alexametrics
28.7 C
Bojonegoro
Monday, August 8, 2022

Lamongan Masih Siaga Merah, Akibatkan Serangan Diare Mengancam

Hujan lebat masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah, termasuk Lamongan. Itu berdasar prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meterologi Kelas I Juanda. Kemarin sore (26/2), terjadi hujan di sejumlah titik. Kepala Pelaksana BPBD Lamongan, Suprapto, menyatakan, pihaknya sudah menerima pemberitahuan potensi hujan sedang – lebat yang disertai petir dan angin kencang mulai pukul 17.40 kemarin di wilayah Lamongan, Tuban, Gresik, Mojokerto, Jombang, Nganjuk, Kediri, dan Probolinggo.

‘’Informasinya hujan juga bisa meluas ke Surabaya, Sidoarjo utara, Situbondo, Bondowoso utara dan sekitarnya,’’ tutur pria yang akrab disapa Prapto tersebut.  Menurut dia, potensi hujan juga terjadi di Luat Jawa bagian timur.

Serta, beberapa perairan yang menjadi tujuan melaut nelayan pantura. Di antaranya perairan Pulau Bawean, perairan utara Jawa Timur, dan selat Madura. ‘’Kecepatan angin di Lamongan diperkirakan mencapai 20 kilometer (km) per jam hingga 29 km per jam. Arah angin kini didominasi angin timur,’’ tuturnya.

Sementara itu, tiga titik daerah aliran sungai (DAS) Bengawan Solo di Lamongan kemarin masih berstatus siaga merah. Berdasarkan data BPBD pada pukul 15.00, papan duga di Kecamatan Babat menunjukkan ketinggian air 8,21 pheilscall. Pada papan duga di Kecamatan Laren, tingginya air 5,71 pheilscall, dan di Karanggeneng tingginya 5,71 pheilscall.

Sedangkan papan duga Kuro di DAS Bengawan Solo  masih berstatus siaga kuning.‘’Ketinggian di Kuro 2,4 pheilscall. Statusnya masih belum berubah,’’ tutur Muslimin, kasi Tanggap Darurat BPBD Lamongan saat dikonfirmasi via ponsel.

Menurut dia, meski masih siaga merah, ada tren penurunan debit air di DAS Bengawan Solo Kecamatan Babat dan Laren. Sedangkan DAS Bengawan Solo di wilayah barat terus menurun. Yakni, Karangnongko dan Bojonegoro.Dua wilayah itu statusnya siaga hijau.

‘’Perkembangan debit air posisi barat turun. Tapi di Lamongan masih siaga merah. Hari ini (kemarin) kita lakukan penambahan glangsing, terpal, dan alat lainnya untuk antisipasi,’’ tuturnya.

Baca Juga :  Sertu Mulyono: TNI Ajak Anak-Anak Menangkal Berbagai Faham Radikalisme

Dia memastikan tidak ada tambahan bangunan yang terdampak banjir. Seperti diberitakan, banjir melanda Kecamatan Babat, Glagah, Karangbinangun, Laren, Maduran, dan Kalitengah. Total bangunan yang terendam, 1.691 rumah. ‘’Kami pantau belum ada tambahan untuk bangunan yang terendam,’’ katanya.

Untuk area persawahan, lanjut dia, areanya meluas. Jika sebelumnya persawahan di enam kecamatan yang terendam, maka kemarin bertambah tiga kecamatan lagi. ‘’Laporan yang masuk hari ini persawahan di Turi, Deket, dan Kalitengah juga terendam air,’’ ujarnya. 

Warga di bantaran Bengawan Solo juga masih was-was. Apalagi, tanggul yang menjadi penahan luapan air tak kunjung diperbaiki. Salah satunya, tanggul jebol di Desa/Kecamatan Maduran.

‘’Tanggul yang jebol kemarin tambah luas. Kalau sebelumnya hanya 8 meter, adanya kenaikan ini membuat tanggul tergerus hingga 15 meter,’’ tutur Carik Jangkungsomo, Ali Said.

Akibatnya, lahan pertanian bak bengawan. Ali memastikan bahwa 65 hektare lahan pertanian tak berproduksi karena tanggul tak kunjung diperbaiki. Kondisi banjir di wilayah ini akan terus berlangsung selama tanggul masih dibiarkan. ‘’Sangat mendesak untuk diperbaiki,’’ ujarnya.

Ali menjelaskan, jalan alternatif sudah bisa dilintasi karena genangan air surut. Namun, akses menuju jalan raya masih tergenang. Untuk membantu pelajar sekolah dasar, pihaknya mendapat bantuan perahu dari BPBD.

‘’Sekarang difasilitasi perahu. Sehingga anak SD sudah bisa sekolah menyeberang dengan perahu bantuan itu,’’ tuturnya.Akibat banjir beberapa hari, sejumlah penyakit berpotensi menyerang warga.

Menurut Kabid Pencegahan dan Penanggulangan (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Lamongan, Bambang Susilo, penyakit yang paling diwaspadai itu diare. Selain itu,  sejumlah penyakit kulit, dan DBD.

