alexametrics
30.9 C
Bojonegoro
Sunday, May 29, 2022

Radar Bojonegoro, 22 Tahun Perjalanan Koran Warisan Budaya

Radar Bojonegoro – Usia 22 tahun tentu sudah tua, untuk usia sebuah media di Bojonegoro. Usia yang tentu sudah merasakan lika-liku mengawal isu dan informasi menjadi sebuah berita. Rasanya, gado-gado, heeemm. Begitulah yang dirasakan teman-teman di ruang redaksi hingga setiap hari harus menyajikan sebuah koran untuk terbit.

Usia 22 tahun tentu masuk kategori remaja. Nah, ini mungkin hampir nyerempet teman-teman Radar Bojonegoro. Meski koran terlama di Bojonegoro, ternyata hampir 80 persen, tim redaksi berkantor di Bojonegoro, Lamongan, Tuban, dan Blora, memang anak-anak muda. Apalagi tim tata letak, desain grafis, hingga content creator yang menangani Radar Bojonegoro digital, semuanya anak muda.

Cobalah sekali-kali, ketika malam bermain di ruang redaksi, pasti akan melihat anak-anak muda utak-atik komputer. Hehehee. Estafet membuat produk media cetak tak pernah berhenti. Setiap hari, Radar Bojonegoro (Jawa Pos Group), selalu terbit hanya untuk pembaca. Libur, hanya dua hari, yakni ketika Lebaran. Itu saja. Selebihnya, kami selalu hadir untuk menemani pembaca setiap pagi. Keren kan!

Saat ini, Radar Bojonegoro mungkin media yang tertua. Tapi, bukan yang pertama, lho. Ada banyak koran terbit di era kolonialisme. Atau di masa penjajahan, banyak koran terbit di Karesidenan Bojonegoro, mencakup Tuban, Lamongan. Serta satu Blora, yang ikut Jawa Tengah.

Tim redaksi Jawa Pos Radar Bojonegoro, suatu hari pernah berkunjung ke seorang pemuda kolektor dokumen-dokumen lawas. Nah, dari situ, kami menemukan koran paling berkesan di era sebelum kemerdekaan. Warta Bodjonegoro Syuu. Koran mingguan dari anak perusahaan dari koran Soeara Asia milik Pemerintahan Jepang di Surabaya. Kolektor itu memiliki tiga edisi koran Warta Bodjonegoro Syuu, antara lain edisi 18 November 1944, edisi 7 April 1945, dan edisi 19 Mei 1945. Korannya berbahasa Jawa. Terbit setiap Sabtu dan alamat wakil redaksinya di Bojonegoro yaitu di Desa Kauman.

Baca Juga :  Kabar Baik! Beasiswa Mahasiswa Bojonegoro Bakal Dialokasikan 4 Miliar

Istilah Syuu pada nama korannya memiliki arti yakni karesidenan. Sementara, koran tersebut menginformasikan dan beredar di wilayah Karesidenan Bodjonegoro. Meliputi Bojonegoro, Tuban, dan Lamongan. Pada halaman depan koran tersebut berisi informasi skala nasional. Indikasi itu setelah kolektor bernama Aziz Atias Deli, itu menyamakan halaman depan koran Warta Bodjonegoro Syuu dengan Warta Malang Syuu. Namun pada halaman keduanya full berisi informasi tentang masing-masing karesidenan.

Isi informasi dalam koran tersebut sebut saja seperti menyuarakan isu serta semangat kemerdekaan, perang gerilya, faedah menggunakan tombak bambu, pertanian tembakau, kayu jati dan lain sebagainya. Hanya, koran Warta Bodjonegoro Syuu hanya terbit selama setahun. Mulai dari sekitar 1944 sampai terakhir Agustus 1945. Usai Pemerintahan Jepang kalah dan pergi dari Indonesia.

Nah, betapa terkesimanya, bila menemukan koran edisi 17 Agustus 1945 yang berisi kejadian-kejadian kemerdekaan di Bojonegoro. Sambil minum segelas air putih hehehe, tentu tidak ada hubungannya koran Warta Bodjonegoro Syuu dengan Radar Bojonegoro. Koran yang terbit di masa berbeda.

Baca Juga :  Lubang Hiasi Jalan NasionalĀ 

Warta Bodjonegoro Syuu merupakan perusahaan dari koran Soeara Asia. Sedangkan, Radar Bojonegoro terbit awal pada 1999 ini merupakan anak perusahaan dari Jawa Pos. Namun, ada semangat yang sama hingga saat ini koran masih terjaga. Estafet media cetak terus terjaga di tengah terbukanya keran media digital. Ada kebanggaan media cetak karena memiliki pembaca yang jelas.

Ribuan pelanggan setiap pagi masih menanti kabar dari Radar Bojonegoro. Ada karakter kuat, dengan konten berita-berita yang mendalam. Serta grafis-grafis yang memukau dipadu foto-foto dari fotografer yang saban hari keliling. Apapun zamannya, koran tetap hadir bersama dengan beragam media. Zaman serba digital ini, koran Radar Bojonegoro tetap hadir menemani masyarakat.

Terbit dengan kekhasan sendiri, meski Radar Bojonegoro juga memiliki kanal digital. Mulai website, YouTube, hingga beragam media sosial. Pandemi ini mengajarkan kita untuk selalu teguh dan percaya diri bahwa koran tetap terbit melintas zaman. Mengacu sejarah tadi, tentu koran ini sebuah warisan budaya yang selalu dijaga.

Terima kasih pelanggan setia Radar Bojonegoro, yang selalu menanti koran setiap pagi tiba. Terima kasih kepada semua perusahaan, stakeholder, dan masyarakat, dan pembaca, yang selalu menanti kabar dari koran yang kantor pusatnya di Jalan Ahmad Yani, Bojonegoro ini.

