alexametrics
32.6 C
Bojonegoro
Monday, August 8, 2022

Banjir Meluas : 1.691 Rumah Tergenang

KOTA – Banjir akibat luapan daerah aliran sungai (DAS) Bengawan Solo makin meluas. Jika Sabtu (24/2), kurang dari 500 rumah yang kebanjiran di dua kecamatan, maka kemarin (25/2) terdata 1.691 rumah tergenang di lima kecamatan. 

‘’Mulai tadi malam (Sabtu malam) laporan wilayah yang terimbas banjir bertambah,’’ tutur Kasi Tanggap Darurat BPBD Lamongan, Muslimin, kemarin (25/2).

Rinciannya, 108 rumah pada empat desa di Kecamatan Glagah. Di Desa/Kecamatan Karangbinangun, sembilan rumah tergenang.

Kemudian 687 rumah di Kecamatan Babat, 394 rumah pada tiga desa di Kecamatan Maduran, serta 45 rumah pada dua desa di Kecamatan Karanggeneng. 

‘’Paling banyak di Kecamatan Laren. Yang terkena banjir sembilan desa, jumlahnya 448 rumah,’’ tutur Muslimin saat dikonfirmasi via ponsel. 

Dia mengklaim pihaknya telah mendistribusikan gedeg, bongkotan, sak, terpal, dan sejumlah alat untuk mengatasi luapan air.

Hal itu sebagai upaya antisipasif jika nantinya luapan air makin deras. Terutama di Kecamatan Babat dan Laren. Dua kecamatan itu paling rentan terimbas banjir. 

Muslimin mengaku belum mendapat laporan banjir secara detail di daerah aliran Bengawan Solo lainnya seperti wilayah Karanggeneng, Kalitengah, dan Turi.

‘’Di Kalitengah sudah ada luberan di Desa Kuluran tapi tak sampai menggenangi rumah warga,’’ ujarnya. 

BPBD Lamongan masih memantau debit air dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo. Pukul 12.00 kemarin, debit air di tiga kecamatan masih siaga merah. 

Baca Juga :  Masih Menunggu Keputusan Resmi

Papan duga Kecamatan Babat menunjukkan 8,45 pheilscall, papan duga Kecamatan Laren tingginya 5,88 pheilscall, dan Kecamatan Karanggeneng tingginya 4,67 pheilscall. 

Hanya DAS Bengawan Solo di Kuro yang masih berstatus siaga kuning, yakni 2,46 pheilscall. ‘’Untuk sementara tren Karangnongko dan Bojonegoro turun. Imbasnya nanti di Babat dan Laren. Pergerakan air dari Bojonegoro 14 jam, jadi nanti turunnya di Babat,’’ imbuh Muslimin. 

Sementara itu, Kades Truni, Kecamatan Babat, Martono, mendata sejumlah rumah di tujuh rukun tetangga (RT) kebanjiran. Air masuk ke pemukiman yang dikelilingi desa di Kecamatan Widang, Tuban tersebut dari timur. Bahkan, lima tempat ibadah di Desa Truni juga tergenang air. 

‘’Masuknya dari arah Bengawan Solo. Terparah mulai RT 7 hingga RT 12,’’ beber kades yang sudah menjabat dua periode tersebut. 

Berdasar pengamatannya, air Bengawan Solo masuk ke lahan desa setempat sebanyak enam kali mulai Nopember lalu. Namun, lima kali dampak luapan air dari sungai terpanjang di Pulau Jawa itu hanya merendam areal persawahan. 

‘’Selama musim hujan, baru kali ini menggenangi rumah warga,’’ ujarnya.

Desa paling barat di Kecamatan Babat itu tiap tahunnya menjadi langganan banjir. Namun, diakui Martono, luapan air tak seganas dua tahun sebelumnya.

Baca Juga :  Akhiri Perdebatan-Perbedaan Pilihan demi Sebuah Kebersamaan Menuju Ind

Musim hujan dua tahun lalu, lebih banyak rumah yang terendam, serta terhitung luapan air hingga lebih dari 15 kali. ‘’Sedangkan tahun lalu luapan air ke lahan Desa Truni sebanyak 11 kali,’’ imbuhnya. 

Selain itu, lanjut dia, akses jalan satu – satunya ke Desa Truni melalui Desa/Kecamatan Widang, Tuban. Sebab, akses jalan menuju ke Babat dari utara terendam air. ‘’Hanya satu akses jalan itu yang bisa dilewati saat banjir seperti ini,’’ tuturnya. 

Karmo, warga desa setempat, mengatakan, rumahnya kemasukan air hingga mencapai perut. Kakek yang sebagian rambutnya memutih itu beraktivitas dengan pakaian yang basah. ‘’Biasanya ya seperti ini kalau sedang banjir,’’ ujar Karmo. 

Heni, warga lainnya yang rumahnya terendam, memilih mencuci pakaian di atas kursi yang agak tinggi. Menurut dia, pemandangan seperti itu sudah biasa di desanya. ‘’Kalau banjir ya tetap melakukan aktivitas seperti biasanya. Tiap tahun seperti ini,’’ tuturnya. 

Sedangkan Kasiyati, warga RT 06/RW 03 memilih mengungsi ke tetangga. Sebab, rumahnya terendam hingga mencapai dada. Perempuan paro baya itu merasakan air menggenangi rumahnya Sabtu sekitar pukul 23.30.

‘’Langsung penuh seperti ini. Gak bisa beraktivitas di rumah, jadi mengungsi ke tetangga yang rumahnya tak banjir,’’ ujar Kasiyati. 

