alexametrics
25.2 C
Bojonegoro
Tuesday, June 28, 2022

Dwi Khoirotun Nisa’, Inovasikan Pembelajaran Nahwu Berbasis Aplikasi 

FEATURES – Dwi masih sibuk merawat anaknya di rumah. Jika di rumah, dia adalah seorang ibu bagi si kecil, serta istri bagi suaminya. Baginya itu sudah menjadi kewajiban seorang istri. Merawat anak dan suami. Jangan kaget jika Dwi sudah di luar rumah. 

Perempuan berjilbab ini adalah seorang dosen di STAI At Tanwir Sumberrejo. Dia menjadi dosen sejak 2015. Di kampus yang terletak di sebelah timur Bojonegoro itu, dia mengemban amanah sebagai kepala program studi (kaprodi) pendidikan bahasa Arab. 

Ini bukan prestasi biasa. Sebab, dengan umurnya yang masih cukup muda, yakni 27 tahun amanah itu telah dipegang. Dia mengelola progam studi itu sekitar 2016. Jadi, sudah hampir tiga tahun berjalan. 

Sebagai program studi yang masih baru di Bojonegoro. Dia harus memutar otak agar mahasiswa tetap bisa nyaman untuk belajar bahasa Arab. Sebab, setidaknya nantinya lulusan akan menjadi guru bahasa Arab di sekolah. Apalagi, PBA adalah jurusan satu-satunya di Bojonegoro.  

Ini menjadi catatan penting dalam hidup Dwi. Dia pun harus berpikir keras agar bahasa Arab tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan manusia. Sebab, bahasa Arab adalah bahasa Alquran. 

Baca Juga :  Berprestasi : Emil Dardak Bersama Pak De Karwo Terima Penghargaan

“Jadi yang saya dorong itu ya agar peserta didik bisa berani untuk berbicara bahasa Arab dan menulis,” ujar lulusan pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Jogjakarta itu. 

Dwi menuturkan, untuk mengajak anak agar tetap bisa menyukai bahasa Arab dirinya banyak membuat metode yang memudahkan anak. Selain itu, dirinya juga terus membuat inovasi agar bahasa Arab tidak dianggap sulit di tengah masyarakat. 

Dwi mengawali pendidikannya di UIN Malang jurusan pendidikan bahasa Arab. Berlanjut pascasarjana di UIN Jogjakarta. Dia yang saat ini juga menekuni dua bisnis busana itu ternyata pernah melakukan riset tentang pengembangan materi nahwu dalam kitab jam’iud durus al-arabiyyah dengan mind mapping. 

Dia menjelaskan, nahwu itu ilmu yang mempelajari tentang jabatan kata dalam kalimat dan harakat akhirnya, baik berubah atau i’rab atau tetap bina. Kaidah-kaidah yang dengannya diketahui hukum-hukum akhir-akhir kata bahasa Arab dalam keadaan tersusun. 

Mudahnya, orang yang akan membaca kitab kuning yang tidak berharakat itu diperlukan ilmu nahwu. Sehingga, untuk menentukan huruf berfatah atau berkasrah itu salah satu ilmunya adalah nahwu. 

Baca Juga :  Pembahasan Raperda Hiburan Deadlock

Menurutnya, pengembangan materi nahwu dalam kitab jam’iud durus al-arabiyyah dengan mind mapping ini untuk memudahkan pembelajaran. Jadi, ada sebuah aplikasi yang memudahkan untuk belajar nahwu. 

“Ada ada semacam peta konsepnya,” kata dia. 

Dia melanjutkan, dengan riset yang dilakukan itulah bagi orang yang belajar nahwu menggunakan kitab jam’iud durus al-arabiyyah itu bisa dimudahkan. 

“Sudah saya ujikan dan memang merasa dimudahkan,” kata dia. 

Untuk menggeluti dunia nahwu bagi Dwi harus total. Saat di pascasarjana, dia pun masih tetap meneliti tentang nahwu. Termasuk melakukan penelitian tentang kitab-kitab klasik nahwu yang sering digunakan untuk belajar di pesantren. Seperti kitab Al-Ajurrumiyah. Ini adalah kitab kecil tentang tata bahasa Arab dari abad ke-7 Hijriah atau 13 Masehi. 

Kitab ini disusun oleh ahli bahasa dari Maroko yang bernama Abu Abdillah Sidi Muhammad bin Daud Ash-Shanhaji alias Ibnu Ajurrum. 

