alexametrics
29.2 C
Bojonegoro
Monday, June 27, 2022

Mengenal Arga Senta, Startup Muda Asal Bojonegoro

Keputusannya sudah bulat untuk pulang ke kampung halamannya, Bojonegoro. Meskipun dia harus meninggalkan pekerjaan yang gajinya puluhan juta per bulan di Jakarta. Karena, bagi Arga Senta, Bojonegoro harus mampu lebih berkembang lagi di bidang information technology (IT).Gerimis tak pernah terelakkan ketika hari sudah petang di Bojonegoro.

Hawa dingin menusuk tulang pun tak mampu terhindarkan. Namun, tak membuat ruas jalan raya Bojonegoro-Babat sepi, klakson kendaraan-kendaraan besar tetap saling bersahutan.

Arga Senta, pria kelahiran 1993 tersebut sangat optimistis ketika menceritakan tentang startup. Karena memang di Bojonegoro sendiri belum banyak perusahaan startup. Ketika lima tahun  bekerja di Jakarta, dia memang kerja di bidang IT.

Namun, rasanya tak pernah nyaman bekerja di Jakarta. Karena di dalam dunia IT sangat kejam, siapapun bisa mengutak-atik segala data orang di dunia maya.Awalnya dia di Jakarta bekerja tiga tahun di sebuah perusahaan distributor handphone.

Sisanya, dua tahun, dia bekerja di sebuah perusahan penyedia konten provider. Pekerjaan tersebut dia jalani setengah hati, karena kerap kali ada kecurangan yang dilakukan di tempatnya ia bekerja.

Baca Juga :  Wujud Sinergitas Besama DPRD dan Pemkab Tuban

“Jadi, kalau pernah merasa pulsa disedot tiba-tiba, padahal tidak mendaftarkan pada layanan tersebut, itulah jalannya perusahaan tersebut,” tuturnya. Jadi, merasa tidak berkah dengan gaji yang dia dapat, meski jumlahnya sangat banyak.

Sehingga, niatnya pulang juga ingin memberikan warna baru di bidang IT Bojonegoro. Sekaligus ingin membuka lapangan pekerjaan. Namun, ketika dia sudah di Bojonegoro, dia sempat kaget karena di Bojonegoro ternyata sudah ada dua ojek online yang tak bisa diremehkan.

Satunya asal Singapura dan satunya asal Malang. “Saya benar-benar tidak menduga hal tersebut, sebab rencana awal saya ialah menggarap startup di bidang transportasi, sehingga saya pun langsung mengubah konsepnya,” jelasnya.

Konsep seketika dia ubah, karena memang tidak mungkin berkompetisi dengan dua perusahaan tersebut. Karena Arga merasa pemain baru. Jadi, dia pun mencari ceruk lainnya yaitu menggabungkan transportasi dan belanja online.

Baca Juga :  Bertemu PM Australia, Presiden Bahas Vaksinasi, Pemulihan Ekonomi

Akhirnya, dia pun memantapkan hatinya untuk membuat sebuah aplikasi berbasis android. “Jadi, aplikasi tersebut yang bisa dimanfaatkan masyarakat Bojonegoro apabila butuh bantuan apapun, seperti ojek, beli makanan, obat, dan sebagainya,” terang bapak satu anak itu.

Aplikasi itu pun selesai dia buat dalam kurun waktu dua bulan. Baru pertama buka, dia sudah mampu mengajak 10 temannya bekerja bersamanya. Arga pun merintisnya mulai dari nol, modal yang dia keluarkan juga tak sedikit untuk membeli server bagi aplikasinya.

Dia merangkap menjadi kurir, sales marketing, sekaligus urusan IT. Masih banyak yang harus dikembangkan dalam aplikasi tersebut. Arga mengajak kerjasama para pengusaha kuliner, perhotelan, fashion, dan sebagainya.

Dia pun berharap lebih banyak lagi kompetitor di bidang IT. Karena dia masih kerap menemukan warga Bojonegoro yang lihai di bidang IT, namun dimanfaatkan untuk menipu atau membobol sistem. 

