alexametrics
30.3 C
Bojonegoro
Wednesday, May 18, 2022

Dampak PPKM, Hanya Tersisa 2 Pedagang Ikan di Pasar Bojonegoro

Radar Bojonegoro – Lapak pedagang ikan segar di pasar Bojonegoro tampak sepi. Dari 14 lapak yang tersedia, hanya tersisa dua pedagang ikan yang berjualan. Omzet penjualan ikan juga menyusut drastis karena kebijakan PPKM, kondisi tersebut sudah terjadi sejak awal pandemi.

Sumiyati, salah satu pedagang ikan di pasar Bojonegoro menjelaskan, pedagang ikan yang membuka lapak berkurang sejak setahun lalu. Dari 14 lapak yang disediakan hanya tersisa dua pedagang yang masih berjualan.

“Sudah berkurang mas, hanya saya dengan bu Waining. Sebelum pandemi tahun lalu masih lumayan, saaat ini mungkin banyak yang pindah di luar pasar berganti jualan malam hari,” ujar sumiyati saat ditemui dilapaknya kemarin (25/7).

Baca Juga :  Borong Enam Prestasi Gemilang

Menurut sumiyati, kebijakan PPKM berdampak pada sepinya pembeli, sehingga pedagang tidak lagi berminat menempati lapak. Ada pula pedagang yang merubah waktu dagangnya, dengan berjualan saat malam hari dan menjelang subuh.

Sumiyati mengaku selama diterapkannya PPKM, pendapatannya menurun drastis, paling banyak hanya bisa menjual 2 kilogram, biasanya satu macam ikan ia mampu menjual 5 sampai 10 kilogram. Ikan yang tidak terjual biasanya dimakan sendiri.

“Saya taruh ikan di kulkas dan membeli es batu agar ikan tetap bisa bertahan lebih lama,” ujar perempuan yang sudah berjualan selama 30 tahun itu. Kondisi tersebut juga dibenarkan Waining, yang juga berdagang ikan di Pasar Kota, menurutnya pendapatan yang berkurang menyebabkan pedagang meninggalkan lapak. Sedangkan penjualan selama kebijakan PPKM hanya bisa menjual 5 kilogram, sebelumnya mampu menjual 10 kilogram satu jenis ikan selama satu hari.

Baca Juga :  Terkandung Zat Aktif untuk Lawan Kanker

“Gimana lagi mau pindah juga sudah menetap lama di sini,” ungkapnya. Pedagang asal Desa Baureno tersebut menjelaskan saat PPKM lapaknya tutup pada pukul 13.00 WIB, lebih awal dibandingkan sebelum kebijakan berlangsung. Ia khawatir jika kondisi terus berlangsung penjual akan gulung tikar. “Berpengaruh besar, kalau dulu sampai sore baru tutup,” tuturnya. (luk) 

Radar Bojonegoro – Lapak pedagang ikan segar di pasar Bojonegoro tampak sepi. Dari 14 lapak yang tersedia, hanya tersisa dua pedagang ikan yang berjualan. Omzet penjualan ikan juga menyusut drastis karena kebijakan PPKM, kondisi tersebut sudah terjadi sejak awal pandemi.

Sumiyati, salah satu pedagang ikan di pasar Bojonegoro menjelaskan, pedagang ikan yang membuka lapak berkurang sejak setahun lalu. Dari 14 lapak yang disediakan hanya tersisa dua pedagang yang masih berjualan.

“Sudah berkurang mas, hanya saya dengan bu Waining. Sebelum pandemi tahun lalu masih lumayan, saaat ini mungkin banyak yang pindah di luar pasar berganti jualan malam hari,” ujar sumiyati saat ditemui dilapaknya kemarin (25/7).

Baca Juga :  1.983 Hektare Sawah di Kanor dan Baureno Terendam Banjir

Menurut sumiyati, kebijakan PPKM berdampak pada sepinya pembeli, sehingga pedagang tidak lagi berminat menempati lapak. Ada pula pedagang yang merubah waktu dagangnya, dengan berjualan saat malam hari dan menjelang subuh.

Sumiyati mengaku selama diterapkannya PPKM, pendapatannya menurun drastis, paling banyak hanya bisa menjual 2 kilogram, biasanya satu macam ikan ia mampu menjual 5 sampai 10 kilogram. Ikan yang tidak terjual biasanya dimakan sendiri.

“Saya taruh ikan di kulkas dan membeli es batu agar ikan tetap bisa bertahan lebih lama,” ujar perempuan yang sudah berjualan selama 30 tahun itu. Kondisi tersebut juga dibenarkan Waining, yang juga berdagang ikan di Pasar Kota, menurutnya pendapatan yang berkurang menyebabkan pedagang meninggalkan lapak. Sedangkan penjualan selama kebijakan PPKM hanya bisa menjual 5 kilogram, sebelumnya mampu menjual 10 kilogram satu jenis ikan selama satu hari.

Baca Juga :  Borong Enam Prestasi Gemilang

“Gimana lagi mau pindah juga sudah menetap lama di sini,” ungkapnya. Pedagang asal Desa Baureno tersebut menjelaskan saat PPKM lapaknya tutup pada pukul 13.00 WIB, lebih awal dibandingkan sebelum kebijakan berlangsung. Ia khawatir jika kondisi terus berlangsung penjual akan gulung tikar. “Berpengaruh besar, kalau dulu sampai sore baru tutup,” tuturnya. (luk) 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/