alexametrics
29.7 C
Bojonegoro
Friday, August 12, 2022

Melihat Anak-Anak Menarik Layang-Layang Naga Sepanjang 100 Meter

Radar Bojonegoro – Akhir-akhir ini lagi musim layang-layang. Seperti di Desa Tanjungharjo, Kecamatan Kapas, anak-anak dan sejumlah pemuda setiap sore bermain layanglayang. Permainan ini sekaligus mengajarkan ilmu tentang angin.

Galih begitu cekatan memegang tampar. Erat sekali. Tak boleh lepas karena layang-layang hias itu begitu berat. Tak sendirian. Galih dibantu lima teman sebayanya. Saking beratnya menarik layang-layang hingga berjalan mundur, bahkan sampai terpeleset dan jatuh. Sakit? Oh, ternyata tidak. Justru Galih tertawa. Begitu pun temantemannya ikut terbahak. Gelak tawa itulah sebagai spirit anak-anak Desa Tanjungharjo, Kecamatan Kapas, bermain layang-layang. Selain berat, memang tak mudah bermain layang-layang ini karena ukurannya panjang. Hampir 100 meter.

Layang-layangnya unik. Layanglayang naga. Mereka menyebut layangan leang-leong. Bentuknya menyerupai ular naga. Atau menyerupai leang-leong yang biasa berpasangan dengan barongsai. Aktivitas Minggu sore (23/8) itu cukup menghibur masyarakat Desa Tanjungharjo, di tengah pandemi global.

Baca Juga :  Pendaftaran Cakades di Bojonegoro Bulan Depan

Karena ada layang-layang mirip ular naga dengan panjang lebih dari 100 meter. Proses memainkan layang-layang cukup menantang. ‘’Panjangnya ini kalau 100 meter lebih,’’ kata Galih pemilik layang-layang naga ditemui di pematang sawah. Layaknya pilot, Galih dan kawan-kawannya harus bisa menerbangkan layang-layang seperti pesawat.

Layaknya pesawat take off atau terbang landas, tentu layang-layang harus bisa mengudara. Sebaliknya, gagal mengendalikan layang-layang naga terbang tentu bisa nyantol ke pepohonan. Karena itu bermain layang-layang ini sekaligus memahami karakter angin.

Nah, sore itu Galih cukup cekatan memainkan layang-layang. Begitu memahami mata arah angin, Galih mampu menarik tampar dan layang-layang naga itu lenggak-lenggok di awan. Tampak seperti ular di udara dengan kertas warna-warni. Galih tak bisa sendirian menerbangkan layang-layang dengan kepala naga ini. Harus ada rekan memegang layang-layang mulai dari kepala, badan, hingga ekor.

Baca Juga :  Desa Besur Dongkrak Perekonomian Masyarakat di Segala Aspek

‘’Menerbangkan hanya sore,’’ ujar siswa tinggal di Dusun Tandingoro, Desa Tanjungharjo itu. Tak hanya proses menerbangkan di udara, Galih memastikan pembuatannya juga butuh proses cukup panjang. Dari panjang layang-layang sekitar 100 meter, jika ditotal butuh waktu sekitar 20 hari. Mulai dari mencari bahan baku sampai merangkainya. Dibuat sendiri bersama teman-temannya.

Galih menambahkan, layang-layang naga ini gabungan dari beberapa karakter. Bagian depan kepala naga, sirip berikutnya layang-layang berbentuk lingkaran. Disambung sampai ke ekor. Untuk ukurannya dari kepala ke bagan ekor mengerucut.

Semakin ke arah ekor, ukurannya semakin kecil. Menyusun rangkaian itu butuh ketelitian. Jaraknya harus sama. Sedangkan, bahan bakunya sama dengan layang-layang pada umumnya. Yaitu bambu, kertas, lem, dan tampar. Talinya tampar karena agar kuat menahan layang-layang mengudara.

Radar Bojonegoro – Akhir-akhir ini lagi musim layang-layang. Seperti di Desa Tanjungharjo, Kecamatan Kapas, anak-anak dan sejumlah pemuda setiap sore bermain layanglayang. Permainan ini sekaligus mengajarkan ilmu tentang angin.

Galih begitu cekatan memegang tampar. Erat sekali. Tak boleh lepas karena layang-layang hias itu begitu berat. Tak sendirian. Galih dibantu lima teman sebayanya. Saking beratnya menarik layang-layang hingga berjalan mundur, bahkan sampai terpeleset dan jatuh. Sakit? Oh, ternyata tidak. Justru Galih tertawa. Begitu pun temantemannya ikut terbahak. Gelak tawa itulah sebagai spirit anak-anak Desa Tanjungharjo, Kecamatan Kapas, bermain layang-layang. Selain berat, memang tak mudah bermain layang-layang ini karena ukurannya panjang. Hampir 100 meter.

Layang-layangnya unik. Layanglayang naga. Mereka menyebut layangan leang-leong. Bentuknya menyerupai ular naga. Atau menyerupai leang-leong yang biasa berpasangan dengan barongsai. Aktivitas Minggu sore (23/8) itu cukup menghibur masyarakat Desa Tanjungharjo, di tengah pandemi global.

Baca Juga :  Kontraktor Galau, Pajak Pasir Naik 10 Kali Lipat

Karena ada layang-layang mirip ular naga dengan panjang lebih dari 100 meter. Proses memainkan layang-layang cukup menantang. ‘’Panjangnya ini kalau 100 meter lebih,’’ kata Galih pemilik layang-layang naga ditemui di pematang sawah. Layaknya pilot, Galih dan kawan-kawannya harus bisa menerbangkan layang-layang seperti pesawat.

Layaknya pesawat take off atau terbang landas, tentu layang-layang harus bisa mengudara. Sebaliknya, gagal mengendalikan layang-layang naga terbang tentu bisa nyantol ke pepohonan. Karena itu bermain layang-layang ini sekaligus memahami karakter angin.

Nah, sore itu Galih cukup cekatan memainkan layang-layang. Begitu memahami mata arah angin, Galih mampu menarik tampar dan layang-layang naga itu lenggak-lenggok di awan. Tampak seperti ular di udara dengan kertas warna-warni. Galih tak bisa sendirian menerbangkan layang-layang dengan kepala naga ini. Harus ada rekan memegang layang-layang mulai dari kepala, badan, hingga ekor.

Baca Juga :  Mendekatkan Setiap Rupiah APBD Untuk Publik

‘’Menerbangkan hanya sore,’’ ujar siswa tinggal di Dusun Tandingoro, Desa Tanjungharjo itu. Tak hanya proses menerbangkan di udara, Galih memastikan pembuatannya juga butuh proses cukup panjang. Dari panjang layang-layang sekitar 100 meter, jika ditotal butuh waktu sekitar 20 hari. Mulai dari mencari bahan baku sampai merangkainya. Dibuat sendiri bersama teman-temannya.

Galih menambahkan, layang-layang naga ini gabungan dari beberapa karakter. Bagian depan kepala naga, sirip berikutnya layang-layang berbentuk lingkaran. Disambung sampai ke ekor. Untuk ukurannya dari kepala ke bagan ekor mengerucut.

Semakin ke arah ekor, ukurannya semakin kecil. Menyusun rangkaian itu butuh ketelitian. Jaraknya harus sama. Sedangkan, bahan bakunya sama dengan layang-layang pada umumnya. Yaitu bambu, kertas, lem, dan tampar. Talinya tampar karena agar kuat menahan layang-layang mengudara.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/