Radar Bojonegoro – Usia 22 tahun tentu sudah tua, untuk usia sebuah media di Bojonegoro. Usia yang tentu sudah merasakan lika-liku mengawal isu dan informasi menjadi sebuah berita. Rasanya, gado-gado, heeemm. Begitulah yang dirasakan teman-teman di ruang redaksi hingga setiap hari harus menyajikan sebuah koran untuk terbit.

Usia 22 tahun tentu masuk kategori remaja. Nah, ini mungkin hampir nyerempet teman-teman Radar Bojonegoro. Meski koran terlama di Bojonegoro, ternyata hampir 80 persen, tim redaksi berkantor di Bojonegoro, Lamongan, Tuban, dan Blora, memang anak-anak muda. Apalagi tim tata letak, desain grafis, hingga content creator yang menangani Radar Bojonegoro digital, semuanya anak muda.

Cobalah sekali-kali, ketika malam bermain di ruang redaksi, pasti akan melihat anak-anak muda utak-atik komputer. Hehehee. Estafet membuat produk media cetak tak pernah berhenti. Setiap hari, Radar Bojonegoro (Jawa Pos Group), selalu terbit hanya untuk pembaca. Libur, hanya dua hari, yakni ketika Lebaran. Itu saja. Selebihnya, kami selalu hadir untuk menemani pembaca setiap pagi. Keren kan!

Saat ini, Radar Bojonegoro mungkin media yang tertua. Tapi, bukan yang pertama, lho. Ada banyak koran terbit di era kolonialisme. Atau di masa penjajahan, banyak koran terbit di Karesidenan Bojonegoro, mencakup Tuban, Lamongan. Serta satu Blora, yang ikut Jawa Tengah.

Tim redaksi Jawa Pos Radar Bojonegoro, suatu hari pernah berkunjung ke seorang pemuda kolektor dokumen-dokumen lawas. Nah, dari situ, kami menemukan koran paling berkesan di era sebelum kemerdekaan. Warta Bodjonegoro Syuu. Koran mingguan dari anak perusahaan dari koran Soeara Asia milik Pemerintahan Jepang di Surabaya. Kolektor itu memiliki tiga edisi koran Warta Bodjonegoro Syuu, antara lain edisi 18 November 1944, edisi 7 April 1945, dan edisi 19 Mei 1945. Korannya berbahasa Jawa. Terbit setiap Sabtu dan alamat wakil redaksinya di Bojonegoro yaitu di Desa Kauman.

Baca Juga :  Pencetakan Surat Suara Pilbup Molor

Istilah Syuu pada nama korannya memiliki arti yakni karesidenan. Sementara, koran tersebut menginformasikan dan beredar di wilayah Karesidenan Bodjonegoro. Meliputi Bojonegoro, Tuban, dan Lamongan. Pada halaman depan koran tersebut berisi informasi skala nasional. Indikasi itu setelah kolektor bernama Aziz Atias Deli, itu menyamakan halaman depan koran Warta Bodjonegoro Syuu dengan Warta Malang Syuu. Namun pada halaman keduanya full berisi informasi tentang masing-masing karesidenan.

Isi informasi dalam koran tersebut sebut saja seperti menyuarakan isu serta semangat kemerdekaan, perang gerilya, faedah menggunakan tombak bambu, pertanian tembakau, kayu jati dan lain sebagainya. Hanya, koran Warta Bodjonegoro Syuu hanya terbit selama setahun. Mulai dari sekitar 1944 sampai terakhir Agustus 1945. Usai Pemerintahan Jepang kalah dan pergi dari Indonesia.

Nah, betapa terkesimanya, bila menemukan koran edisi 17 Agustus 1945 yang berisi kejadian-kejadian kemerdekaan di Bojonegoro. Sambil minum segelas air putih hehehe, tentu tidak ada hubungannya koran Warta Bodjonegoro Syuu dengan Radar Bojonegoro. Koran yang terbit di masa berbeda.

Baca Juga :  Absen, Khabib Syukron dan Furqon Akumulasi KartuĀ 

Warta Bodjonegoro Syuu merupakan perusahaan dari koran Soeara Asia. Sedangkan, Radar Bojonegoro terbit awal pada 1999 ini merupakan anak perusahaan dari Jawa Pos. Namun, ada semangat yang sama hingga saat ini koran masih terjaga. Estafet media cetak terus terjaga di tengah terbukanya keran media digital. Ada kebanggaan media cetak karena memiliki pembaca yang jelas.

Ribuan pelanggan setiap pagi masih menanti kabar dari Radar Bojonegoro. Ada karakter kuat, dengan konten berita-berita yang mendalam. Serta grafis-grafis yang memukau dipadu foto-foto dari fotografer yang saban hari keliling. Apapun zamannya, koran tetap hadir bersama dengan beragam media. Zaman serba digital ini, koran Radar Bojonegoro tetap hadir menemani masyarakat.

Terbit dengan kekhasan sendiri, meski Radar Bojonegoro juga memiliki kanal digital. Mulai website, YouTube, hingga beragam media sosial. Pandemi ini mengajarkan kita untuk selalu teguh dan percaya diri bahwa koran tetap terbit melintas zaman. Mengacu sejarah tadi, tentu koran ini sebuah warisan budaya yang selalu dijaga.

Terima kasih pelanggan setia Radar Bojonegoro, yang selalu menanti koran setiap pagi tiba. Terima kasih kepada semua perusahaan, stakeholder, dan masyarakat, dan pembaca, yang selalu menanti kabar dari koran yang kantor pusatnya di Jalan Ahmad Yani, Bojonegoro ini.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/