alexametrics
25.2 C
Bojonegoro
Sunday, August 14, 2022

Mama Gunakan Popok Untuk Anak, Dihantui Mitos dan Ingin Ringkas

- Advertisement -

COVER STORY – Seorang anak laki-laki masih berusia 1,5 tahun sedang berlari mengejar-ngejar bola karet di teras rumahnya. Sembari diawasi ibunya, dia sangat aktif dan senang sekali bermain. Meski larinya masih terbata-bata dan terkadang jatuh tersungkur, anak itu terlihat begitu menggemaskan. Karena anak itu tak mudah menangis, hanya saja ketika meminta ASI atau sedang mengantuk. Begitu kata ibunya, Alfiana, bahwa anaknya sejak kecil sulit sekali disuruh diam.

Salah satu kebutuhan harian yang sangat dibutuhkan oleh Alfiana untuk anaknya, ialah popok sekali pakai. Karena itu, setiap harinya dia butuh setidaknya 3-5 popok. Alasan dia menggunakan popok sekali pakai karena tidak ribet dan anaknya bisa beraktivitas dengan leluasa. 

Dia juga bekerja dari pagi hingga sore, jadi setidaknya tidak merepotkan orang tuanya yang dimintai tolong untuk mengasuh anaknya. Perempuan asal Kauman tersebut menyediakan bujet untuk popok sekitar Rp 300 ribuan per bulan.

“Memang popok sekali pakai itu lebih mahal, tetapi mau bagaimana lagi, popok kain tentu lebih ribet,” tuturnya. Dia pun menambahkan anaknya terkadang juga ruam popok, karena biasanya lupa tidak segera ganti popoknya. 

Ketika disinggung terkait mitos-mitos penggunaan popok seperti membuat kaki berbentuk O, Alfiana sama sekali tidak percaya. Karena dia tidak melihat adanya perubahan bentuk kaki pada anaknya.

- Advertisement -

Namun, di keluarganya masih percaya mitos ketika membuang popok sekali pakai tidak boleh sembarangan. Contohnya, popok sekali pakai kalau dibakar bisa membuat kulit bayi luka.

Baca Juga :  Satpol PP Tidak Berani Menertibkan¬†

“Orang tua biasanya mengingatkan agar popoknya dikubur saja, jangan dibakar, tetapi karena tidak ada lahan untuk mengubur maupun membakarnya, jadi saya pilih membuang popoknya di tempat sampah,” jelasnya. 

Sementara itu, salah satu ibu asal Sukorejo, Nur Isnani lebih memilih menggunakan popok sekali pakai dan popok kain. Karena menurut dia, menggunakan popok sekali pakai sangat boros.

Dia pun ingin melatih anaknya agar mampu merasakan kebelet pipis atau pun buang air besar. “Modal awalnya memang besar, setidaknya di atas Rp 2 juta untuk membeli sekitar 10-15 popok kain, tetapi lebih mampu dijadikan investasi selanjutnya kalau dirawat dengan baik,” tuturnya.

Selain itu, popok kain masa kini juga lebih bagus bisa menampung pipis bayi sebanyak 3-6 kali. Karena memang didesain mirip dengan popok sekali pakai. 

Terpisah, menurut Kasi Penyakit Menular Dinas Kesehatan (Dinkes) Bojonegoro, Dokter Whenny Dyah Prajanti, bahwa penggunaan popok sekali pakai maupun popok kain merupakan pilihan masing-masing orang tua. Karena keduanya pun memiliki kekurangan dan kelebihan. 

Whenny menyampaikan bahwa popok sekali pakai sesuai perkembangan zaman, bahannya semakin nyaman dan aman. Sehingga mampu meminimalisasi terjadinya ruam popok pada anak.

“Intinya harus rajin dan disiplin mengecek kondisi popoknya, entah itu kain atau sekali pakai, sebab kalau lupa mengganti popok, tentu kemungkinan besar akan terjadi ruam popok,” jelasnya. Tambah dia, pun tergantung sensitivitas kulit bayi tersebut.

Baca Juga :  Tiga Desa Dijadikan Rasa Kota

Dia juga menilai, popok sekali pakai lebih mampu membuat anak nyaman ketika dalam kondisi tidur. Tidak seperti popok kain yang bisa mengganggu anak yang sedang tidur pulas.

“Semua dilihat dari banyak sisi, sisi ekonomi, kesehatan, lingkungan, dan sebagainya. Jadi ini memang pilihan bagi para orang tua,” ujarnya. Terkait mitos di atas, Whenny menampiknya, tidak ada hubungannya menggunakan popok sekali pakai bisa membuat kaki berbentuk O.

Lalu, membuang popok di sungai bisa membuat anak lebih adem, tentu tak bisa dibenarkan. “Mitos tersebut sering kali berseliweran di kalangan orang-orang tua kita, tetapi kalau dibuang sungai tentu bisa mengotori, saya pribadi pilih buang ke sampah,” katanya.

Adapun dia mengomentari terkait sensitivitas anak ketika merasakan kebelet. Kata dia, sebaiknya ketika anak dua tahun harus lepas popok. Karena si anak sudah bisa diajak berkomunikasi, sehingga bisa diajarkan toilet training.

