alexametrics
24.5 C
Bojonegoro
Sunday, June 26, 2022

Mengenal Komunitas Kolektor Syal, Bojonegoro Scarves

FEATURES – Sebuah warung tak jauh dari bekas mes Persibo Bojonegoro Jalan Untung Suropati terlihat riuh. Warung kopi itu berada di barat bekas mes tersebut. Meski tak lagi dekat mes tim kebanggaan masyarakat Bojonegoro, di warung tersebut nuansa kegilaan terhadap Persibo masih terasa.

Warung menghadap ke utara itu masih diisi sejumlah suporter. Beberapa dari mereka ternyata membentuk sebuah komunitas berisi para kolektor syal (scarf). Komunitas ini menamakan Bojonegoro Scarves. 

Jawa Pos Radar Bojonegoro mengunjungi warung kopi tersebut siang hari, terlihat begitu lengang, namun di sudut warung sudah ada seorang pemuda asyik memainkan gawainya dan sesekali menyeruput es teh.

Ternyata, pemuda tersebut merupakan inisiator terbentuknya komunitas Bojonegoro Scarves, dia bernama Hengky Rizky Romadhona. Sosok pemuda ini supel dan asyik diajak ngobrol. Hengky sapaan akrabnya tersebut terlihat sedikit lelah, dia sedikit cerita proses menuntaskan skripsinya. 

Tetapi, hal tersebut tak jadi halangan baginya untuk selalu berikan dukungan moral maupun finansial bagi Persibo. Dia bercerita awalnya merupakan kolektor syal sejak 2010 silam. Dia selalu tertarik membeli syal berbagai tim ketika sedang ada kesempatan menonton sepak bola di stadion manapun. 

Baca Juga :  Dokumen Perjanjian Pembangunan Pasar Kota Belum Ditemukan

Lambat laun, dia mempelajari syal-syal tersebut. Ternyata, macam-macam syal itu banyak dan memiliki nilai historisnya. Karena, bahan syal itu berbeda-beda dan dia pun akhirnya tahu syal terbaik buatan Polandia. 

“Kualitas syal sangat beragam, tetapi panutan para kolektor syal pasti buatan Polandia. Karena garapannya sangat apik,” tutur mahasiswa tingkat akhir jurusan teknik pertambangan Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya (ITATS) tersebut.

Selanjutnya, jaringan pertemanan di Bojonegoro pun terbentuk. Hengky menemukan rekan sesama suporter juga suka mengoleksi syal. Hingga akhirnya Januari 2017, dia membentuk Bojonegoro Scarves bersama 8 suporter lainnya. Lama kelamaan anggota komunitas pun bertambah menjadi 14 orang. Dia lebih menekankan persaudaraan di dalam Bojonegoro Scarves. Selain itu, juga mengenalkan dunia rajut kepada warga Bojonegoro. 

“Dunia rajut ini unik, banyak sekali jenis syal dari berbagai negara memiliki ciri khas masing-masing,” ujarnya. 

Baca Juga :  Banyak Ritel Tak Jual Produk Lokal

Kegiatan mereka seminggu sekali ialah jemur syal bareng di stadion atau Alun-alun Bojonegoro. Juga, selalu mendukung Persibo ketika bertanding kandang maupun tandang. Menurut dia, syal punya nilai historis sendiri ketika usianya sudah berpuluh-puluh tahun. 

Karena itu, dia bersama sekomunitas memproduksi syal Persibo sendiri secara kolektif. “Pesannya syal lokal dan impor, kalau lokal produksi Bandung. Sedangkan, kalau impor itu pesannya di Polandia, sekitar 5 bulan baru jadi,” terangnya. 

Sistem penjualannya pre-order, jadi menunggu uang terkumpul baru pesan. Uang hasil penjualan pun dikumpulkan lagi sebagai kas membantu finansial Persibo. Karena, kekuatan tim sepak bola amatir seperti Persibo sekarang ini tak bisa hanya mengandalkan manajemen saja. 

Para suporter hendaknya kompak untuk kolektif uang bagi keberlangsungan Persibo. “Bahkan, kami Bojonegoro Scarves selalu boikot para pedagang memanfaatkan Persibo hanya untuk keuntungan pribadi. Jadi kami lebih baik tidak beli produknya,” ucapnya.