Dwi berharap ilmunya tetap berkembang. Termasuk bagi masyarakat Bojonegoro. 

FEATURES – Dwi masih sibuk merawat anaknya di rumah. Jika di rumah, dia adalah seorang ibu bagi si kecil, serta istri bagi suaminya. Baginya itu sudah menjadi kewajiban seorang istri. Merawat anak dan suami. Jangan kaget jika Dwi sudah di luar rumah. 

Perempuan berjilbab ini adalah seorang dosen di STAI At Tanwir Sumberrejo. Dia menjadi dosen sejak 2015. Di kampus yang terletak di sebelah timur Bojonegoro itu, dia mengemban amanah sebagai kepala program studi (kaprodi) pendidikan bahasa Arab. 

Ini bukan prestasi biasa. Sebab, dengan umurnya yang masih cukup muda, yakni 27 tahun amanah itu telah dipegang. Dia mengelola progam studi itu sekitar 2016. Jadi, sudah hampir tiga tahun berjalan. 

Sebagai program studi yang masih baru di Bojonegoro. Dia harus memutar otak agar mahasiswa tetap bisa nyaman untuk belajar bahasa Arab. Sebab, setidaknya nantinya lulusan akan menjadi guru bahasa Arab di sekolah. Apalagi, PBA adalah jurusan satu-satunya di Bojonegoro.  

Ini menjadi catatan penting dalam hidup Dwi. Dia pun harus berpikir keras agar bahasa Arab tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan manusia. Sebab, bahasa Arab adalah bahasa Alquran. 

Baca Juga :  Jelang Idul Adha, Harga Sapi Mulai Naik

“Jadi yang saya dorong itu ya agar peserta didik bisa berani untuk berbicara bahasa Arab dan menulis,” ujar lulusan pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Jogjakarta itu. 

Dwi menuturkan, untuk mengajak anak agar tetap bisa menyukai bahasa Arab dirinya banyak membuat metode yang memudahkan anak. Selain itu, dirinya juga terus membuat inovasi agar bahasa Arab tidak dianggap sulit di tengah masyarakat. 

Dwi mengawali pendidikannya di UIN Malang jurusan pendidikan bahasa Arab. Berlanjut pascasarjana di UIN Jogjakarta. Dia yang saat ini juga menekuni dua bisnis busana itu ternyata pernah melakukan riset tentang pengembangan materi nahwu dalam kitab jam’iud durus al-arabiyyah dengan mind mapping. 

Dia menjelaskan, nahwu itu ilmu yang mempelajari tentang jabatan kata dalam kalimat dan harakat akhirnya, baik berubah atau i’rab atau tetap bina. Kaidah-kaidah yang dengannya diketahui hukum-hukum akhir-akhir kata bahasa Arab dalam keadaan tersusun. 

Mudahnya, orang yang akan membaca kitab kuning yang tidak berharakat itu diperlukan ilmu nahwu. Sehingga, untuk menentukan huruf berfatah atau berkasrah itu salah satu ilmunya adalah nahwu. 

Baca Juga :  Berprestasi : Emil Dardak Bersama Pak De Karwo Terima Penghargaan

Menurutnya, pengembangan materi nahwu dalam kitab jam’iud durus al-arabiyyah dengan mind mapping ini untuk memudahkan pembelajaran. Jadi, ada sebuah aplikasi yang memudahkan untuk belajar nahwu. 

“Ada ada semacam peta konsepnya,” kata dia. 

Dia melanjutkan, dengan riset yang dilakukan itulah bagi orang yang belajar nahwu menggunakan kitab jam’iud durus al-arabiyyah itu bisa dimudahkan. 

“Sudah saya ujikan dan memang merasa dimudahkan,” kata dia. 

Untuk menggeluti dunia nahwu bagi Dwi harus total. Saat di pascasarjana, dia pun masih tetap meneliti tentang nahwu. Termasuk melakukan penelitian tentang kitab-kitab klasik nahwu yang sering digunakan untuk belajar di pesantren. Seperti kitab Al-Ajurrumiyah. Ini adalah kitab kecil tentang tata bahasa Arab dari abad ke-7 Hijriah atau 13 Masehi. 

Kitab ini disusun oleh ahli bahasa dari Maroko yang bernama Abu Abdillah Sidi Muhammad bin Daud Ash-Shanhaji alias Ibnu Ajurrum. 

Dwi berharap ilmunya tetap berkembang. Termasuk bagi masyarakat Bojonegoro. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/