alexametrics
25.2 C
Bojonegoro
Sunday, August 14, 2022

Tanggul Jebol, Rugi Rp 2 M dan 200 Hektare Sawah Terendam

- Advertisement -

BOJONEGORO – Luapan air Bengawan Solo mulai berdampak luas. Kemarin (25/2) sekitar pukul 04.30, tanggul Kali Kloro di Desa Sambiroto, Kecamatan Kapas jebol diterjang derasnya luapan Bengawan Solo. Akibatnya 200 sawah terendam air. Kerugian diperkirakan mencapai Rp 2 miliar.

Kepala Desa Sambiroto, Sudjono mengungkapkan, sebelumnya bersama warga lainnya, pihaknya sudah mengantisipasi jebolnya tanggul Sungai Kloro.

Yakni, dengan menahan air menggunakan sak berisi tanah  pada Sabtu (24/2). Namun, air yang sangat deras dari Bengawan Solo gagal ditahan,  akhirnya tanggul pun jebol. 

Jono, sapaan akrabnya, sangat menyesalkan kurang tanggapnya pemerintah menangani tanggul di desanya. Sebab, sejak tiga tahun yang lalu, dia terus berusaha mengajukan permohonan pengadaan pompa air yang besar agar bisa mengatasi debit air yang meningkat akibat luapan air Bengawan Solo.

Baca Juga :  Pembudidaya Bibit Anggur, Setahun Budidayakan 20 Varietas Impor

“Kalau sudah ada pompa besar diharapkan aman, karena apabila tanggul jebol lebih besar lagi bisa menggenangi kurang lebih 1.500 hektare lahan persawahan di 11 desa di Kecamatan Kapas,” katanya.

- Advertisement -

Akibat tanggul jebol tersebut, Jono memperkirakan setidaknya ada 200 hektare lebih lahan persawahan  di wilayah Desa Sambiroto, Semanding, Sukowati, dan Bakalan tergenang.

“Jika air tak segera surut, tentu para petani padi terancam gagal panen, kalau ditaksir kerugiannya sekitar Rp 2 miliar. Hal ini tentu harus dicarikan solusinya, karena mana mungkin bisa bahagia kalau petani merugi,” jelasnya.

Sementara itu, Bupati Bojonegoro, Suyoto pun mengecek di lokasi tanggul jebol di Desa Sambiroto bersama jajarannya. Dia mengatakan,  penanganan awalnya ialah mengurangi debit air kali di Desa Semanding.

Baca Juga :  Tinggal Cari Pembeli Perorangan

Dia memperkirakan surutnya air kemungkinan 2-3 hari. Sehingga, setelah surut, dia memerintahkan Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air (Dinas PU-SDA) Bojonegoro agar segera memperbaiki tanggul tersebut.

“Ketika surut akan segera ditangani, kalau pun memang bisa dipanen segera dipanen padinya, tetapi sebagian besar lahan persawahan akan puso,” katanya.

Adapun Kepala Dinas PU-SDA Bojonegoro, Edi Susanto yang mendampingi bupati meninjau jebolnya tanggul di Desa Sambiroto mengungkapkan telah menurunkan dua unit pompa air dengan kemampuan 200 liter per detik.

Diharapkan air segera surut agar bisa segera mendatangkan alat berat untuk memperbaiki tanggul tersebut. “Kami tunggu surut dulu, selanjutnya alat berat akan kami geser ke lokasi untuk melakukan penanganan tanggul tersebut,” pungkasnya. 

BOJONEGORO – Luapan air Bengawan Solo mulai berdampak luas. Kemarin (25/2) sekitar pukul 04.30, tanggul Kali Kloro di Desa Sambiroto, Kecamatan Kapas jebol diterjang derasnya luapan Bengawan Solo. Akibatnya 200 sawah terendam air. Kerugian diperkirakan mencapai Rp 2 miliar.

Kepala Desa Sambiroto, Sudjono mengungkapkan, sebelumnya bersama warga lainnya, pihaknya sudah mengantisipasi jebolnya tanggul Sungai Kloro.

Yakni, dengan menahan air menggunakan sak berisi tanah  pada Sabtu (24/2). Namun, air yang sangat deras dari Bengawan Solo gagal ditahan,  akhirnya tanggul pun jebol. 

Jono, sapaan akrabnya, sangat menyesalkan kurang tanggapnya pemerintah menangani tanggul di desanya. Sebab, sejak tiga tahun yang lalu, dia terus berusaha mengajukan permohonan pengadaan pompa air yang besar agar bisa mengatasi debit air yang meningkat akibat luapan air Bengawan Solo.

Baca Juga :  Empat Desa di Bojonegoro Diwacanakan Pemekaran

“Kalau sudah ada pompa besar diharapkan aman, karena apabila tanggul jebol lebih besar lagi bisa menggenangi kurang lebih 1.500 hektare lahan persawahan di 11 desa di Kecamatan Kapas,” katanya.

- Advertisement -

Akibat tanggul jebol tersebut, Jono memperkirakan setidaknya ada 200 hektare lebih lahan persawahan  di wilayah Desa Sambiroto, Semanding, Sukowati, dan Bakalan tergenang.

“Jika air tak segera surut, tentu para petani padi terancam gagal panen, kalau ditaksir kerugiannya sekitar Rp 2 miliar. Hal ini tentu harus dicarikan solusinya, karena mana mungkin bisa bahagia kalau petani merugi,” jelasnya.

Sementara itu, Bupati Bojonegoro, Suyoto pun mengecek di lokasi tanggul jebol di Desa Sambiroto bersama jajarannya. Dia mengatakan,  penanganan awalnya ialah mengurangi debit air kali di Desa Semanding.

Baca Juga :  Seminggu, Dua Anak Tewas Tenggelam

Dia memperkirakan surutnya air kemungkinan 2-3 hari. Sehingga, setelah surut, dia memerintahkan Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air (Dinas PU-SDA) Bojonegoro agar segera memperbaiki tanggul tersebut.

“Ketika surut akan segera ditangani, kalau pun memang bisa dipanen segera dipanen padinya, tetapi sebagian besar lahan persawahan akan puso,” katanya.

Adapun Kepala Dinas PU-SDA Bojonegoro, Edi Susanto yang mendampingi bupati meninjau jebolnya tanggul di Desa Sambiroto mengungkapkan telah menurunkan dua unit pompa air dengan kemampuan 200 liter per detik.

Diharapkan air segera surut agar bisa segera mendatangkan alat berat untuk memperbaiki tanggul tersebut. “Kami tunggu surut dulu, selanjutnya alat berat akan kami geser ke lokasi untuk melakukan penanganan tanggul tersebut,” pungkasnya. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/