alexametrics
29.8 C
Bojonegoro
Sunday, August 14, 2022

Anggaran Pelatihan Disabilitas Minim

- Advertisement -

BOJONEGORO – Jumlah penyandang disabilitas di Kota Ledre lebih dari 4.000 jiwa. Mereka setidaknya butuh skill menjalani aktivitas. Namun, anggaran pelatihan bagi para penyandang disabilitas cukup minim. Hanya mampu untuk pelatihan tata boga selama lima hari sejak 2017 dan tahun ini. 

Berdasarkan data rekapitulasi penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) Dinas Sosial (Dinsos) Bojonegoro, anak disabilitas dari usia 0-18 tahun sebanyak 991 jiwa. Sedangkan, penyandang disabilitas dari usia 18 sampai usia lanjut sebanyak 3.222 orang. 

Kepala Bidang (Kabid) Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Dinsos Dwi Harningsih mengakui dana pelatihan para penyandang disabilitas sangat minim. Tahun lalu, anggaran awalnya Rp 57 juta, dikepras 25 persen, menjadi Rp 32 juta. Anggaran tersebut untuk pelatihan menjahit selama 25 hari.

Baca Juga :  Mamah Muda Jangan Buang Buang Tomat, Ini Alasannya

Tahun ini, pelatihannya diarahkan tata boga, meski anggarannya belum disahkan. ‘’Kami belum bisa bicara anggaran pelatihan penyandang disabilitas. Apakah turun atau tetap. Tetapi kami sudah menjadwalkan April mendatang mengadakan pelatihan tata boga di loka bina karya (LBK),” jelasnya.

Dan, peserta pelatihan hanya dibatasi 10 penyandang disabilitas. Nantinya, penyandang disabilitas yang lulus program ini mendapatkan bantuan peralatan tata boga. Berdasarkan data, dari 2012 hingga 2017, dinsos melatih 20 orang tunanetra dan 60 tunadaksa. Pelatihan di LBK rata-rata dimanfaatkan tunadaksa, sedangkan tunanetra dikirim ke Malang untuk pelatihan pijat. 

- Advertisement -

‘’Kalau tunawicara dan tunarungu, biasanya pelatihannya dikirim ke Pasuruan,” ucapnya. Setelah pelatihan, dinsos akan memantau tindak lanjut, karena bisa mengajukan anggaran dari provinsi untuk pengembangan usaha penyandang disabilitas. “Tetap lakukan evaluasi perkembangan usaha disabilitas,” katanya. 

Baca Juga :  Anak Berkebutuhan Khusus Semakin Kreatif

Sri Handayani, salah satu stafnya mengatakan, beberapa penyandang disabilitas yang tidak bisa produktif dulunya juga mendapat bantuan berupa satu ekor kambing untuk diperlihara. Pada 2012 dan 2013 menyalurkan 80 ekor kambing. 2013 35 ekor, 2015 sebanyak 30 ekor, 2016 sebanyak 13 ekor. Sedangkan, 2017 gagal direalisasikan karena tidak ada anggaran.

Handayani menambahkan dinsos mengumpulkan data PMKS atas bantuan satu tenaga kesejahteraan sosial kecamatan (TKSK) per kecamatan. Namun, dari beberapa TKSK masih ada yang lemah. Idealnya data terus di-update. Sebab, ada kegiatan monitoring dan evaluasi (monev) bagaimana perkembangan para penyandang disabilitas yang telah dilatih. 

BOJONEGORO – Jumlah penyandang disabilitas di Kota Ledre lebih dari 4.000 jiwa. Mereka setidaknya butuh skill menjalani aktivitas. Namun, anggaran pelatihan bagi para penyandang disabilitas cukup minim. Hanya mampu untuk pelatihan tata boga selama lima hari sejak 2017 dan tahun ini. 

Berdasarkan data rekapitulasi penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) Dinas Sosial (Dinsos) Bojonegoro, anak disabilitas dari usia 0-18 tahun sebanyak 991 jiwa. Sedangkan, penyandang disabilitas dari usia 18 sampai usia lanjut sebanyak 3.222 orang. 

Kepala Bidang (Kabid) Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Dinsos Dwi Harningsih mengakui dana pelatihan para penyandang disabilitas sangat minim. Tahun lalu, anggaran awalnya Rp 57 juta, dikepras 25 persen, menjadi Rp 32 juta. Anggaran tersebut untuk pelatihan menjahit selama 25 hari.

Baca Juga :  Masalah yang Sekarang Bawa Berkah

Tahun ini, pelatihannya diarahkan tata boga, meski anggarannya belum disahkan. ‘’Kami belum bisa bicara anggaran pelatihan penyandang disabilitas. Apakah turun atau tetap. Tetapi kami sudah menjadwalkan April mendatang mengadakan pelatihan tata boga di loka bina karya (LBK),” jelasnya.

Dan, peserta pelatihan hanya dibatasi 10 penyandang disabilitas. Nantinya, penyandang disabilitas yang lulus program ini mendapatkan bantuan peralatan tata boga. Berdasarkan data, dari 2012 hingga 2017, dinsos melatih 20 orang tunanetra dan 60 tunadaksa. Pelatihan di LBK rata-rata dimanfaatkan tunadaksa, sedangkan tunanetra dikirim ke Malang untuk pelatihan pijat. 

- Advertisement -

‘’Kalau tunawicara dan tunarungu, biasanya pelatihannya dikirim ke Pasuruan,” ucapnya. Setelah pelatihan, dinsos akan memantau tindak lanjut, karena bisa mengajukan anggaran dari provinsi untuk pengembangan usaha penyandang disabilitas. “Tetap lakukan evaluasi perkembangan usaha disabilitas,” katanya. 

Baca Juga :  Rafel Dzinun Muhammad, Enam Kali Sabet Medali Internasional

Sri Handayani, salah satu stafnya mengatakan, beberapa penyandang disabilitas yang tidak bisa produktif dulunya juga mendapat bantuan berupa satu ekor kambing untuk diperlihara. Pada 2012 dan 2013 menyalurkan 80 ekor kambing. 2013 35 ekor, 2015 sebanyak 30 ekor, 2016 sebanyak 13 ekor. Sedangkan, 2017 gagal direalisasikan karena tidak ada anggaran.

Handayani menambahkan dinsos mengumpulkan data PMKS atas bantuan satu tenaga kesejahteraan sosial kecamatan (TKSK) per kecamatan. Namun, dari beberapa TKSK masih ada yang lemah. Idealnya data terus di-update. Sebab, ada kegiatan monitoring dan evaluasi (monev) bagaimana perkembangan para penyandang disabilitas yang telah dilatih. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/