alexametrics
24 C
Bojonegoro
Monday, June 27, 2022

Jackpot! Komplotan Pemeras Juga Positif Menggunakan SS

KOTA – Saifullah, 45, warga Jl Wibisana Denpasar, Bali, tidak hanya tersangkut kasus pemerasan terhadap Andika Setya Atmaja, 38, asal Kelurahan Payaman, Nganjuk, pemenang lelang truk bekas di Desa/Kecamatan Mantup. Pria yang mengaku polisi saat memeras itu, juga dinyatakan positif sebagai pengguna sabu – sabu. 

Kepastian itu berdasarkan hasil tes urine yang dilakukan petugas. Polisi menduga, sebelum memeras Saifullah bersama empat rekannya berpesta sabu – sabu.

‘’Hasil tes lima orang positif usai mengomsumsi sabu – sabu,’’ kata Kapolres Lamongan, AKBP Feby Hutagalung, kemarin (26/1).

Namun, polisi tidak menemukan barang haram tersebut saat penggeledahan mobil Saifullah Rabu (24/1). Menurut Kapolres, karena tidak ditemukan barang bukti sabu – sabu atau alat hisap, maka mereka tidak bisa dikenakan pasal berlapis.

Namun, pihaknya bakal melakukan penyidikan dengan melibatkan anggota reserse narkoba. Nantinya, lima rumah tersangka bakal digeledah untuk mencari sabu – sabu.

Kapolres menduga mereka hanya pemakai, tidak menjadi pengedar maupun kurir.  ‘’Jadi masih dilakukan penyelidikan terlebih dahulu. Menunggu perkembangan lebih lanjut terkait narkoba,’’ tutur Kapolres. 

Seperti diberitakan, Polres Lamongan menangkap komplotan pemerasan terhadap Andika Setya Atmaja di Desa/Kecamatan Mantup Rabu (24/1) malam. 

Baca Juga :  Penangkaran Hewan Langka Sukowati Lindungi Rusa Jawa dari Kepunahan

Berdasarkan keterangan petugas kepolisian, Saifullah, mengaku sebagai anggota polisi saat menjalankan aksinya. Padahal, dia tidak tercatat sebagai anggota kepolisian.

Selain itu, Slamet Lurniawan, 35, asal Desa Manggisan, Kecamatan Tanggul, Jember dan M. Mujahit, 30, asal  Dupak, Kecamatan Krembangan, Surabaya, ikut ditahan. Petugas juga memeriksa tiga orang lain yang saat digeledah membawa ID card sebagai wartawan.

Mereka adalah Sapai, 40, asal Desa Gundih, Kecamatan Bubutan, Surabaya; M Kwalit, 28, asal Desa Gundal, Kecamatan Camplong, Kabupaten Sampang; dan  Ismanto, 48, asal Wonokusumo, Kecamatan Semampir, Surabaya. 

Malam itu, Andika ingin mreteli truk bekas yang lelangnya sudah dimenanginya. Dia ingin mengangkut menggunakan mobil. Saifullah dkk mendatangi korban dan meminta uang Rp 50 juta sebagai ganti lahan  parkir.

Alasannya, lahan tersebut  miliknya karena dulunya sebagai pemilik galian.  Saifullah yang berkedok anggota polisi, membawa HT yang ditaruh di pundak kanan. Sementara teman-temannya memanggilnya dengan sebutan komandan.

Karena takut, korban kemudian bernegosiasi. Hingga akhirnya disepakati Rp 12,5 juta. Melihat tingkah tersangka yang mencurigakan, korban menghubungi kenalannya yang menjadi anggota reskrim.

Baca Juga :  Naas, Remaja Putri Tewas DIlindas truk. Ini Penjelasan Kanitlaka Tuban

Saifullah dkk diamankan pihak kepolisian. Menurut Kapolres, setelah dilakukan pemeriksaan satu persatu, polres hanya menetapkan lima tersangka.

M Kwalit, 28, asal Desa Gundal, Kecamatan Sampang  dinyatakan tidak memenuhi alat bukti yang kuat untuk ditetapkan menjadi tersangka. Alasannya, Kwalit hanya  diajak rekannya untuk mencari berita. Sehingga, dia tidak mengetahui tujuannya. 

‘’Jadi ditetapkan lima tersangka. Tak hanya melakukan aksinya di wilayah Lamongan, juga beberapa tempat lainnya. Kini masih dilakukan pendalaman terlebih dahulu,’’ ujarnya.

Saifullah di hadapan petugas menyatakan, dirinya berperan sebagai polisi gadungan karena bertubuh gemuk dan tinggi. Dia mata teman – temannya, dia lebih pantas untuk berpura – pura menjadi polisi.

Saifullah kemudian membeli perlengkapan seperti HT dan replika senjata api jenis revolver. ‘’Saya membeli senjata itu dari Pasar Maling Surabaya satu bulan yang lalu, seharga Rp 45 ribu,’’ katanya kepada Kapolres.

Dalam kesempatan tersebut, Kapolres juga menanyakan terkait ID card wartawan. Sebagian tersangka menyatakan media massanya masih aktif dan berkantor di wilayah Surabaya.

