alexametrics
29.2 C
Bojonegoro
Tuesday, June 28, 2022

Lamongan Jadi Buah Bibir Nasional: Barometer Agribisnis Jagung

ADVERTORIAL – Komitmen Bupati Lamongan, Fadeli, yang tinggi terhadap petani dan pertanian, khususnya pertanian jagung, mendapat apresiasi nasional. Bahkan Wakil Ketua Dewan Jagung Nasional, Profesor Sidi Asmono, optimistis produksi jagung Lamongan mencapai 1 juta ton dalam dua hingga tiga tahun mendatang.  

“Lamongan saat ini sudah menjadi buah bibir nasional, sekaligus barometer bagi agribisnis jagung. Bahkan, banyak pihak di luar negeri yang bertanya-tanya soal Lamongan yang dikatakan sebagai mini Iowa (Amerika Serikat, Red),’’ kata Profesor Sidi Amsono saat menghadiri panen raya jagung bersama Bupati Fadeli di Desa Dadapan, Kecamatan Solokuro, Jumat (23/2).

Menurut Sidi, apresiasi nasional tersebut sangat beralasan, terutama didasarkan lonjakan produksi dan produktivitas jagung Lamongan yang luar biasa. Yakni dari produksi 323.549 ton pada 2015, kemudian menjadi 372.162 ton pada 2016, dan melonjak lagi menjadi 571.080 ton pada 2017.

‘’Dari catatan Dewan Nasional Jagung, produksi yang dicapai Lamongan di 2017 itu adalah yang tertinggi. Ini bisa menjadi rekor baru, baik dari sisi produksi maupun produktivitasnya,’’ tandasnya. 

Sidi Asmono melihat apa yang diraih Lamongan saat ini adalah buah dari kebijakan bupatinya yang sangat propertanian dan propetani, melalui program pertanian jagung modern.

Baca Juga :  Pendapatan Cukai Diganggu Peredaran Rokok Ilegal 

“Lahan percontohan seluas 100 hektare yang dibuka usai studi banding ke Iowa Amerika Serikat oleh Pak Bupati (Fadeli) sukses diaplikasi petani Lamongan di luar kawasan. Kini petani Lamongan sudah naik kelas, dari yang semula hanya mau menggunakan benih lokal, kini sudah familiar dengan hibirida plus, “ paparnya.

Menurut Sidi, capaian Lamongan telah menginspirasi banyak daerah lain. Seperti Kabupaten Kuningan, Banten, Bangka Belitung, dan Kutai Kertanegara.

“Usai melakukan studi banding dari Lamongan, para kepala daerahnya langsung menetapkan revolusi jagung. Karena daerah yang saya sebutkan tadi memiliki pabrik pengolahan pakan, namun bahan baku jagungnya masih mendatangkan dari luar daerah, “ ungkapnya.

Sementara itu, Bupati Fadeli, menyampaikan terima kasihnya kepada petani Lamongan yang mau diajak berubah. Dari yang sebelumnya bertani konvensional meneruskan kebiasaan lama, kini mau bertani dengan pola yang benar dan modern.

“Biasanya petani itu sangat susah berubah untuk menggunakan metode atau pola tanam yang baru. Saya kira, hasil nyata di lahan percontohan 100 hektare Desa Banyubang sukses menginspirasi petani untuk menerapkan pertanian modern, “ tuturnya.

Menurut Fadeli, peningkatan produksi dan produktivitas ini secara langsung berimplikasi pada kesejahteraan petani. Salah satu indikatornya pada kesejahteraan petani. Yakni Nilai Tukar Petani (NTP) di Lamongan naik dari 102 menjadi 104,66.

Baca Juga :  Pasar Batik Masih Terbatas

Terkait pemasaran, Bupati Fadeli menjamin tidak akan ada kesulitan. Sebab sudah ada produsen pupuk yang memiliki pabrik di Kecamatan Brondong, seperti PT Esa Sampurna, yang sanggup membeli berapapun jagung petani dengan harga Rp 3.200 per kilogram, dengan kadar air 17 persen.

Sedangkan Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Panji Laras Desa Dadapan, Kecamatan Solokuro, mengungkapkan, produktivitas jagung di desanya melonjak luar biasa usai menerapkan pola pertanian modern.

Sebelumnya, hanya berkisar enam hingga tujuh ton per hektare. Setelah menerapkan pertanian jagung modern, panen menjadi 11,3 ton per hektare.

Bahkan ada dua lahan jagung petani Dadapan yang produktivitasnya di atas 12 ton per hektare. Yakni milik Hj Karning mencapai 12,336 ton per hektare dan Husnan tercatat 12,145 ton per hektare.