 

 

Keputusannya sudah bulat untuk pulang ke kampung halamannya, Bojonegoro. Meskipun dia harus meninggalkan pekerjaan yang gajinya puluhan juta per bulan di Jakarta. Karena, bagi Arga Senta, Bojonegoro harus mampu lebih berkembang lagi di bidang information technology (IT).Gerimis tak pernah terelakkan ketika hari sudah petang di Bojonegoro.

Hawa dingin menusuk tulang pun tak mampu terhindarkan. Namun, tak membuat ruas jalan raya Bojonegoro-Babat sepi, klakson kendaraan-kendaraan besar tetap saling bersahutan.

Arga Senta, pria kelahiran 1993 tersebut sangat optimistis ketika menceritakan tentang startup. Karena memang di Bojonegoro sendiri belum banyak perusahaan startup. Ketika lima tahun  bekerja di Jakarta, dia memang kerja di bidang IT.

Namun, rasanya tak pernah nyaman bekerja di Jakarta. Karena di dalam dunia IT sangat kejam, siapapun bisa mengutak-atik segala data orang di dunia maya.Awalnya dia di Jakarta bekerja tiga tahun di sebuah perusahaan distributor handphone.

Sisanya, dua tahun, dia bekerja di sebuah perusahan penyedia konten provider. Pekerjaan tersebut dia jalani setengah hati, karena kerap kali ada kecurangan yang dilakukan di tempatnya ia bekerja.

Baca Juga :  Bupati Singgung OPD yang Tak Komunikatif

“Jadi, kalau pernah merasa pulsa disedot tiba-tiba, padahal tidak mendaftarkan pada layanan tersebut, itulah jalannya perusahaan tersebut,” tuturnya. Jadi, merasa tidak berkah dengan gaji yang dia dapat, meski jumlahnya sangat banyak.

Sehingga, niatnya pulang juga ingin memberikan warna baru di bidang IT Bojonegoro. Sekaligus ingin membuka lapangan pekerjaan. Namun, ketika dia sudah di Bojonegoro, dia sempat kaget karena di Bojonegoro ternyata sudah ada dua ojek online yang tak bisa diremehkan.

Satunya asal Singapura dan satunya asal Malang. “Saya benar-benar tidak menduga hal tersebut, sebab rencana awal saya ialah menggarap startup di bidang transportasi, sehingga saya pun langsung mengubah konsepnya,” jelasnya.

Konsep seketika dia ubah, karena memang tidak mungkin berkompetisi dengan dua perusahaan tersebut. Karena Arga merasa pemain baru. Jadi, dia pun mencari ceruk lainnya yaitu menggabungkan transportasi dan belanja online.

Baca Juga :  Mendag: Jaga Daya Beli Masyarakat agar Ekonomi Bangkit

Akhirnya, dia pun memantapkan hatinya untuk membuat sebuah aplikasi berbasis android. “Jadi, aplikasi tersebut yang bisa dimanfaatkan masyarakat Bojonegoro apabila butuh bantuan apapun, seperti ojek, beli makanan, obat, dan sebagainya,” terang bapak satu anak itu.

Aplikasi itu pun selesai dia buat dalam kurun waktu dua bulan. Baru pertama buka, dia sudah mampu mengajak 10 temannya bekerja bersamanya. Arga pun merintisnya mulai dari nol, modal yang dia keluarkan juga tak sedikit untuk membeli server bagi aplikasinya.

Dia merangkap menjadi kurir, sales marketing, sekaligus urusan IT. Masih banyak yang harus dikembangkan dalam aplikasi tersebut. Arga mengajak kerjasama para pengusaha kuliner, perhotelan, fashion, dan sebagainya.

Dia pun berharap lebih banyak lagi kompetitor di bidang IT. Karena dia masih kerap menemukan warga Bojonegoro yang lihai di bidang IT, namun dimanfaatkan untuk menipu atau membobol sistem. 

 

 

Artikel Terkait

Most Read

Tantangan di Dua Away

Redam Motivasi Sang Mantan

Tahun Ini Tak Ada Pelebaran Jalan

Artikel Terbaru

Berharap Pasar Hewan segera Dibuka

Harga Tanah Rp 450 Ribu Per Meter

Sempat Vakum Dua Tahun


/