alexametrics
29.4 C
Bojonegoro
Saturday, June 25, 2022

Kebisingan Kota Lampaui Batas

KOTA – Bojonegoro memantapkan diri menjadi kota bising. Sebab, kian hari jumlah kendaraan melintas di Kota Ledre kian banyak. Data dari dinas lingkungan hidup (DLH) menyatakan jika kebisingan kota saat siang sudah melampaui ambang batas. Fakta itu bisa menimbulkan banyak dampak negatif, salah satunya gangguan kenyamanan. “Penyebabnya jelas knalpot kendaraan. Sebab di kawasan kota tidak ada industri,” kata Kasi Pengendalian Lingkungan Hidup DLH Nur Rahmawati rabu (25/4).

Nur menjelaskan, angka kebisingan di kawasan perkotaan sudah melampaui baku mutu. Dari standar baku mutu sebesar 70 desibel, ketika siang, kawasan perkotaan sudah mencapai 81,6 desibel. Lokasi pengukuran diambil di kawasan Tugu Adipura pada jam-jam sibuk. Pengukuran itu diambil pada akhir 2017 lalu. Untuk saat ini, kata dia, tentu kebisingannya meningkat.

Baca Juga :  Tingkat Kebisingan Lampaui Ambang Batas

Hanya, hasil pengukuran terbaru masih belum keluar. Jika kebisingan terjadi melebihi 8 jam sehari, bisa berdampak gangguan pendengaran. Hanya, pengukuran pihaknya lakukan berlangsung hanya 1 jam. Kepala DLH Nurul Azizah mengatakan, tingginya kebisingan murni tingginya tingkat konsumsi masyarakat pada kendaraan bermotor. Jika dulu satu rumah hanya satu motor, saat ini bisa lebih dua motor.

Tingginya tingkat konsumsi kendaraan memang berpengaruh. Tapi, itu diperparah longgarnya aturan penggunaan knalpot. Sebab, hingga saat ini penggunaan knalpot bersuara nyaring masih kerap melintas di kota. Data diperoleh Dinas Perhubungan (Dishub) Bojonegoro, jumlah kendaraan roda dua pada 3 tahun terakhir mengalami peningkatan. Pada 2015 terdapat 375 ribu, pada 2016 ada 407 ribu, dan 431 ribu pada 2017.

Baca Juga :  Supi Sisa Menjalani Penjara 2,2 Tahun 

KOTA – Bojonegoro memantapkan diri menjadi kota bising. Sebab, kian hari jumlah kendaraan melintas di Kota Ledre kian banyak. Data dari dinas lingkungan hidup (DLH) menyatakan jika kebisingan kota saat siang sudah melampaui ambang batas. Fakta itu bisa menimbulkan banyak dampak negatif, salah satunya gangguan kenyamanan. “Penyebabnya jelas knalpot kendaraan. Sebab di kawasan kota tidak ada industri,” kata Kasi Pengendalian Lingkungan Hidup DLH Nur Rahmawati rabu (25/4).

Nur menjelaskan, angka kebisingan di kawasan perkotaan sudah melampaui baku mutu. Dari standar baku mutu sebesar 70 desibel, ketika siang, kawasan perkotaan sudah mencapai 81,6 desibel. Lokasi pengukuran diambil di kawasan Tugu Adipura pada jam-jam sibuk. Pengukuran itu diambil pada akhir 2017 lalu. Untuk saat ini, kata dia, tentu kebisingannya meningkat.

Baca Juga :  Supi Sisa Menjalani Penjara 2,2 Tahun 

Hanya, hasil pengukuran terbaru masih belum keluar. Jika kebisingan terjadi melebihi 8 jam sehari, bisa berdampak gangguan pendengaran. Hanya, pengukuran pihaknya lakukan berlangsung hanya 1 jam. Kepala DLH Nurul Azizah mengatakan, tingginya kebisingan murni tingginya tingkat konsumsi masyarakat pada kendaraan bermotor. Jika dulu satu rumah hanya satu motor, saat ini bisa lebih dua motor.

Tingginya tingkat konsumsi kendaraan memang berpengaruh. Tapi, itu diperparah longgarnya aturan penggunaan knalpot. Sebab, hingga saat ini penggunaan knalpot bersuara nyaring masih kerap melintas di kota. Data diperoleh Dinas Perhubungan (Dishub) Bojonegoro, jumlah kendaraan roda dua pada 3 tahun terakhir mengalami peningkatan. Pada 2015 terdapat 375 ribu, pada 2016 ada 407 ribu, dan 431 ribu pada 2017.

Baca Juga :  Tingkat Kebisingan Lampaui Ambang Batas

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/