‘’Kita masih data wilayah terdampak banjir serta melakukan foging dalam waktu dekat guna mengantisipasi DBD,’’ ujarnya kepada Jawa Pos Radar Lamongan kemarin (26/2). Sementara itu, Joko Sutrisno, 55, warga terdampak banjir, mengalami patah kaki sebelah kiri.

Baca Juga :  Usulkan Bus Besar Jurusan Bojonegoro-Ngawi

Warga Kelurahan Banaran, Kecamatan Babat, tersebut terpeleset dan mengalami patah tulang Sabtu (27/2) sore. Korban baru dirujuk ke RSUD Dr Soegiri Lamongan kemarin. Itupun oleh organisasi peduli masyarakat di sekitar wilayah terdampak banjir.

‘’Alhamdulillah dapat bantuan dari sejumlah pihak, sehingga suami saya bisa dioperasi,’’ tutur Gati Mulyana, istri korban.

Gati menjelaskan, saat kejadian, dirinya yang pertama kali mengetahui suaminya terpeleset. Dia lalu meminta pertolongan pada warga terdekat. Selanjutnya, korban dibawa ke Rumah Sakit Muhammadiyah Babat. ‘’Suami saya terpeleset di dalam rumah saat banjir. Sempat pingsan 1,5 jam dan di bawa ke rumah sakit terdekat,’’ katanya.

Setelah di rontgen, lanjut dia, petugas medis menyatakan bahwa suaminya mengalami patah tulang. Korban harus segera dioperasi dengan biaya Rp 20 juta. Joko yang  bekerja menjadi penarik becak motor (bentor) dan Yati sebagai buruh cuci, tergolong keluarga miskin.

Dia mengaku tak memiliki biaya. Yati membawa pulang kembali suaminya ke rumah.  ‘’Saya dapat duit dari mana pak kalau segitu,’’ imbuhnya. Purnomo, babinkantibmas setempat, menjelaskan, korban terpeleset saat hendak menaikkan barang-barang ke tempat lebih tinggi.

Saat itu ketinggian banjir di Kelurahan Banaran di atas lutut. Mendengar istri korban berteriak, dia bersama warga lainnya mendatangi dan akhirnya merujuk korban ke pelayanan kesehatan terdekat.

‘’Untungnya pas terpeleset ada yang mengetahui, jadi masih bisa tertolong,’’ ujarnya. M. Andi, warga Kelurahan Banaran, menjelaskan, ketinggian air di Kelurahan Banaran mulai berkurang. Jika sebelumnya di atas lutut, kemarin tinggal 40 cm. ‘’Ketinggiannya sedikit berkurang,’’ ujarnya.  

Hujan lebat masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah, termasuk Lamongan. Itu berdasar prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meterologi Kelas I Juanda. Kemarin sore (26/2), terjadi hujan di sejumlah titik. Kepala Pelaksana BPBD Lamongan, Suprapto, menyatakan, pihaknya sudah menerima pemberitahuan potensi hujan sedang – lebat yang disertai petir dan angin kencang mulai pukul 17.40 kemarin di wilayah Lamongan, Tuban, Gresik, Mojokerto, Jombang, Nganjuk, Kediri, dan Probolinggo.

‘’Informasinya hujan juga bisa meluas ke Surabaya, Sidoarjo utara, Situbondo, Bondowoso utara dan sekitarnya,’’ tutur pria yang akrab disapa Prapto tersebut.  Menurut dia, potensi hujan juga terjadi di Luat Jawa bagian timur.

Serta, beberapa perairan yang menjadi tujuan melaut nelayan pantura. Di antaranya perairan Pulau Bawean, perairan utara Jawa Timur, dan selat Madura. ‘’Kecepatan angin di Lamongan diperkirakan mencapai 20 kilometer (km) per jam hingga 29 km per jam. Arah angin kini didominasi angin timur,’’ tuturnya.

Sementara itu, tiga titik daerah aliran sungai (DAS) Bengawan Solo di Lamongan kemarin masih berstatus siaga merah. Berdasarkan data BPBD pada pukul 15.00, papan duga di Kecamatan Babat menunjukkan ketinggian air 8,21 pheilscall. Pada papan duga di Kecamatan Laren, tingginya air 5,71 pheilscall, dan di Karanggeneng tingginya 5,71 pheilscall.

Sedangkan papan duga Kuro di DAS Bengawan Solo  masih berstatus siaga kuning.‘’Ketinggian di Kuro 2,4 pheilscall. Statusnya masih belum berubah,’’ tutur Muslimin, kasi Tanggap Darurat BPBD Lamongan saat dikonfirmasi via ponsel.

Menurut dia, meski masih siaga merah, ada tren penurunan debit air di DAS Bengawan Solo Kecamatan Babat dan Laren. Sedangkan DAS Bengawan Solo di wilayah barat terus menurun. Yakni, Karangnongko dan Bojonegoro.Dua wilayah itu statusnya siaga hijau.

