alexametrics
29.2 C
Bojonegoro
Tuesday, June 28, 2022

Longsor, Sayap Jembatan Bojonegoro – Ngawi Ambrol

Radar Bojonegoro – Ruas jalan nasional persisnya di Jembatan Kali Bedah Desa Geneng, Kecamatan Margomulyo, terpaksa dilakukan satu jalur. Sayap jembatan sisi utara mengalami longsor. Titik longsor ditandai pembatas. Petugas juga berjaga di sekitar jembatan. Akses jembatan ini cukup vital karena menuju Kabupaten Ngawi juga pintu masuk tol Surabaya-Jogjakarta. Hingga kemarin sore (25/1) belum bisa dilakukan perbaikan. Masih menunggu desain dan tender.

Camat Margomulyo Sahlan mengatakan, arus lalu lintas di jembatan masih lancar karena hanya sisi samping mengalami longsor. Masih bisa dilalui kendaraan. “Normal, di luar sayap jalan,” ungkapnya.

Kepala Bidang (Kabid) Pengembangan dan Keselamatan Transportasi Dinas Perhubungan (Dishub) