alexametrics
24.8 C
Bojonegoro
Friday, May 27, 2022

Kata Gadis ini, Bojonegoro Penuh Kenangan

KESEDERHANAAN yang terpancar dari tutur kata dan perilaku Arum Lailatul Fitri sangat kentara. Dara asal Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban, itu termasuk sosok yang kalem, namun tindak tanduknya sangat berpendirian. Menghabiskan waktu selama tiga tahun di Bojonegoro, membuat Arum belajar banyak hal.

’’Saya hijrah ke Bojonegoro saat SMA dan Bojonegoro bisa jadi merupakan rumah kedua saya,” tutur alumnus SMAN 2 Bojonegoro itu. 

Dia merasakan berbagai pengalaman selama sekolah di Bojonegoro. Kala itu, Arum tinggal numpang di rumah pamannya di Desa Sukorejo, Kota Bojonegoro.

Waktu SMA pun, dia hanya berbekal sepeda ontel atau terkadanga nebeng temannya.

Dia tidak merasakan minder atau malu. Dia nyaman dengan kesederhanaan itu, karena rasa syukurnya masih ada rezeki untuknya mampu bersekolah.

Baca Juga :  Mulai 13 Oktober, Tes SKD Tiga Kabupaten Bergantian

Walaupun, dulu banyak yang merendahkan dia tidak bisa lolos di SMAN 2 Bojonegoro karena dari luar kota.

’’Tapi alhamdulillah, meski dari luar kota yang hanya diambil 20 persen, saya termasuk yang lolos,” jelasnya. 

Ketika di Bojonegoro, Arum pun banyak belajar mandir, karena memang tidak tinggal di rumah orang tua sendiri.

Bagi dia, Bojonegoro adalah kota yang mengajarkannya tentang makna hidup ini.

’’Bojonegoro mengajari saya menjadi sosok yang lebih tekun, mandiri dan optimis.

Dan juga Bojonegoro memberi pelajaran bagi saya pula tentang bagimana menjadi seseorang dengan daya juang tinggi,” tuturnya.

Tanpa harus peduli dengan orang-orang sekitar Arum yang pernah berusaha merendahkan

“Saya percaya tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini dan semua mimpi dapat menjadi kenyataan,” jelasnya.

Baca Juga :  Sebelumnya Dikirim ke Filipina, Kini Bersiap ke Jepang

Setelah lulus SMA, Arum pun dengan penuh kerendahan hatinya bisa lolos jalur bidik misi.

Dia berkuliah gratis di Universitas Trunojoyo Madura, bahkan memeroleh tunjangan Rp 650 ribu per bulan.

Tentu hal tersebut didapat dengan tekad yang sangat kuat. Berdasarkan cita-citanya ingin terjun di dunia pertanian, Arum pun memilih jurusan agroteknologi.

’’Saya lahir di desa yang dikelilingi oleh areal persawahan, sehingga saya ingin sekali berkonstribusi dalam dunia pertanian di kampung halaman saya,” pungkasnya.

KESEDERHANAAN yang terpancar dari tutur kata dan perilaku Arum Lailatul Fitri sangat kentara. Dara asal Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban, itu termasuk sosok yang kalem, namun tindak tanduknya sangat berpendirian. Menghabiskan waktu selama tiga tahun di Bojonegoro, membuat Arum belajar banyak hal.

’’Saya hijrah ke Bojonegoro saat SMA dan Bojonegoro bisa jadi merupakan rumah kedua saya,” tutur alumnus SMAN 2 Bojonegoro itu. 

Dia merasakan berbagai pengalaman selama sekolah di Bojonegoro. Kala itu, Arum tinggal numpang di rumah pamannya di Desa Sukorejo, Kota Bojonegoro.

Waktu SMA pun, dia hanya berbekal sepeda ontel atau terkadanga nebeng temannya.

Dia tidak merasakan minder atau malu. Dia nyaman dengan kesederhanaan itu, karena rasa syukurnya masih ada rezeki untuknya mampu bersekolah.

Baca Juga :  Ada E-KTP Pemilih Dibawa Timses?

Walaupun, dulu banyak yang merendahkan dia tidak bisa lolos di SMAN 2 Bojonegoro karena dari luar kota.

’’Tapi alhamdulillah, meski dari luar kota yang hanya diambil 20 persen, saya termasuk yang lolos,” jelasnya. 

Ketika di Bojonegoro, Arum pun banyak belajar mandir, karena memang tidak tinggal di rumah orang tua sendiri.

Bagi dia, Bojonegoro adalah kota yang mengajarkannya tentang makna hidup ini.

’’Bojonegoro mengajari saya menjadi sosok yang lebih tekun, mandiri dan optimis.

Dan juga Bojonegoro memberi pelajaran bagi saya pula tentang bagimana menjadi seseorang dengan daya juang tinggi,” tuturnya.

Tanpa harus peduli dengan orang-orang sekitar Arum yang pernah berusaha merendahkan

“Saya percaya tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini dan semua mimpi dapat menjadi kenyataan,” jelasnya.

Baca Juga :  Bayi 18 Bulan Tewas Tenggelam di Kali

Setelah lulus SMA, Arum pun dengan penuh kerendahan hatinya bisa lolos jalur bidik misi.

Dia berkuliah gratis di Universitas Trunojoyo Madura, bahkan memeroleh tunjangan Rp 650 ribu per bulan.

Tentu hal tersebut didapat dengan tekad yang sangat kuat. Berdasarkan cita-citanya ingin terjun di dunia pertanian, Arum pun memilih jurusan agroteknologi.

’’Saya lahir di desa yang dikelilingi oleh areal persawahan, sehingga saya ingin sekali berkonstribusi dalam dunia pertanian di kampung halaman saya,” pungkasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/