‘’Perkembangan debit air posisi barat turun. Tapi di Lamongan masih siaga merah. Hari ini (kemarin) kita lakukan penambahan glangsing, terpal, dan alat lainnya untuk antisipasi,’’ tuturnya.

Baca Juga :  Kemenag Pastikan Semua MA Sistem UNBK

Dia memastikan tidak ada tambahan bangunan yang terdampak banjir. Seperti diberitakan, banjir melanda Kecamatan Babat, Glagah, Karangbinangun, Laren, Maduran, dan Kalitengah. Total bangunan yang terendam, 1.691 rumah. ‘’Kami pantau belum ada tambahan untuk bangunan yang terendam,’’ katanya.

Untuk area persawahan, lanjut dia, areanya meluas. Jika sebelumnya persawahan di enam kecamatan yang terendam, maka kemarin bertambah tiga kecamatan lagi. ‘’Laporan yang masuk hari ini persawahan di Turi, Deket, dan Kalitengah juga terendam air,’’ ujarnya. 

Warga di bantaran Bengawan Solo juga masih was-was. Apalagi, tanggul yang menjadi penahan luapan air tak kunjung diperbaiki. Salah satunya, tanggul jebol di Desa/Kecamatan Maduran.

‘’Tanggul yang jebol kemarin tambah luas. Kalau sebelumnya hanya 8 meter, adanya kenaikan ini membuat tanggul tergerus hingga 15 meter,’’ tutur Carik Jangkungsomo, Ali Said.

Akibatnya, lahan pertanian bak bengawan. Ali memastikan bahwa 65 hektare lahan pertanian tak berproduksi karena tanggul tak kunjung diperbaiki. Kondisi banjir di wilayah ini akan terus berlangsung selama tanggul masih dibiarkan. ‘’Sangat mendesak untuk diperbaiki,’’ ujarnya.

Ali menjelaskan, jalan alternatif sudah bisa dilintasi karena genangan air surut. Namun, akses menuju jalan raya masih tergenang. Untuk membantu pelajar sekolah dasar, pihaknya mendapat bantuan perahu dari BPBD.

‘’Sekarang difasilitasi perahu. Sehingga anak SD sudah bisa sekolah menyeberang dengan perahu bantuan itu,’’ tuturnya.Akibat banjir beberapa hari, sejumlah penyakit berpotensi menyerang warga.

Menurut Kabid Pencegahan dan Penanggulangan (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Lamongan, Bambang Susilo, penyakit yang paling diwaspadai itu diare. Selain itu,  sejumlah penyakit kulit, dan DBD.

‘’Kita masih data wilayah terdampak banjir serta melakukan foging dalam waktu dekat guna mengantisipasi DBD,’’ ujarnya kepada Jawa Pos Radar Lamongan kemarin (26/2). Sementara itu, Joko Sutrisno, 55, warga terdampak banjir, mengalami patah kaki sebelah kiri.

Baca Juga :  Mafia Berkedok Pengembang Perumahan Diringkus

Warga Kelurahan Banaran, Kecamatan Babat, tersebut terpeleset dan mengalami patah tulang Sabtu (27/2) sore. Korban baru dirujuk ke RSUD Dr Soegiri Lamongan kemarin. Itupun oleh organisasi peduli masyarakat di sekitar wilayah terdampak banjir.

‘’Alhamdulillah dapat bantuan dari sejumlah pihak, sehingga suami saya bisa dioperasi,’’ tutur Gati Mulyana, istri korban.

Gati menjelaskan, saat kejadian, dirinya yang pertama kali mengetahui suaminya terpeleset. Dia lalu meminta pertolongan pada warga terdekat. Selanjutnya, korban dibawa ke Rumah Sakit Muhammadiyah Babat. ‘’Suami saya terpeleset di dalam rumah saat banjir. Sempat pingsan 1,5 jam dan di bawa ke rumah sakit terdekat,’’ katanya.

Setelah di rontgen, lanjut dia, petugas medis menyatakan bahwa suaminya mengalami patah tulang. Korban harus segera dioperasi dengan biaya Rp 20 juta. Joko yang  bekerja menjadi penarik becak motor (bentor) dan Yati sebagai buruh cuci, tergolong keluarga miskin.

Dia mengaku tak memiliki biaya. Yati membawa pulang kembali suaminya ke rumah.  ‘’Saya dapat duit dari mana pak kalau segitu,’’ imbuhnya. Purnomo, babinkantibmas setempat, menjelaskan, korban terpeleset saat hendak menaikkan barang-barang ke tempat lebih tinggi.

Saat itu ketinggian banjir di Kelurahan Banaran di atas lutut. Mendengar istri korban berteriak, dia bersama warga lainnya mendatangi dan akhirnya merujuk korban ke pelayanan kesehatan terdekat.

‘’Untungnya pas terpeleset ada yang mengetahui, jadi masih bisa tertolong,’’ ujarnya. M. Andi, warga Kelurahan Banaran, menjelaskan, ketinggian air di Kelurahan Banaran mulai berkurang. Jika sebelumnya di atas lutut, kemarin tinggal 40 cm. ‘’Ketinggiannya sedikit berkurang,’’ ujarnya.  

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/