alexametrics
27.2 C
Bojonegoro
Tuesday, May 24, 2022

Ironis, Produksi Tinggi, Serapan Bulog Malah Turun

LAMONGAN – Keberpihakan pemerintah melalui Bulog terhadap petani Lamongan dipertanyakan. Produksi padi petani Lamongan terus meningkat dan yang tertinggi di Jawa Timur. Ironisnya, penyerapan gabah/beras petani oleh Bulog justru terus menurun setiap tahun.

Kondisi ini dikhawatirkan Plt Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (TPHP) Lamongan, Rudjito. ‘’Kondisi itu membuat harga gabah petani selalu anjlok karena sulit dijaga saat panen raya tiba,’’ terangnya saat mendampingi Bupati Lamongan, Fadeli menerima kunjungan Dirjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Gatot S Irianto di Guest House Pemkab Lamongan, Minggu petang lalu (25/3).

Menurut Rudjito, produksi gabah kering giling (GKG) petani Lamongan mencapai 1 Juta ton lebih per tahun. Dan tahun ini, sampai Februari lalu sudah 8.857 hektare lahan komoditi padi yang dipanen. Dan akan terus meningkat memasuki bulan ini. ‘’Kalau penyerapan hasil panen petani minim, turunnya harga gabah seperti panen sebelumnya akan terus terjadi,’’ tukasnya.

Baca Juga :  Cuti Tergantung Kebijakan Perusahaan 

Wakil Kepala Bulog Subdivre Bojonegoro, M Yandra Darajat yang hadir dalam kesempatan itu mengakui, Bulog baru menyerap 230 Ton gabah petani Lamongan hingga kemarin. Namun dia mengklaim, serapan gabah itu tertinggi dibanding dua daerah tetangga, Bojonegoro dan Tuban. “Serapan dari Lamongan sebesar 230 ton. Ini masih yang tertinggi dibandingkan dua kabupaten lain di wilayah (Bulog) Subdivre Bojonegoro, meski belum signifikan. Lamongan juga masih menjadi andalan Subdivre Bojonegoro untuk pengadaan beras dan gabah,” kalimnya.

Sementara Gatot S Irianto yang hadir bersama Direktur Pasca Panen Gatut Sumbogodjati berharap Bulog bisa maksimal menyerap gabah petani dengan harga sesuai kualitas gabah atau beras. “Saya ingin, ketika harga turun, pemerintah hadir, dan Bulog membeli sesuai kualitas. Jadi jangan dituntut membeli dengan harga tidak sesuai kualitas. Kata orang, rego nggowo rupo, harga sesuai dengan kualitas,” tukasnya.

Baca Juga :  Dinkes Lamongan Tuntut Vaksin Jenis Astra Zeneca Habis Satu Bulan

Berdasarkan data Pemkab Lamongan, sejak 2014 serapan Bulog Subdivre Bojonegoro terhadap produksi padi Lamongan terus turun. Pada 2014 sebesar 40.137, 645 Ton setara beras. Kemudian 2015 turun menjadi drastis menjadi 32.001,235 Ton. Selanjutnya turun lagi menjadi 28.637,069 Ton pada 2016 dan lagi-lagi turun menjadi 25.875,615 Ton pada 2017. Tahun lalu (2018) juga turun lagi menjadi 25.035,980 Ton.

Bahkan tahun ini (2019) Bulog Subdivre Bojonegoro hanya menargetkan menyerap 15.705,420 Ton melalui dua gudangnya di Lamongan, yakni di Gudang Bulog Baru (GBB) Karangkembang dan Sukorejo.

LAMONGAN – Keberpihakan pemerintah melalui Bulog terhadap petani Lamongan dipertanyakan. Produksi padi petani Lamongan terus meningkat dan yang tertinggi di Jawa Timur. Ironisnya, penyerapan gabah/beras petani oleh Bulog justru terus menurun setiap tahun.

Kondisi ini dikhawatirkan Plt Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (TPHP) Lamongan, Rudjito. ‘’Kondisi itu membuat harga gabah petani selalu anjlok karena sulit dijaga saat panen raya tiba,’’ terangnya saat mendampingi Bupati Lamongan, Fadeli menerima kunjungan Dirjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Gatot S Irianto di Guest House Pemkab Lamongan, Minggu petang lalu (25/3).

Menurut Rudjito, produksi gabah kering giling (GKG) petani Lamongan mencapai 1 Juta ton lebih per tahun. Dan tahun ini, sampai Februari lalu sudah 8.857 hektare lahan komoditi padi yang dipanen. Dan akan terus meningkat memasuki bulan ini. ‘’Kalau penyerapan hasil panen petani minim, turunnya harga gabah seperti panen sebelumnya akan terus terjadi,’’ tukasnya.

Baca Juga :  Padat, Jalan Veteran Belum Perlu Rekayasa Lalin

Wakil Kepala Bulog Subdivre Bojonegoro, M Yandra Darajat yang hadir dalam kesempatan itu mengakui, Bulog baru menyerap 230 Ton gabah petani Lamongan hingga kemarin. Namun dia mengklaim, serapan gabah itu tertinggi dibanding dua daerah tetangga, Bojonegoro dan Tuban. “Serapan dari Lamongan sebesar 230 ton. Ini masih yang tertinggi dibandingkan dua kabupaten lain di wilayah (Bulog) Subdivre Bojonegoro, meski belum signifikan. Lamongan juga masih menjadi andalan Subdivre Bojonegoro untuk pengadaan beras dan gabah,” kalimnya.

Sementara Gatot S Irianto yang hadir bersama Direktur Pasca Panen Gatut Sumbogodjati berharap Bulog bisa maksimal menyerap gabah petani dengan harga sesuai kualitas gabah atau beras. “Saya ingin, ketika harga turun, pemerintah hadir, dan Bulog membeli sesuai kualitas. Jadi jangan dituntut membeli dengan harga tidak sesuai kualitas. Kata orang, rego nggowo rupo, harga sesuai dengan kualitas,” tukasnya.

Baca Juga :  Dalami Permasalahan PG KTM Dengan Masyarakat

Berdasarkan data Pemkab Lamongan, sejak 2014 serapan Bulog Subdivre Bojonegoro terhadap produksi padi Lamongan terus turun. Pada 2014 sebesar 40.137, 645 Ton setara beras. Kemudian 2015 turun menjadi drastis menjadi 32.001,235 Ton. Selanjutnya turun lagi menjadi 28.637,069 Ton pada 2016 dan lagi-lagi turun menjadi 25.875,615 Ton pada 2017. Tahun lalu (2018) juga turun lagi menjadi 25.035,980 Ton.

Bahkan tahun ini (2019) Bulog Subdivre Bojonegoro hanya menargetkan menyerap 15.705,420 Ton melalui dua gudangnya di Lamongan, yakni di Gudang Bulog Baru (GBB) Karangkembang dan Sukorejo.

Artikel Terkait

Most Read

Hindari Mobil, Truk Masuk Parit

Cabang MFQ-MMQ Lolos Semifinal

Pasang Lampu Habiskan Rp 5,7 Miliar

Artikel Terbaru


/