KOTA – Banjir akibat luapan daerah aliran sungai (DAS) Bengawan Solo makin meluas. Jika Sabtu (24/2), kurang dari 500 rumah yang kebanjiran di dua kecamatan, maka kemarin (25/2) terdata 1.691 rumah tergenang di lima kecamatan. 

‘’Mulai tadi malam (Sabtu malam) laporan wilayah yang terimbas banjir bertambah,’’ tutur Kasi Tanggap Darurat BPBD Lamongan, Muslimin, kemarin (25/2).

Rinciannya, 108 rumah pada empat desa di Kecamatan Glagah. Di Desa/Kecamatan Karangbinangun, sembilan rumah tergenang.

Kemudian 687 rumah di Kecamatan Babat, 394 rumah pada tiga desa di Kecamatan Maduran, serta 45 rumah pada dua desa di Kecamatan Karanggeneng. 

‘’Paling banyak di Kecamatan Laren. Yang terkena banjir sembilan desa, jumlahnya 448 rumah,’’ tutur Muslimin saat dikonfirmasi via ponsel. 

Dia mengklaim pihaknya telah mendistribusikan gedeg, bongkotan, sak, terpal, dan sejumlah alat untuk mengatasi luapan air.

Hal itu sebagai upaya antisipasif jika nantinya luapan air makin deras. Terutama di Kecamatan Babat dan Laren. Dua kecamatan itu paling rentan terimbas banjir. 

Muslimin mengaku belum mendapat laporan banjir secara detail di daerah aliran Bengawan Solo lainnya seperti wilayah Karanggeneng, Kalitengah, dan Turi.

‘’Di Kalitengah sudah ada luberan di Desa Kuluran tapi tak sampai menggenangi rumah warga,’’ ujarnya. 

BPBD Lamongan masih memantau debit air dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo. Pukul 12.00 kemarin, debit air di tiga kecamatan masih siaga merah. 

Baca Juga :  Kebobolan Cepat Menjadi Momok

Papan duga Kecamatan Babat menunjukkan 8,45 pheilscall, papan duga Kecamatan Laren tingginya 5,88 pheilscall, dan Kecamatan Karanggeneng tingginya 4,67 pheilscall. 

Hanya DAS Bengawan Solo di Kuro yang masih berstatus siaga kuning, yakni 2,46 pheilscall. ‘’Untuk sementara tren Karangnongko dan Bojonegoro turun. Imbasnya nanti di Babat dan Laren. Pergerakan air dari Bojonegoro 14 jam, jadi nanti turunnya di Babat,’’ imbuh Muslimin. 

Sementara itu, Kades Truni, Kecamatan Babat, Martono, mendata sejumlah rumah di tujuh rukun tetangga (RT) kebanjiran. Air masuk ke pemukiman yang dikelilingi desa di Kecamatan Widang, Tuban tersebut dari timur. Bahkan, lima tempat ibadah di Desa Truni juga tergenang air. 

‘’Masuknya dari arah Bengawan Solo. Terparah mulai RT 7 hingga RT 12,’’ beber kades yang sudah menjabat dua periode tersebut. 

Berdasar pengamatannya, air Bengawan Solo masuk ke lahan desa setempat sebanyak enam kali mulai Nopember lalu. Namun, lima kali dampak luapan air dari sungai terpanjang di Pulau Jawa itu hanya merendam areal persawahan. 

‘’Selama musim hujan, baru kali ini menggenangi rumah warga,’’ ujarnya.

Desa paling barat di Kecamatan Babat itu tiap tahunnya menjadi langganan banjir. Namun, diakui Martono, luapan air tak seganas dua tahun sebelumnya.

Baca Juga :  Kebutuhan Pupuk Petambak 28 Ribu Ton

Musim hujan dua tahun lalu, lebih banyak rumah yang terendam, serta terhitung luapan air hingga lebih dari 15 kali. ‘’Sedangkan tahun lalu luapan air ke lahan Desa Truni sebanyak 11 kali,’’ imbuhnya. 

Selain itu, lanjut dia, akses jalan satu – satunya ke Desa Truni melalui Desa/Kecamatan Widang, Tuban. Sebab, akses jalan menuju ke Babat dari utara terendam air. ‘’Hanya satu akses jalan itu yang bisa dilewati saat banjir seperti ini,’’ tuturnya. 

Karmo, warga desa setempat, mengatakan, rumahnya kemasukan air hingga mencapai perut. Kakek yang sebagian rambutnya memutih itu beraktivitas dengan pakaian yang basah. ‘’Biasanya ya seperti ini kalau sedang banjir,’’ ujar Karmo. 

Heni, warga lainnya yang rumahnya terendam, memilih mencuci pakaian di atas kursi yang agak tinggi. Menurut dia, pemandangan seperti itu sudah biasa di desanya. ‘’Kalau banjir ya tetap melakukan aktivitas seperti biasanya. Tiap tahun seperti ini,’’ tuturnya. 

Sedangkan Kasiyati, warga RT 06/RW 03 memilih mengungsi ke tetangga. Sebab, rumahnya terendam hingga mencapai dada. Perempuan paro baya itu merasakan air menggenangi rumahnya Sabtu sekitar pukul 23.30.

‘’Langsung penuh seperti ini. Gak bisa beraktivitas di rumah, jadi mengungsi ke tetangga yang rumahnya tak banjir,’’ ujar Kasiyati. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/