alexametrics
23.4 C
Bojonegoro
Wednesday, August 17, 2022

Baru Empat Bulan, Delapan Ibu Meninggal

- Advertisement -

BOJONEGORO – Belum lama ini, Bojonegoro keluar dari zona 10 besar kabupaten/kota se-Jawa Timur dengan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) tertinggi. Meski begitu, tetap membutuhkan kewaspadaan ekstra. Sebab, berdasarkan data dinas kesehatan (dinkes), pada Januari-April tahun ini sudah delapan ibu meninggal atau AKI.

Sedangkan, AKB mencapai 45 kasus. “Kami terus upayakan kepada seluruh bidan desa dan puskesmas untuk memantau ibu-ibu hamil yang risiko tinggi (risti). Jadi bisa mengantisipasi AKI,” kata Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Masyarakat Dinkes Bojonegoro Ahmad Hernowo, Kamis (26/4).

Menurut dia, para ibu hamil yang risti wajib ditandai. Sehingga bisa dilakukan kontrol kandungan secara berkala. “Ibu hamil risti kalau usianya di atas 36 tahun atau kurang dari 20 tahun, terlalu sering hamil, dan terlalu banyak anak,” jelasnya.

Baca Juga :  Belum Ada Setoran BUMD

Selain itu, dia mengimbau kepada seluruh ibu hamil agar selalu mengecek kehamilannya minimal empat kali. Karena ibu-ibu hamil harus memiliki kesehatan ekstra selama berbadan dua, persalinan, dan nifas. Rata-rata penyebab utama kematian ibu didominasi ketika fase nifas dan hamil kedua. 

“Jadi para bidan desa idealnya ketika usai persalinan tetap memantau ibu-ibu. Sedangkan beberapa orang banyak yang meremehkan hamil kedua, sehingga mampu menyebabkan kematian,” bebernya.

- Advertisement -

Menurut dia, kematian ibu di Bojonegoro pada 2016 lalu saat fase hamil 5,8 persen. Lalu fase persalinan 23,5 persen, dan fase nifas mencapai 70,5 persen. Sedangkan, kematian ibu ketika hamil kedua pada 2016 lalu sebanyak 57 persen, sedangkan pada 2017 turun menjadi 52,94 persen. 

Baca Juga :  Setahun Pandemi Covid-19 BPJAMSOSTEK Bojonegoro Bayar Klaim Rp 77 M

“Selain penyebab-penyebab tersebut biasanya si ibu punya penyakit penyerta. Sehingga membuat kondisinya lemah,” tuturnya.

Sementara itu, kematian bayi rata-rata masih disebabkan oleh berat bayi lahir rendah (BBLR) kurang dari 2 kilogram. Biasanya ini juga disebabkan ibunya terlalu muda atau tua usianya. Selain itu, juga karena prematur atau penyakit penyerta ibu.

BOJONEGORO – Belum lama ini, Bojonegoro keluar dari zona 10 besar kabupaten/kota se-Jawa Timur dengan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB) tertinggi. Meski begitu, tetap membutuhkan kewaspadaan ekstra. Sebab, berdasarkan data dinas kesehatan (dinkes), pada Januari-April tahun ini sudah delapan ibu meninggal atau AKI.

Sedangkan, AKB mencapai 45 kasus. “Kami terus upayakan kepada seluruh bidan desa dan puskesmas untuk memantau ibu-ibu hamil yang risiko tinggi (risti). Jadi bisa mengantisipasi AKI,” kata Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Masyarakat Dinkes Bojonegoro Ahmad Hernowo, Kamis (26/4).

Menurut dia, para ibu hamil yang risti wajib ditandai. Sehingga bisa dilakukan kontrol kandungan secara berkala. “Ibu hamil risti kalau usianya di atas 36 tahun atau kurang dari 20 tahun, terlalu sering hamil, dan terlalu banyak anak,” jelasnya.

Baca Juga :  Dua Megaproyek Jembatan Tersendat

Selain itu, dia mengimbau kepada seluruh ibu hamil agar selalu mengecek kehamilannya minimal empat kali. Karena ibu-ibu hamil harus memiliki kesehatan ekstra selama berbadan dua, persalinan, dan nifas. Rata-rata penyebab utama kematian ibu didominasi ketika fase nifas dan hamil kedua. 

“Jadi para bidan desa idealnya ketika usai persalinan tetap memantau ibu-ibu. Sedangkan beberapa orang banyak yang meremehkan hamil kedua, sehingga mampu menyebabkan kematian,” bebernya.

- Advertisement -

Menurut dia, kematian ibu di Bojonegoro pada 2016 lalu saat fase hamil 5,8 persen. Lalu fase persalinan 23,5 persen, dan fase nifas mencapai 70,5 persen. Sedangkan, kematian ibu ketika hamil kedua pada 2016 lalu sebanyak 57 persen, sedangkan pada 2017 turun menjadi 52,94 persen. 

Baca Juga :  Diakui Hebat Warga Luar Bojonegoro

“Selain penyebab-penyebab tersebut biasanya si ibu punya penyakit penyerta. Sehingga membuat kondisinya lemah,” tuturnya.

Sementara itu, kematian bayi rata-rata masih disebabkan oleh berat bayi lahir rendah (BBLR) kurang dari 2 kilogram. Biasanya ini juga disebabkan ibunya terlalu muda atau tua usianya. Selain itu, juga karena prematur atau penyakit penyerta ibu.

Artikel Terkait

Most Read

Akhir Era Gangster

Calon Direktur RSUD Masih Belum Jelas

Takdir yang Membawa ke Jawa Timur

Artikel Terbaru


/