alexametrics
29.7 C
Bojonegoro
Sunday, May 22, 2022

Penjualan Motor Bekas Lesu 

BISNIS – Semester pertama ini, permintaan terhadap motor bekas masih lesu. Pelaku usaha harus bersabar menunggu daya beli membaik. Daya beli menurun diprediksi pengaruh pabrikan terus menggelontor produk baru. Termasuk diler manawarkan down payment (DP) atau uang muka rendah. Sueb, pemilik Toko Dika Motor mengatakan, penjualan motor bekas cenderung turun. Jika biasanya, penjualan motor bekas dalam satu bulan masih tembus angka 20-25 unit.

Tahun ini, penjualan hanya menyentuh angka 15 unit per bulan. “Bahkan kadang tidak sampai 15 unit,” katanya kemarin (23/3). Menurut Sueb, penurunan penjualan bukan karena harga tinggi. Tapi, minat dari konsumennya cenderung turun. Serta, karena produk baru rata-rata memberlakukan DP rendah. Sehingga, konsumen lebih memilih produk baru dibanding produk lama. 

Baca Juga :  Pelantikan Perangkat Tak Dipungut Biaya 

Selain itu, market share motor bekas skupnya sangat kecil.  Karena konsumen Kota Soto ini cukup latah, sehingga mereka akan memilih produk baru bahkan akan menjual barang lama ditukar dengan produk baru. “Hal ini lebih sering terjadi, mencari tipe tahun baru,” terangnya. 

Windi penjual lainnya mengungkapkan, penjualan motor bekas terdongkrak musim. Kalau panen penjualan lumayan bagus, karena segmentasi pasarnya petani. Sedangkan, kalau panen gagal, penjualan motor bekas pasti stagnan. Padahal motor bekas harganya terus turun ketika tahun baru. “Karena terpotong pajak dan sebagainya,” ujarnya. 

BISNIS – Semester pertama ini, permintaan terhadap motor bekas masih lesu. Pelaku usaha harus bersabar menunggu daya beli membaik. Daya beli menurun diprediksi pengaruh pabrikan terus menggelontor produk baru. Termasuk diler manawarkan down payment (DP) atau uang muka rendah. Sueb, pemilik Toko Dika Motor mengatakan, penjualan motor bekas cenderung turun. Jika biasanya, penjualan motor bekas dalam satu bulan masih tembus angka 20-25 unit.

Tahun ini, penjualan hanya menyentuh angka 15 unit per bulan. “Bahkan kadang tidak sampai 15 unit,” katanya kemarin (23/3). Menurut Sueb, penurunan penjualan bukan karena harga tinggi. Tapi, minat dari konsumennya cenderung turun. Serta, karena produk baru rata-rata memberlakukan DP rendah. Sehingga, konsumen lebih memilih produk baru dibanding produk lama. 

Baca Juga :  Lamongan Raih Anugerah Parahita Ekapraya dari Menteri PPPA

Selain itu, market share motor bekas skupnya sangat kecil.  Karena konsumen Kota Soto ini cukup latah, sehingga mereka akan memilih produk baru bahkan akan menjual barang lama ditukar dengan produk baru. “Hal ini lebih sering terjadi, mencari tipe tahun baru,” terangnya. 

Windi penjual lainnya mengungkapkan, penjualan motor bekas terdongkrak musim. Kalau panen penjualan lumayan bagus, karena segmentasi pasarnya petani. Sedangkan, kalau panen gagal, penjualan motor bekas pasti stagnan. Padahal motor bekas harganya terus turun ketika tahun baru. “Karena terpotong pajak dan sebagainya,” ujarnya. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

Dari Dangdut ke Salawat

Mampu Berbuah Lebih Cepat

Anak Desa Harus Semangat Kuliah


/