Menurut Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Lamongan, Aris Setiadi, secara keseluruhan, produksi jagung Lamongan pada 2017 mencapai 571.080 ton dengan luas panen 68.043 hektare. Rata-rata produktivitasnya 8,393 ton per hektare. (feb)

ADVERTORIAL – Komitmen Bupati Lamongan, Fadeli, yang tinggi terhadap petani dan pertanian, khususnya pertanian jagung, mendapat apresiasi nasional. Bahkan Wakil Ketua Dewan Jagung Nasional, Profesor Sidi Asmono, optimistis produksi jagung Lamongan mencapai 1 juta ton dalam dua hingga tiga tahun mendatang.  

“Lamongan saat ini sudah menjadi buah bibir nasional, sekaligus barometer bagi agribisnis jagung. Bahkan, banyak pihak di luar negeri yang bertanya-tanya soal Lamongan yang dikatakan sebagai mini Iowa (Amerika Serikat, Red),’’ kata Profesor Sidi Amsono saat menghadiri panen raya jagung bersama Bupati Fadeli di Desa Dadapan, Kecamatan Solokuro, Jumat (23/2).

Menurut Sidi, apresiasi nasional tersebut sangat beralasan, terutama didasarkan lonjakan produksi dan produktivitas jagung Lamongan yang luar biasa. Yakni dari produksi 323.549 ton pada 2015, kemudian menjadi 372.162 ton pada 2016, dan melonjak lagi menjadi 571.080 ton pada 2017.

‘’Dari catatan Dewan Nasional Jagung, produksi yang dicapai Lamongan di 2017 itu adalah yang tertinggi. Ini bisa menjadi rekor baru, baik dari sisi produksi maupun produktivitasnya,’’ tandasnya. 

Sidi Asmono melihat apa yang diraih Lamongan saat ini adalah buah dari kebijakan bupatinya yang sangat propertanian dan propetani, melalui program pertanian jagung modern.

Baca Juga :  Truk Terguling, Tiga KA Berhenti di Stasiun

“Lahan percontohan seluas 100 hektare yang dibuka usai studi banding ke Iowa Amerika Serikat oleh Pak Bupati (Fadeli) sukses diaplikasi petani Lamongan di luar kawasan. Kini petani Lamongan sudah naik kelas, dari yang semula hanya mau menggunakan benih lokal, kini sudah familiar dengan hibirida plus, “ paparnya.

Menurut Sidi, capaian Lamongan telah menginspirasi banyak daerah lain. Seperti Kabupaten Kuningan, Banten, Bangka Belitung, dan Kutai Kertanegara.

“Usai melakukan studi banding dari Lamongan, para kepala daerahnya langsung menetapkan revolusi jagung. Karena daerah yang saya sebutkan tadi memiliki pabrik pengolahan pakan, namun bahan baku jagungnya masih mendatangkan dari luar daerah, “ ungkapnya.

Sementara itu, Bupati Fadeli, menyampaikan terima kasihnya kepada petani Lamongan yang mau diajak berubah. Dari yang sebelumnya bertani konvensional meneruskan kebiasaan lama, kini mau bertani dengan pola yang benar dan modern.

“Biasanya petani itu sangat susah berubah untuk menggunakan metode atau pola tanam yang baru. Saya kira, hasil nyata di lahan percontohan 100 hektare Desa Banyubang sukses menginspirasi petani untuk menerapkan pertanian modern, “ tuturnya.

Menurut Fadeli, peningkatan produksi dan produktivitas ini secara langsung berimplikasi pada kesejahteraan petani. Salah satu indikatornya pada kesejahteraan petani. Yakni Nilai Tukar Petani (NTP) di Lamongan naik dari 102 menjadi 104,66.

Baca Juga :  Antara Fujika, Darwoto, dan Reso

Terkait pemasaran, Bupati Fadeli menjamin tidak akan ada kesulitan. Sebab sudah ada produsen pupuk yang memiliki pabrik di Kecamatan Brondong, seperti PT Esa Sampurna, yang sanggup membeli berapapun jagung petani dengan harga Rp 3.200 per kilogram, dengan kadar air 17 persen.

Sedangkan Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Panji Laras Desa Dadapan, Kecamatan Solokuro, mengungkapkan, produktivitas jagung di desanya melonjak luar biasa usai menerapkan pola pertanian modern.

Sebelumnya, hanya berkisar enam hingga tujuh ton per hektare. Setelah menerapkan pertanian jagung modern, panen menjadi 11,3 ton per hektare.

Bahkan ada dua lahan jagung petani Dadapan yang produktivitasnya di atas 12 ton per hektare. Yakni milik Hj Karning mencapai 12,336 ton per hektare dan Husnan tercatat 12,145 ton per hektare.

Menurut Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Lamongan, Aris Setiadi, secara keseluruhan, produksi jagung Lamongan pada 2017 mencapai 571.080 ton dengan luas panen 68.043 hektare. Rata-rata produktivitasnya 8,393 ton per hektare. (feb)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

Delapan Incumbent Kalah Suara

PT DESI Bakal Dilarang Beroperasi

Matangkan Persiapan

Rudjito – Zaenuri Divonis 4 Tahun


/