alexametrics
23.3 C
Bojonegoro
Tuesday, June 28, 2022

Ternyata 29,74 Persen Warga Bojonegoro Kecanduan Rokok

Radar Bojonegoro – Konsumsi rokok di Bojonegoro selama 2020 menurun dibanding dengan 2019. Namun, fenomena perokok mulai usia 15 tahun mulai merebak. Perlu langkah serius pencegahan perokok usia dini. Serta pengendalian agar tren konsumsi merokok terus menurun karena berimbas pada kesehatan masyarakat.

Berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS) Bojonegoro dalam Statistik Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Bojonegoro 2020 konsumsi rokok dan tembakau senilai Rp 56.770 per kapita sebulan. Menurun dibanding 2019 konsumsi rokok dan tembakau mencapai Rp 62.663 per kapita per bulan.

Sedangkan, penduduk usia 15 tahun ke atas yang merokok, ratarata menghisap rokok pada 2020 mencapai 69 batang per minggu. Atau hampir sekitar 7 batang per hari. Menurun dari 2019 mencapai 79 batang per minggu. Lebih dari 7 batang per hari. Sementara jumlah masyarakat Bojonegoro kecanduan rokok sebanyak 29,74 persen. Rerata konsumsi 69 batang per minggu tentu menjadi angka yang tinggi dan mengkhawatirkan.

Baca Juga :  Penarikan Parkir Jadi Polemik

Pengendalian diperlukan karena perilaku merokok bisa dianggap sebagai penyakit. Yakni penyakit kecanduan. “Apalagi pelakunya tidak hanya orang dewasa melainkan perokok usia muda bahkan anak sekolah,” ujar Istiqlal Fithri, dosen Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (Stikes) Muhammadiyah Bojonegoro.

Fithri menjelaskan, perilaku merokok berdampak terhadap kese hatan, baik perokok maupun orang di sekitarnya. Pada sebatang rokok mengandung senyawa kimia beracun berbahaya untuk tubuh bahkan bersifat karsinogenik (mengendap dan merusak terutama paru-paru). Rokok menimbulkan penyakit seperti jantung koroner, stroke dan kanker. “Terlebih hal ini menyerang remaja tentu akan sangat disayangkan mengingat remaja generasi penerus bangsa,” ungkapnya.

Menurut Fithri, perokok merupakan salah satu kelompok rentan terinfeksi virus korona dan derajat keparahan lebih berat daripada orang tidak merokok. Karena nikotin pada rokok dapat meningkatkan aktivitas ACE2 (angiotensin-converting enzyme 2) pada paru-paru.

Baca Juga :  Stan Kosong Pasar Banjarejo Berpotensi Mengundang Pedagang Pasar Kota

“Asap rokok bisa jadi droplet, keluar bersamaan dengan asap rokok yang dihembuskan saat merokok,” jelasnya. Dosen mata kuliah kesehatan masyarakat itu mengatakan, butuh dukungan semua pihak mengendalikan konsumsi rokok. Seperti orang terdekat (keluarga), lingkungan sekitar dan pemerintah sebagai pembuat kebijakan.

Terkait kenaikan cukai rokok, Fithri menganggap masih belum cukup. Terbukti masih banyaknya produsen rokok. Selain itu harga rokok juga masih terjangkau. “Perlu dibuat peraturan daerah (perda) tentang kawasan tanpa rokok (KTR). Serta eliminasi terhadap iklan, promosi, dan sponsor terkait dengan rokok,” jelasnya. (irv)

Radar Bojonegoro – Konsumsi rokok di Bojonegoro selama 2020 menurun dibanding dengan 2019. Namun, fenomena perokok mulai usia 15 tahun mulai merebak. Perlu langkah serius pencegahan perokok usia dini. Serta pengendalian agar tren konsumsi merokok terus menurun karena berimbas pada kesehatan masyarakat.

Berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS) Bojonegoro dalam Statistik Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Bojonegoro 2020 konsumsi rokok dan tembakau senilai Rp 56.770 per kapita sebulan. Menurun dibanding 2019 konsumsi rokok dan tembakau mencapai Rp 62.663 per kapita per bulan.

Sedangkan, penduduk usia 15 tahun ke atas yang merokok, ratarata menghisap rokok pada 2020 mencapai 69 batang per minggu. Atau hampir sekitar 7 batang per hari. Menurun dari 2019 mencapai 79 batang per minggu. Lebih dari 7 batang per hari. Sementara jumlah masyarakat Bojonegoro kecanduan rokok sebanyak 29,74 persen. Rerata konsumsi 69 batang per minggu tentu menjadi angka yang tinggi dan mengkhawatirkan.

Baca Juga :  Cakades Milenial Tumbangkan Petahana

Pengendalian diperlukan karena perilaku merokok bisa dianggap sebagai penyakit. Yakni penyakit kecanduan. “Apalagi pelakunya tidak hanya orang dewasa melainkan perokok usia muda bahkan anak sekolah,” ujar Istiqlal Fithri, dosen Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (Stikes) Muhammadiyah Bojonegoro.

Fithri menjelaskan, perilaku merokok berdampak terhadap kese hatan, baik perokok maupun orang di sekitarnya. Pada sebatang rokok mengandung senyawa kimia beracun berbahaya untuk tubuh bahkan bersifat karsinogenik (mengendap dan merusak terutama paru-paru). Rokok menimbulkan penyakit seperti jantung koroner, stroke dan kanker. “Terlebih hal ini menyerang remaja tentu akan sangat disayangkan mengingat remaja generasi penerus bangsa,” ungkapnya.

Menurut Fithri, perokok merupakan salah satu kelompok rentan terinfeksi virus korona dan derajat keparahan lebih berat daripada orang tidak merokok. Karena nikotin pada rokok dapat meningkatkan aktivitas ACE2 (angiotensin-converting enzyme 2) pada paru-paru.

Baca Juga :  Usai Berlatih, Jadi Penyanyi di Kafe

“Asap rokok bisa jadi droplet, keluar bersamaan dengan asap rokok yang dihembuskan saat merokok,” jelasnya. Dosen mata kuliah kesehatan masyarakat itu mengatakan, butuh dukungan semua pihak mengendalikan konsumsi rokok. Seperti orang terdekat (keluarga), lingkungan sekitar dan pemerintah sebagai pembuat kebijakan.

Terkait kenaikan cukai rokok, Fithri menganggap masih belum cukup. Terbukti masih banyaknya produsen rokok. Selain itu harga rokok juga masih terjangkau. “Perlu dibuat peraturan daerah (perda) tentang kawasan tanpa rokok (KTR). Serta eliminasi terhadap iklan, promosi, dan sponsor terkait dengan rokok,” jelasnya. (irv)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/