alexametrics
25.7 C
Bojonegoro
Thursday, May 19, 2022

290 Hektare Sawah Klaim Gagal Panen

BOJONEGORO – Akibat banjir luapan Sungai Bengawan Solo dua pekan lalu, beberapa sawah berada di wilayah bantaran terdampak bencana tersebut. Dinas Pertanian (Disperta) Bojonegoro mencatat sebanyak 290 hektare sawah gagal panen.

Kepala Bidang (Kabid) Tanaman Pangan dan Holtikultura Disperta Zaenal Fanani mengatakan, saat ini masih proses verifikasi dari pihak asuransi. “Data yang sudah kami kirimkan ke pihak asuransi Jasindo sebanyak 290 hektare. Namun belum cair, karena masih dilakukan proses verifikasi. Kalau pencairannya belum bisa dipastikan, besaran klaim Rp 6 juta per hektare,” jelasnya.

Secara keseluruhan, sawah yang terdampak banjir luapan tersebut sebanyak 773,5 hektare berada di 33 desa dari 10 kecamatan. Tetapi, ketika ditinjau penyuluh pertanian lapangan (PPL), hanya ditemukan 290 hektare.

Baca Juga :  Jelang Lebaran, Intensifkan Tera SPBU

Sebab syarat klaimnya apabila terbukti lahan tersebut mengalami gagal panen mencapai 75 persen. “Adapun wilayah yang gagal panen di antaranya Kecamatan Kepohbaru, Baureno, Kapas, dan Balen,” terangnya.

Apabila dibandingkan banjir luapan tahun lalu mengalami penurunan. Berdasarkan datanya, dampak banjir 2018 menggenangi 4.372 hektare. Dan 985 hektare mengalami gagal panen. Karena banjir dua pekan lalu tidak berlangsung lama, dalam hitungan 2-3 hari sudah surut. “Kalau dibanding tahun lalu memang turun,” katanya.

Fanani tetap mengimbau agar para petani sadar ikut asuransi usaha tani padi (AUTP). Karena wilayah Bojonegoro cukup rawan bencana kekeringan maupun banjir. Tahun ini, belum ada satu pun petani ikut AUTP. Tetapi, ada 22 ribuan hektare diikutkan asuransi kerja sama dengan Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi Beras (Perpadi).

Baca Juga :  Berarsitektur Eropa, Milik Saudagar Tembakau Pribumi

“Sayangnya, kesadaran petani masih kurang. Padahal hitungannya ikut asuransi juga tidak mahal. Hanya Rp 36 ribu per hektare,” pungkasnya.

BOJONEGORO – Akibat banjir luapan Sungai Bengawan Solo dua pekan lalu, beberapa sawah berada di wilayah bantaran terdampak bencana tersebut. Dinas Pertanian (Disperta) Bojonegoro mencatat sebanyak 290 hektare sawah gagal panen.

Kepala Bidang (Kabid) Tanaman Pangan dan Holtikultura Disperta Zaenal Fanani mengatakan, saat ini masih proses verifikasi dari pihak asuransi. “Data yang sudah kami kirimkan ke pihak asuransi Jasindo sebanyak 290 hektare. Namun belum cair, karena masih dilakukan proses verifikasi. Kalau pencairannya belum bisa dipastikan, besaran klaim Rp 6 juta per hektare,” jelasnya.

Secara keseluruhan, sawah yang terdampak banjir luapan tersebut sebanyak 773,5 hektare berada di 33 desa dari 10 kecamatan. Tetapi, ketika ditinjau penyuluh pertanian lapangan (PPL), hanya ditemukan 290 hektare.

Baca Juga :  Harga Cabai Merah Naik, Waspada Cuaca Ekstrem

Sebab syarat klaimnya apabila terbukti lahan tersebut mengalami gagal panen mencapai 75 persen. “Adapun wilayah yang gagal panen di antaranya Kecamatan Kepohbaru, Baureno, Kapas, dan Balen,” terangnya.

Apabila dibandingkan banjir luapan tahun lalu mengalami penurunan. Berdasarkan datanya, dampak banjir 2018 menggenangi 4.372 hektare. Dan 985 hektare mengalami gagal panen. Karena banjir dua pekan lalu tidak berlangsung lama, dalam hitungan 2-3 hari sudah surut. “Kalau dibanding tahun lalu memang turun,” katanya.

Fanani tetap mengimbau agar para petani sadar ikut asuransi usaha tani padi (AUTP). Karena wilayah Bojonegoro cukup rawan bencana kekeringan maupun banjir. Tahun ini, belum ada satu pun petani ikut AUTP. Tetapi, ada 22 ribuan hektare diikutkan asuransi kerja sama dengan Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi Beras (Perpadi).

Baca Juga :  Oknum Fotografer Setubuhi Siswa dan Model, Korban Mencapai 28 Orang!

“Sayangnya, kesadaran petani masih kurang. Padahal hitungannya ikut asuransi juga tidak mahal. Hanya Rp 36 ribu per hektare,” pungkasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/