alexametrics
24.4 C
Bojonegoro
Wednesday, August 17, 2022

Produksi Arak, Pelaku Ternyata Mantan Anggota Polisi

- Advertisement -

BOJONEGORO – Aparat kepolisian ingin memberikan efek jera bagi siapa pun yang berusaha meresahkan masyarakat dengan memproduksi barang haram berupa minuman keras (miras) jenis arak.

Sabtu (23/9) malam lalu, Satreskrim dan Satsabhara Polres Bojonegoro berhasil meringkus produsen arak, yaitu Suharjo, 57, warga Dusun Jomblong, Desa Sraturejo, Kecamatan Baureno.

Pelaku diamankan beserta beberapa barang bukti berupa alat-alat produksi arak dan 333 drum dengan jumlah toal 66.600 liter arak siap edar.

Usai diamankan, pelaku tidak dijerat Perda Nomor 15 Tahun  2015 tentang Penyelenggaraan Tramtib Umum, namun pasal berlapis. Yakni,  pasal 204 ayat (1) KUHP serta pasal 135 dan 137 UU Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan. 

Baca Juga :  Bantuan Air Bersih Dari PDAM, Diserbu Warga Dusun Kalirau

Kasatreskrim Polres Bojonegoro AKP Sujarwanto mengatakan, pelaku akan dijerat dengan hukuman yang sepantasnya bagi produsen arak.

- Advertisement -

Sebab, pelaku dianggap sangat meresahkan masyarakat. Alasan mengapa tidak menggunakan pasal 19 ayat 1 dan pasal 38 ayat 1 Perda Nomor 15 Tahun 2015, karena perda tersebut hanya diperuntukkan para pemain partai kecil.

”Perda tersebut tidak berlaku bagi pelaku yang memproduksi arak sebanyak itu (66.600 liter), jadi kami terapkan pasal berlapis,” terangnya.

Sementara itu, berdasarkan informasi yang dihimpun oleh Jawa Pos Radar Bojonegoro, pelaku di rumahnya mengelabui warga sekitar dengan menjalankan usaha perkayuan mebel dan elpiji.

Sehingga, gudang di belakang rumah milik Suharjo, menurut warga sekitar, bukan pabrik arak.

Baca Juga :  Pemeriksaan Balita di Zona Merah Diarahkan Janji Temu

Namun, karena aromanya tercium, warga pun melaporkan keresahan tersebut. Adapun informasi bahwa pelaku merupakan mantan anggota polisi.

Saat dikonfirmasi terkait mantan anggota polisi, kasatreskrim Polres Bojonegoro pun membenarkan informasi tersebut.

Namun, pelaku menjadi anggota polisi hanya delapan tahun, pada 1981 hingga 1989. ”Dia memang mantan anggota polisi, namun hanya sebentar pada 1981-1989,” terangnya. 

Terkait dulu ditugaskan di mana, lanjut dia, bukan menjadi substansi pihak Polres Bojonegoro dalam proses penyidikan perkaranya.

”Alasan diberhentikannya, pelaku mengaku berpoligami,” ujarnya.

Selengkapnya baca di Koran Jawa Pos Radar Bojonegoro hari ini…

BOJONEGORO – Aparat kepolisian ingin memberikan efek jera bagi siapa pun yang berusaha meresahkan masyarakat dengan memproduksi barang haram berupa minuman keras (miras) jenis arak.

Sabtu (23/9) malam lalu, Satreskrim dan Satsabhara Polres Bojonegoro berhasil meringkus produsen arak, yaitu Suharjo, 57, warga Dusun Jomblong, Desa Sraturejo, Kecamatan Baureno.

Pelaku diamankan beserta beberapa barang bukti berupa alat-alat produksi arak dan 333 drum dengan jumlah toal 66.600 liter arak siap edar.

Usai diamankan, pelaku tidak dijerat Perda Nomor 15 Tahun  2015 tentang Penyelenggaraan Tramtib Umum, namun pasal berlapis. Yakni,  pasal 204 ayat (1) KUHP serta pasal 135 dan 137 UU Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan. 

Baca Juga :  Fenomena Usai Lebaran, Antre Kartu Kuning

Kasatreskrim Polres Bojonegoro AKP Sujarwanto mengatakan, pelaku akan dijerat dengan hukuman yang sepantasnya bagi produsen arak.

- Advertisement -

Sebab, pelaku dianggap sangat meresahkan masyarakat. Alasan mengapa tidak menggunakan pasal 19 ayat 1 dan pasal 38 ayat 1 Perda Nomor 15 Tahun 2015, karena perda tersebut hanya diperuntukkan para pemain partai kecil.

”Perda tersebut tidak berlaku bagi pelaku yang memproduksi arak sebanyak itu (66.600 liter), jadi kami terapkan pasal berlapis,” terangnya.

Sementara itu, berdasarkan informasi yang dihimpun oleh Jawa Pos Radar Bojonegoro, pelaku di rumahnya mengelabui warga sekitar dengan menjalankan usaha perkayuan mebel dan elpiji.

Sehingga, gudang di belakang rumah milik Suharjo, menurut warga sekitar, bukan pabrik arak.

Baca Juga :  Bantuan Air Bersih Dari PDAM, Diserbu Warga Dusun Kalirau

Namun, karena aromanya tercium, warga pun melaporkan keresahan tersebut. Adapun informasi bahwa pelaku merupakan mantan anggota polisi.

Saat dikonfirmasi terkait mantan anggota polisi, kasatreskrim Polres Bojonegoro pun membenarkan informasi tersebut.

Namun, pelaku menjadi anggota polisi hanya delapan tahun, pada 1981 hingga 1989. ”Dia memang mantan anggota polisi, namun hanya sebentar pada 1981-1989,” terangnya. 

Terkait dulu ditugaskan di mana, lanjut dia, bukan menjadi substansi pihak Polres Bojonegoro dalam proses penyidikan perkaranya.

”Alasan diberhentikannya, pelaku mengaku berpoligami,” ujarnya.

Selengkapnya baca di Koran Jawa Pos Radar Bojonegoro hari ini…

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/