“Memang perlu diajarkan secara bertahap terkait toilet training, karena anak juga butuh pembiasaan,” ucapnya.                                             

COVER STORY – Seorang anak laki-laki masih berusia 1,5 tahun sedang berlari mengejar-ngejar bola karet di teras rumahnya. Sembari diawasi ibunya, dia sangat aktif dan senang sekali bermain. Meski larinya masih terbata-bata dan terkadang jatuh tersungkur, anak itu terlihat begitu menggemaskan. Karena anak itu tak mudah menangis, hanya saja ketika meminta ASI atau sedang mengantuk. Begitu kata ibunya, Alfiana, bahwa anaknya sejak kecil sulit sekali disuruh diam.

Salah satu kebutuhan harian yang sangat dibutuhkan oleh Alfiana untuk anaknya, ialah popok sekali pakai. Karena itu, setiap harinya dia butuh setidaknya 3-5 popok. Alasan dia menggunakan popok sekali pakai karena tidak ribet dan anaknya bisa beraktivitas dengan leluasa. 

Dia juga bekerja dari pagi hingga sore, jadi setidaknya tidak merepotkan orang tuanya yang dimintai tolong untuk mengasuh anaknya. Perempuan asal Kauman tersebut menyediakan bujet untuk popok sekitar Rp 300 ribuan per bulan.

“Memang popok sekali pakai itu lebih mahal, tetapi mau bagaimana lagi, popok kain tentu lebih ribet,” tuturnya. Dia pun menambahkan anaknya terkadang juga ruam popok, karena biasanya lupa tidak segera ganti popoknya. 

Ketika disinggung terkait mitos-mitos penggunaan popok seperti membuat kaki berbentuk O, Alfiana sama sekali tidak percaya. Karena dia tidak melihat adanya perubahan bentuk kaki pada anaknya.

- Advertisement -

Namun, di keluarganya masih percaya mitos ketika membuang popok sekali pakai tidak boleh sembarangan. Contohnya, popok sekali pakai kalau dibakar bisa membuat kulit bayi luka.

Baca Juga :  Pasca TMMD ke-110, TNI Masih Melakukan Pendampingan dan Pemberdayaan

“Orang tua biasanya mengingatkan agar popoknya dikubur saja, jangan dibakar, tetapi karena tidak ada lahan untuk mengubur maupun membakarnya, jadi saya pilih membuang popoknya di tempat sampah,” jelasnya. 

Sementara itu, salah satu ibu asal Sukorejo, Nur Isnani lebih memilih menggunakan popok sekali pakai dan popok kain. Karena menurut dia, menggunakan popok sekali pakai sangat boros.

Dia pun ingin melatih anaknya agar mampu merasakan kebelet pipis atau pun buang air besar. “Modal awalnya memang besar, setidaknya di atas Rp 2 juta untuk membeli sekitar 10-15 popok kain, tetapi lebih mampu dijadikan investasi selanjutnya kalau dirawat dengan baik,” tuturnya.

Selain itu, popok kain masa kini juga lebih bagus bisa menampung pipis bayi sebanyak 3-6 kali. Karena memang didesain mirip dengan popok sekali pakai. 

Terpisah, menurut Kasi Penyakit Menular Dinas Kesehatan (Dinkes) Bojonegoro, Dokter Whenny Dyah Prajanti, bahwa penggunaan popok sekali pakai maupun popok kain merupakan pilihan masing-masing orang tua. Karena keduanya pun memiliki kekurangan dan kelebihan. 

Whenny menyampaikan bahwa popok sekali pakai sesuai perkembangan zaman, bahannya semakin nyaman dan aman. Sehingga mampu meminimalisasi terjadinya ruam popok pada anak.

“Intinya harus rajin dan disiplin mengecek kondisi popoknya, entah itu kain atau sekali pakai, sebab kalau lupa mengganti popok, tentu kemungkinan besar akan terjadi ruam popok,” jelasnya. Tambah dia, pun tergantung sensitivitas kulit bayi tersebut.

Baca Juga :  Bercita-cita Menjadi Pengusaha

Dia juga menilai, popok sekali pakai lebih mampu membuat anak nyaman ketika dalam kondisi tidur. Tidak seperti popok kain yang bisa mengganggu anak yang sedang tidur pulas.

“Semua dilihat dari banyak sisi, sisi ekonomi, kesehatan, lingkungan, dan sebagainya. Jadi ini memang pilihan bagi para orang tua,” ujarnya. Terkait mitos di atas, Whenny menampiknya, tidak ada hubungannya menggunakan popok sekali pakai bisa membuat kaki berbentuk O.

Lalu, membuang popok di sungai bisa membuat anak lebih adem, tentu tak bisa dibenarkan. “Mitos tersebut sering kali berseliweran di kalangan orang-orang tua kita, tetapi kalau dibuang sungai tentu bisa mengotori, saya pribadi pilih buang ke sampah,” katanya.

Adapun dia mengomentari terkait sensitivitas anak ketika merasakan kebelet. Kata dia, sebaiknya ketika anak dua tahun harus lepas popok. Karena si anak sudah bisa diajak berkomunikasi, sehingga bisa diajarkan toilet training.

“Memang perlu diajarkan secara bertahap terkait toilet training, karena anak juga butuh pembiasaan,” ucapnya.                                             

Artikel Terkait

Most Read

Kantongi Dua Pemain untuk Dicoret

Kebutuhan Pustawakan Mendesak

Divonis Empat Bulan, Parman Bebas

Artikel Terbaru


/