alexametrics
32.6 C
Bojonegoro
Monday, August 8, 2022

Sehari Dua Laporan Rumah Disatroni Kobra

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Teror ular kobra mulai merambah beberapa kawasan di Bojonegoro. Sehari kemarin (25/12) ada dua warga melaporkan rumahnya disatroni ular kobra. Kondisi ini memicu ketakutan warga setempat. Hingga salah satu pemilik memilih bermalam sementara di rumah kerabatnya.

Awalnya, petugas Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) menerima laporan di Desa Pasinan, Kecamatan Baureno, kemarin. Rumah milik Denik Setyo Puspita, 28, warga Desa Pasinan, diduga disatroni ular kobra.

Petugas damkar melakukan penyisiran mencari ular kobra tersebut. Namun, petugas belum menemukan ular tersebut. Sebelumnya diinformasikan ditemukan satu ekor ular di sekitar rumahnya.

Lalu lokasi lainnya di salah satu rumah Perumahan Puri Indah Desa Ngumpakdalem, Kecamatan Dander. Diinformasikan ditemukan ada tiga ekor ular kobra. Tetapi Kepala Bidang (Kabid) Penyelamatan Dinas Damkar Bojonegoro Teguh Haris mengatakan, anggotanya belum mengevakuasi karena pemilik rumah mengungsi ke rumah orang tuanya di Ngraseh.

“Pemilik rumah baru akan bersih-bersih besok (hari ini, Red). Kemungkinan sekalian dilakukan penyisiran ularnya, kalau memang ada ular kobra, segera kami evakuasi,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro.

Laporan tersebut bukan kali pertama. Senin (23/12) lalu rumah milik Priyadi, 40, warga RT 12/RW 05, Desa Karangsono, Kecamatan Dander, disatroni ular kobra. Tiga petugas damkar yang menerima laporan segera bertindak. Petugas menemukannya dan mengevakuasi sembilan ekor ular kobra. 

Baca Juga :  Tujuh Pelajar Ikuti UNBK Susulan

“Beberapa ekor sudah ada yang dibunuh warga, kalau yang berhasil kami evakuasi biasanya langsung kami berikan kepada komunitas-komunitas pecinta reptil,” ujar Teguh, sapaan akrabnya.

Hasil pantauan petugas damkar, sembilan ekor tersebut termasuk anakan. Ukuran ular rerata sekitar 22-28 sentimeter (cm). Usia ular diprediksi sekitar 30 sampai 40 hari.

Teguh mengimbau kepada seluruh masyarakat agar berhati-hati dan segera melapor ke damkar apabila ada ular masuk rumah. Tak hanya ular, hewan buas lainnya pihak damkar bersedia mengevakuasi. Karena beberapa waktu juga ada fenomena banyaknya tawon ndas. 

Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Desa (Sekdes) Karangsono Warsito membenarkan, bahwa memang ada rumah warganya yang disatroni ular kobra. Namun, ia tidak mengetahui kronologi secara detail. 

Ia mengatakan, informasi adanya ular kobra lumayan menggegerkan warga setempat. Karena rumah warganya tersebut memang dekat dengan kali dan sawah. “Di dekat rumahnya memang ada sawah dan kali,” ujarnya.

Predator Minim, Musim Ular Menetas

FENOMENA munculnya anakan ular kobra di permukiman cukup menggegerkan warga. Karena ularnya berbisa. Fenomena ini dinilai hal wajar karena musim hujan fase menetasnya telur kobra.

Supriyono, salah satu dokter hewan asal Desa Simbatan, Kecamatan Kanor, mengatakan, fenomena ini adalah hal wajar, karena musim penghujan merupakan fase menetasnya telur kobra. “Sebenarnya bukan ular kobra saja, tapi memang banyak kasusnya di bulan-bulan ini. Sebenarnya ada ular jenis lain juga,” ujarnya kemarin (25/12).

Baca Juga :  Kusworo Budi Mulyoto, Guru Seni Multitalenta yang Berlatar PKN

Secara umum, menurut dia, ular itu mempunyai kemampuan beradaptasi pada area di mana terjadi aktivitas manusia. Serta bisa membuat sarang di sekitar rumah-rumah warga. Suhu yang disukai ialah suhu ruangan yang hangat. Apalagi usai kemarau panjang dan kini mulai turun hujan, tentu suhu yang sangat pas bagi ular berkembang biak. 

Indukan kobra sendiri dapat menelurkan sekitar 12-20 butir telur yang akan menetas dalam rentang waktu sekitar 3-4 bulan. Dia mengatakan, anakan kobra yang baru lahir sudah mampu mencari makanan sendiri. Karena sudah memiliki insting bertahan hidup. 

Selain faktor musim penetasan, kemungkinan besar bertambahnya populasi anakan kobra karena ketiadaan predator alami yang terus-terusan diburu manusia. “Predator alami ular seperti biawak, garangan (musang), dan elang, yang sudah tidak bisa ditemui di sekitar permukiman warga. Sehingga, populasinya tak seimbang,’’ ujarnya.

’’Padahal apabila ada predator alami tersebut, telur-telur ular kobra ini sudah dimakan predatornya,” ujar Supri, sapaan akrabnya.

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Teror ular kobra mulai merambah beberapa kawasan di Bojonegoro. Sehari kemarin (25/12) ada dua warga melaporkan rumahnya disatroni ular kobra. Kondisi ini memicu ketakutan warga setempat. Hingga salah satu pemilik memilih bermalam sementara di rumah kerabatnya.

Awalnya, petugas Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) menerima laporan di Desa Pasinan, Kecamatan Baureno, kemarin. Rumah milik Denik Setyo Puspita, 28, warga Desa Pasinan, diduga disatroni ular kobra.

Petugas damkar melakukan penyisiran mencari ular kobra tersebut. Namun, petugas belum menemukan ular tersebut. Sebelumnya diinformasikan ditemukan satu ekor ular di sekitar rumahnya.

Lalu lokasi lainnya di salah satu rumah Perumahan Puri Indah Desa Ngumpakdalem, Kecamatan Dander. Diinformasikan ditemukan ada tiga ekor ular kobra. Tetapi Kepala Bidang (Kabid) Penyelamatan Dinas Damkar Bojonegoro Teguh Haris mengatakan, anggotanya belum mengevakuasi karena pemilik rumah mengungsi ke rumah orang tuanya di Ngraseh.

“Pemilik rumah baru akan bersih-bersih besok (hari ini, Red). Kemungkinan sekalian dilakukan penyisiran ularnya, kalau memang ada ular kobra, segera kami evakuasi,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro.

Laporan tersebut bukan kali pertama. Senin (23/12) lalu rumah milik Priyadi, 40, warga RT 12/RW 05, Desa Karangsono, Kecamatan Dander, disatroni ular kobra. Tiga petugas damkar yang menerima laporan segera bertindak. Petugas menemukannya dan mengevakuasi sembilan ekor ular kobra. 

Baca Juga :  Kepanasan, 30 Peserta Upacara Ambruk

“Beberapa ekor sudah ada yang dibunuh warga, kalau yang berhasil kami evakuasi biasanya langsung kami berikan kepada komunitas-komunitas pecinta reptil,” ujar Teguh, sapaan akrabnya.

Hasil pantauan petugas damkar, sembilan ekor tersebut termasuk anakan. Ukuran ular rerata sekitar 22-28 sentimeter (cm). Usia ular diprediksi sekitar 30 sampai 40 hari.

Teguh mengimbau kepada seluruh masyarakat agar berhati-hati dan segera melapor ke damkar apabila ada ular masuk rumah. Tak hanya ular, hewan buas lainnya pihak damkar bersedia mengevakuasi. Karena beberapa waktu juga ada fenomena banyaknya tawon ndas. 

Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Desa (Sekdes) Karangsono Warsito membenarkan, bahwa memang ada rumah warganya yang disatroni ular kobra. Namun, ia tidak mengetahui kronologi secara detail. 

Ia mengatakan, informasi adanya ular kobra lumayan menggegerkan warga setempat. Karena rumah warganya tersebut memang dekat dengan kali dan sawah. “Di dekat rumahnya memang ada sawah dan kali,” ujarnya.

Predator Minim, Musim Ular Menetas

FENOMENA munculnya anakan ular kobra di permukiman cukup menggegerkan warga. Karena ularnya berbisa. Fenomena ini dinilai hal wajar karena musim hujan fase menetasnya telur kobra.

Supriyono, salah satu dokter hewan asal Desa Simbatan, Kecamatan Kanor, mengatakan, fenomena ini adalah hal wajar, karena musim penghujan merupakan fase menetasnya telur kobra. “Sebenarnya bukan ular kobra saja, tapi memang banyak kasusnya di bulan-bulan ini. Sebenarnya ada ular jenis lain juga,” ujarnya kemarin (25/12).

Baca Juga :  Fokus Perbaiki Semua Lini

Secara umum, menurut dia, ular itu mempunyai kemampuan beradaptasi pada area di mana terjadi aktivitas manusia. Serta bisa membuat sarang di sekitar rumah-rumah warga. Suhu yang disukai ialah suhu ruangan yang hangat. Apalagi usai kemarau panjang dan kini mulai turun hujan, tentu suhu yang sangat pas bagi ular berkembang biak. 

Indukan kobra sendiri dapat menelurkan sekitar 12-20 butir telur yang akan menetas dalam rentang waktu sekitar 3-4 bulan. Dia mengatakan, anakan kobra yang baru lahir sudah mampu mencari makanan sendiri. Karena sudah memiliki insting bertahan hidup. 

Selain faktor musim penetasan, kemungkinan besar bertambahnya populasi anakan kobra karena ketiadaan predator alami yang terus-terusan diburu manusia. “Predator alami ular seperti biawak, garangan (musang), dan elang, yang sudah tidak bisa ditemui di sekitar permukiman warga. Sehingga, populasinya tak seimbang,’’ ujarnya.

’’Padahal apabila ada predator alami tersebut, telur-telur ular kobra ini sudah dimakan predatornya,” ujar Supri, sapaan akrabnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/