‘’Saya terakhir liputan tentang Sungai Berantas di wilayah Mojokerto,’’ ujar Ismanto menjawab pertanyaan Kapolres.  

KOTA – Saifullah, 45, warga Jl Wibisana Denpasar, Bali, tidak hanya tersangkut kasus pemerasan terhadap Andika Setya Atmaja, 38, asal Kelurahan Payaman, Nganjuk, pemenang lelang truk bekas di Desa/Kecamatan Mantup. Pria yang mengaku polisi saat memeras itu, juga dinyatakan positif sebagai pengguna sabu – sabu. 

Kepastian itu berdasarkan hasil tes urine yang dilakukan petugas. Polisi menduga, sebelum memeras Saifullah bersama empat rekannya berpesta sabu – sabu.

‘’Hasil tes lima orang positif usai mengomsumsi sabu – sabu,’’ kata Kapolres Lamongan, AKBP Feby Hutagalung, kemarin (26/1).

Namun, polisi tidak menemukan barang haram tersebut saat penggeledahan mobil Saifullah Rabu (24/1). Menurut Kapolres, karena tidak ditemukan barang bukti sabu – sabu atau alat hisap, maka mereka tidak bisa dikenakan pasal berlapis.

Namun, pihaknya bakal melakukan penyidikan dengan melibatkan anggota reserse narkoba. Nantinya, lima rumah tersangka bakal digeledah untuk mencari sabu – sabu.

Kapolres menduga mereka hanya pemakai, tidak menjadi pengedar maupun kurir.  ‘’Jadi masih dilakukan penyelidikan terlebih dahulu. Menunggu perkembangan lebih lanjut terkait narkoba,’’ tutur Kapolres. 

Seperti diberitakan, Polres Lamongan menangkap komplotan pemerasan terhadap Andika Setya Atmaja di Desa/Kecamatan Mantup Rabu (24/1) malam. 

Baca Juga :  THR PNS Cair

Berdasarkan keterangan petugas kepolisian, Saifullah, mengaku sebagai anggota polisi saat menjalankan aksinya. Padahal, dia tidak tercatat sebagai anggota kepolisian.

Selain itu, Slamet Lurniawan, 35, asal Desa Manggisan, Kecamatan Tanggul, Jember dan M. Mujahit, 30, asal  Dupak, Kecamatan Krembangan, Surabaya, ikut ditahan. Petugas juga memeriksa tiga orang lain yang saat digeledah membawa ID card sebagai wartawan.

Mereka adalah Sapai, 40, asal Desa Gundih, Kecamatan Bubutan, Surabaya; M Kwalit, 28, asal Desa Gundal, Kecamatan Camplong, Kabupaten Sampang; dan  Ismanto, 48, asal Wonokusumo, Kecamatan Semampir, Surabaya. 

Malam itu, Andika ingin mreteli truk bekas yang lelangnya sudah dimenanginya. Dia ingin mengangkut menggunakan mobil. Saifullah dkk mendatangi korban dan meminta uang Rp 50 juta sebagai ganti lahan  parkir.

Alasannya, lahan tersebut  miliknya karena dulunya sebagai pemilik galian.  Saifullah yang berkedok anggota polisi, membawa HT yang ditaruh di pundak kanan. Sementara teman-temannya memanggilnya dengan sebutan komandan.

Karena takut, korban kemudian bernegosiasi. Hingga akhirnya disepakati Rp 12,5 juta. Melihat tingkah tersangka yang mencurigakan, korban menghubungi kenalannya yang menjadi anggota reskrim.

Baca Juga :  Launching Skuad Persela Hadapi Kompetisi Liga 1 2021

Saifullah dkk diamankan pihak kepolisian. Menurut Kapolres, setelah dilakukan pemeriksaan satu persatu, polres hanya menetapkan lima tersangka.

M Kwalit, 28, asal Desa Gundal, Kecamatan Sampang  dinyatakan tidak memenuhi alat bukti yang kuat untuk ditetapkan menjadi tersangka. Alasannya, Kwalit hanya  diajak rekannya untuk mencari berita. Sehingga, dia tidak mengetahui tujuannya. 

‘’Jadi ditetapkan lima tersangka. Tak hanya melakukan aksinya di wilayah Lamongan, juga beberapa tempat lainnya. Kini masih dilakukan pendalaman terlebih dahulu,’’ ujarnya.

Saifullah di hadapan petugas menyatakan, dirinya berperan sebagai polisi gadungan karena bertubuh gemuk dan tinggi. Dia mata teman – temannya, dia lebih pantas untuk berpura – pura menjadi polisi.

Saifullah kemudian membeli perlengkapan seperti HT dan replika senjata api jenis revolver. ‘’Saya membeli senjata itu dari Pasar Maling Surabaya satu bulan yang lalu, seharga Rp 45 ribu,’’ katanya kepada Kapolres.

Dalam kesempatan tersebut, Kapolres juga menanyakan terkait ID card wartawan. Sebagian tersangka menyatakan media massanya masih aktif dan berkantor di wilayah Surabaya.

‘’Saya terakhir liputan tentang Sungai Berantas di wilayah Mojokerto,’’ ujar Ismanto menjawab pertanyaan Kapolres.  

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/