alexametrics
29.7 C
Bojonegoro
Friday, August 12, 2022

Lamongan ‘Darurat’ Sampah

KOTA –  Penanganan sampah di Lamongan mendapat sorotan dari sejumlah pihak. Sebab pengangkutan sampah lambat dan semakin marak timbunan sampah liar di berbagai wilayah Kota Soto tersebut. Misalnya, di tepi jalan raya Pucuk-Sekaran. Terlihat tumpukan sampah yang cukup banyak dalam radius cukup panjang. ‘’Bau busuknya cukup menyengat. Hampir setiap hari warga membakarnya,’’ kata seorang warga Desa/Kecamatan Pucuk, Purnomo senin (25/6).

Menurut dia, meski sudah diberi tulisan larangan buang sampah, sekaligus pembatas berupa anyaman bambu di lokasi pembuangan sampah liar sepanjang 20 meter (m), tetap saja ada yang membuang sampah di sebelah utaranya. Sehingga lokasi pembuangan sampah liar itu semakin panjang. ‘’Setiap sore hingga dini hari kerap ditemukan warga dari luar desa yang membuang sampah di tepi jalan tersebut. Namun warga tidak berani melarangnya karena lahan itu bukan milik warga setempat, melainkan milik warga luar kota,’’ ungkapnya.

Baca Juga :  Alat Kesehatan Banyak Dicari  

Menurut pantauan wartawan koran ini, tumpukan sampah juga terlihat di tepi jalan Lamongan-Tikung, tepatnya sebelah timur waduk Joto dan berbagai jalan poros lainnya. Selain itu tempat pembuangan sampah sementara (TPS) di luar kota juga terlihat sudah penuh sampah, tapi tak kunjung diambil.

Masalah sampah tersebut mendapat perhatian serius Komisi B DPRD Lamongan.  ‘’Jumlah TPS terbatas dan lokasinya kurang jelas sehingga warga terpaksa membuang sampah sembarangan,’’ kata Ketua Komisi B DPRD Lamongan, Saifudin Zuhri.

Selain itu, lanjut dia, pengambilan sampah di TPS juga semakin lambat saat ini, sehingga mengganggu kenyamanan warga akibat polusi udara dari bau sampah. ‘’Sekarang pertanyaannya, dulu sampah bisa ditangani lebih baik. Tapi sekarang kok tidak. Ini pertanyaan yang harus dipertajam,’’ tandasnya.

Baca Juga :  Pentingnya Melatih Displin

Politikus asal Kecamatan Pucuk itu mewanti-wanti, persoalan sampah harus ditangani dengan serius. Karena Lamongan setiap tahun mendapat penghargaan Adipura yang harus dipertahankan. ‘’Tentu pengelolaannya harus semakin baik, bukan malah sebaliknya,’’ tegasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Lamongan, Fahrudin Ali Fikri melalui Kabid Persampahan dan Limbah B3, Puji Nawatiningsih belum bisa dikonfirmasi. Saat ponselnya dihubungi, sedang tidak aktif.  Pesan singkat yang dikirim juga belum dibalas hingga berita ini diturunkan

KOTA –  Penanganan sampah di Lamongan mendapat sorotan dari sejumlah pihak. Sebab pengangkutan sampah lambat dan semakin marak timbunan sampah liar di berbagai wilayah Kota Soto tersebut. Misalnya, di tepi jalan raya Pucuk-Sekaran. Terlihat tumpukan sampah yang cukup banyak dalam radius cukup panjang. ‘’Bau busuknya cukup menyengat. Hampir setiap hari warga membakarnya,’’ kata seorang warga Desa/Kecamatan Pucuk, Purnomo senin (25/6).

Menurut dia, meski sudah diberi tulisan larangan buang sampah, sekaligus pembatas berupa anyaman bambu di lokasi pembuangan sampah liar sepanjang 20 meter (m), tetap saja ada yang membuang sampah di sebelah utaranya. Sehingga lokasi pembuangan sampah liar itu semakin panjang. ‘’Setiap sore hingga dini hari kerap ditemukan warga dari luar desa yang membuang sampah di tepi jalan tersebut. Namun warga tidak berani melarangnya karena lahan itu bukan milik warga setempat, melainkan milik warga luar kota,’’ ungkapnya.

Baca Juga :  DPRD Setujui Raperda APBD 2020

Menurut pantauan wartawan koran ini, tumpukan sampah juga terlihat di tepi jalan Lamongan-Tikung, tepatnya sebelah timur waduk Joto dan berbagai jalan poros lainnya. Selain itu tempat pembuangan sampah sementara (TPS) di luar kota juga terlihat sudah penuh sampah, tapi tak kunjung diambil.

Masalah sampah tersebut mendapat perhatian serius Komisi B DPRD Lamongan.  ‘’Jumlah TPS terbatas dan lokasinya kurang jelas sehingga warga terpaksa membuang sampah sembarangan,’’ kata Ketua Komisi B DPRD Lamongan, Saifudin Zuhri.

Selain itu, lanjut dia, pengambilan sampah di TPS juga semakin lambat saat ini, sehingga mengganggu kenyamanan warga akibat polusi udara dari bau sampah. ‘’Sekarang pertanyaannya, dulu sampah bisa ditangani lebih baik. Tapi sekarang kok tidak. Ini pertanyaan yang harus dipertajam,’’ tandasnya.

Baca Juga :  Kemenag Belum Putuskan Izin Madrasah Gelar Tatap Muka

Politikus asal Kecamatan Pucuk itu mewanti-wanti, persoalan sampah harus ditangani dengan serius. Karena Lamongan setiap tahun mendapat penghargaan Adipura yang harus dipertahankan. ‘’Tentu pengelolaannya harus semakin baik, bukan malah sebaliknya,’’ tegasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Lamongan, Fahrudin Ali Fikri melalui Kabid Persampahan dan Limbah B3, Puji Nawatiningsih belum bisa dikonfirmasi. Saat ponselnya dihubungi, sedang tidak aktif.  Pesan singkat yang dikirim juga belum dibalas hingga berita ini diturunkan

Artikel Terkait

Most Read

Sugeng dan Anam Mengaku Tak Kenal HR

Kontribusi Winger belum Maksimal

Nyaris Batal Berangkat karena Ortu Khawatir

Artikel Terbaru


/