnya hanya 1-2 saf saja,’’ kenang dia. 

Dari jamaah yang tak lebih dari sepuluh tersebut, Wahyudi mengawali langkahnya. Dia sering menjadi imam sekaligus katib di masjid tersebut. Agar mendapat respons, mulanya, materi khotbahnya hal-hal ringan. Seperti imbauan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) dan kegiatan kepolisian lainnya. Sebab, ketika awal memberikan khotbah tentang agama justru banyak yang protes. ‘’Lahopo Pak ceramah agama bereng (ngapain Pak ceramah agama, Red),’’ kata Wahyudi meniru protes sejumlah warga.

Sejumlah germo dan PSK juga banyak yang tidak suka ketika dirinya menyampaikan materi agama. Maklum, selama puluhan tahun mereka tinggal di kompleks pelacuran dan jarang tersentuh siar maupun kajian keagamaan. 

Setelah bisa masuk di lingkungan setempat, Wahyudi mulai mendekati anak-anak dan remaja. ‘’Saya ajak ngopi, cangkrukan, dan begadang sampai akhirnya akrab,’’ tutur suami Midya Wahyu Susanti itu.

Setelah benar-benar diterima, alumni SMAN 1 Tuban ini membuka taman pendidikan Alquran (TPQ). Wahyudi sendiri yang mengajar ngaji pada anak-anak mantan PSK dan germo. Mulanya, yang mengikuti ngajinya tak lebih dari sepuluh anak. Lambat-laun, jumlahnya terus berkembang. Perubahan juga terjadi pada orang tuanya.

Kalau sebelumnya mereka menolak ceramah agama, kini justru meminta digelar kegiatan keagamaan tersebut. Atas permintaan mereka, polisi yang menyelesaikan pendidikan hukum di Universitas Sunan Bonang (USB) Tuban ini mendirikan jamaah tahlil. Jadwal pertemuannya tiap Kamis malam untuk jamaah pria dan Minggu malam untuk jamaah wanita.

Baca Juga :  Dampak Banjir, Beras Tak Berkualitas

Kegiatannya, membaca Alquran dan ceramah singkat dengan mendatangkan ustad atau tokoh agama. ‘’Kadang kami kesulitan mendatangkan penceramah karena keterbatasan dana transportasinya,’’ imbuh dia. 

Jika tidak ada penceramah, Wahyudi sendiri yang sering mengisinya. Sejak November 2017, Wahyudi dimutasi tugas sebagai babinkamtibmas Desa Tegalrejo, Kecamatan Merakurak.

Meski tak lagi bertugas di Gesing, kegiatan keagamaannya tetap jalan. Dia juga rutin menjadi khotib salat Jumat atau kegiatan keagamaan lainnya di desa tersebut.

Bintara lulusan caba 2004 ini memang tidak memiliki latar belakang pendidikan pesantren. Wahyudi mengaku belajar agama dari dari kakeknya Sholeh, yang merupakan pengasuh Ponpes Hidayatus Sholihin, Desa Kaliuntu, Kecamatan Jenu. Setiap berkunjung ke rumah kakeknya, Wahyudi selalu diberi pesan untuk menebar kebaikan sebanyak mungkin. ‘’Mbah Sholeh selalu berpesan, kebaikan yang dilakukan sekarang akan jadi investasi di akhirat,’’ kenangnya.

Tidak hanya menjadi guru ngaji di perkampungan eks pelacuran, Wahyudi juga mendirikan TPQ At-Taqwa di Dusun Tlogo, Desa Prunggahan Kulon, Kecamatan Semanding. Di TPQ yang didirikannya, dia mengajar secara sukarela anak-anak yatim-piatu dan duafa di lingkungan sekitar. 

Awal Juni ini, Wahyudi memulai peletakan batu pertama pembangunan panti asuhan di sekitar TPQ At-Taqwa. ‘’Ini investasi kelak di hadapan  Allah. Sekaligus menghilangkan pandangan negatif masyarakat terhadap polisi,” tutur dia.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/