FEATURES – Sebuah warung tak jauh dari bekas mes Persibo Bojonegoro Jalan Untung Suropati terlihat riuh. Warung kopi itu berada di barat bekas mes tersebut. Meski tak lagi dekat mes tim kebanggaan masyarakat Bojonegoro, di warung tersebut nuansa kegilaan terhadap Persibo masih terasa.

Warung menghadap ke utara itu masih diisi sejumlah suporter. Beberapa dari mereka ternyata membentuk sebuah komunitas berisi para kolektor syal (scarf). Komunitas ini menamakan Bojonegoro Scarves. 

Jawa Pos Radar Bojonegoro mengunjungi warung kopi tersebut siang hari, terlihat begitu lengang, namun di sudut warung sudah ada seorang pemuda asyik memainkan gawainya dan sesekali menyeruput es teh.

Ternyata, pemuda tersebut merupakan inisiator terbentuknya komunitas Bojonegoro Scarves, dia bernama Hengky Rizky Romadhona. Sosok pemuda ini supel dan asyik diajak ngobrol. Hengky sapaan akrabnya tersebut terlihat sedikit lelah, dia sedikit cerita proses menuntaskan skripsinya. 

Tetapi, hal tersebut tak jadi halangan baginya untuk selalu berikan dukungan moral maupun finansial bagi Persibo. Dia bercerita awalnya merupakan kolektor syal sejak 2010 silam. Dia selalu tertarik membeli syal berbagai tim ketika sedang ada kesempatan menonton sepak bola di stadion manapun. 

Baca Juga :  Elpiji Melon Ditambah 11 Ribu Tabung

Lambat laun, dia mempelajari syal-syal tersebut. Ternyata, macam-macam syal itu banyak dan memiliki nilai historisnya. Karena, bahan syal itu berbeda-beda dan dia pun akhirnya tahu syal terbaik buatan Polandia. 

“Kualitas syal sangat beragam, tetapi panutan para kolektor syal pasti buatan Polandia. Karena garapannya sangat apik,” tutur mahasiswa tingkat akhir jurusan teknik pertambangan Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya (ITATS) tersebut.

Selanjutnya, jaringan pertemanan di Bojonegoro pun terbentuk. Hengky menemukan rekan sesama suporter juga suka mengoleksi syal. Hingga akhirnya Januari 2017, dia membentuk Bojonegoro Scarves bersama 8 suporter lainnya. Lama kelamaan anggota komunitas pun bertambah menjadi 14 orang. Dia lebih menekankan persaudaraan di dalam Bojonegoro Scarves. Selain itu, juga mengenalkan dunia rajut kepada warga Bojonegoro. 

“Dunia rajut ini unik, banyak sekali jenis syal dari berbagai negara memiliki ciri khas masing-masing,” ujarnya. 

Baca Juga :  Caleg PKS Harus Siap Mundur dan Diganti 

Kegiatan mereka seminggu sekali ialah jemur syal bareng di stadion atau Alun-alun Bojonegoro. Juga, selalu mendukung Persibo ketika bertanding kandang maupun tandang. Menurut dia, syal punya nilai historis sendiri ketika usianya sudah berpuluh-puluh tahun. 

Karena itu, dia bersama sekomunitas memproduksi syal Persibo sendiri secara kolektif. “Pesannya syal lokal dan impor, kalau lokal produksi Bandung. Sedangkan, kalau impor itu pesannya di Polandia, sekitar 5 bulan baru jadi,” terangnya. 

Sistem penjualannya pre-order, jadi menunggu uang terkumpul baru pesan. Uang hasil penjualan pun dikumpulkan lagi sebagai kas membantu finansial Persibo. Karena, kekuatan tim sepak bola amatir seperti Persibo sekarang ini tak bisa hanya mengandalkan manajemen saja. 

Para suporter hendaknya kompak untuk kolektif uang bagi keberlangsungan Persibo. “Bahkan, kami Bojonegoro Scarves selalu boikot para pedagang memanfaatkan Persibo hanya untuk keuntungan pribadi. Jadi kami lebih baik tidak beli produknya,” ucapnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/