alexametrics
28.7 C
Bojonegoro
Monday, August 8, 2022

Hasil Bulan Timbang Belum Tuntas

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Hasil data operasi timbang serentak pada Agustus lalu, belum diketahui secara pasti. Padahal, operasi timbang serentak itu untuk mengetahui besaran angka stunting atau balita pendek di Bojonegoro.

Kepala Seksi Promosi Kesehatan Dinas Kesehatan (Dinkes) Imam Wahyudi mengatakan, hasil data operasi timbang serentak pada Agustus masih tahap validasi dan editing data. Secara program dilakukan dua kelompok cara mengurangi angka stunting.

Yakni intervensi spesifik dan intervensi sensitif. ’’Jadi program menurunkan angka stunting tetap pada dua kelompok tersebut dengan berbagai modifikasinya,’’ katanya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro kemarin (25/9).

Baca Juga :  Pungky Aji Sulistyo, Pelukis Blora dengan Media Daun Jati

Fenomena stunting menjadi tolok ukur kesehatan setiap daerah. Sebab, pada bulan timbang serentak Februari lalu Bojonegoro menduduki kurang lebih 30 persen dalam angka nasional. Sementara, jika di skala daerah 8,76 persen atau 6.941 balita stunting. Sementara, pada 2018 mencapai 7.050 balita stunting atau setara 9,23 persen.

Menurut Imam, selanjutnya dapat dilakukan intervensi lebih komprehensif dengan melibatkan berbagai pihak. Intervensi spesifik berupa asupan gizi optimal di 1.000 hari pertama kehidupan dan pemantauan tumbuh kembang hingga usia lima tahun.

Sedangkan, intervensi sensitif, menurut dia, berupa perbaikan sanitasi lingkungan, kemiskinan, perbaikan daya beli, atau ketahanan pangan keluarga yang menjadi tanggung jawab lintas sektor.

Baca Juga :  Poskestren Langitan Jadi Rujukan Kaji Banding

Disinggung lebih efektif mana? Imam mengatakan, kedua cara harus dilakukan. Sebab, jika asupan makanan baik, sedangkan lingkungan tidak memadai dapat menyebabkan stunting pada anak.

’’Jika sanitasi tidak bagus, anak bisa sering terkena diare. Akhirnya kurang gizi juga. Bila terjadi dalam waktu lama bisa menyebabkan stunting,’’ jelas dia.

Sebaliknya, jika intervensi sensitif baik namun keadaan berat badan lahir rendah (BBLR) kurang dari 2.500 gram akan membawa risiko. Sebab, anak dengan riwayat BBLR salah satu faktor potensial stunting. Memiliki risiko 5,87 kali mengalami stunting.

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Hasil data operasi timbang serentak pada Agustus lalu, belum diketahui secara pasti. Padahal, operasi timbang serentak itu untuk mengetahui besaran angka stunting atau balita pendek di Bojonegoro.

Kepala Seksi Promosi Kesehatan Dinas Kesehatan (Dinkes) Imam Wahyudi mengatakan, hasil data operasi timbang serentak pada Agustus masih tahap validasi dan editing data. Secara program dilakukan dua kelompok cara mengurangi angka stunting.

Yakni intervensi spesifik dan intervensi sensitif. ’’Jadi program menurunkan angka stunting tetap pada dua kelompok tersebut dengan berbagai modifikasinya,’’ katanya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro kemarin (25/9).

Baca Juga :  Ditangkap, setelah Belasan Kali Menjambret

Fenomena stunting menjadi tolok ukur kesehatan setiap daerah. Sebab, pada bulan timbang serentak Februari lalu Bojonegoro menduduki kurang lebih 30 persen dalam angka nasional. Sementara, jika di skala daerah 8,76 persen atau 6.941 balita stunting. Sementara, pada 2018 mencapai 7.050 balita stunting atau setara 9,23 persen.

Menurut Imam, selanjutnya dapat dilakukan intervensi lebih komprehensif dengan melibatkan berbagai pihak. Intervensi spesifik berupa asupan gizi optimal di 1.000 hari pertama kehidupan dan pemantauan tumbuh kembang hingga usia lima tahun.

Sedangkan, intervensi sensitif, menurut dia, berupa perbaikan sanitasi lingkungan, kemiskinan, perbaikan daya beli, atau ketahanan pangan keluarga yang menjadi tanggung jawab lintas sektor.

Baca Juga :  233 Kasus DB, Tiga Meninggal

Disinggung lebih efektif mana? Imam mengatakan, kedua cara harus dilakukan. Sebab, jika asupan makanan baik, sedangkan lingkungan tidak memadai dapat menyebabkan stunting pada anak.

’’Jika sanitasi tidak bagus, anak bisa sering terkena diare. Akhirnya kurang gizi juga. Bila terjadi dalam waktu lama bisa menyebabkan stunting,’’ jelas dia.

Sebaliknya, jika intervensi sensitif baik namun keadaan berat badan lahir rendah (BBLR) kurang dari 2.500 gram akan membawa risiko. Sebab, anak dengan riwayat BBLR salah satu faktor potensial stunting. Memiliki risiko 5,87 kali mengalami stunting.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/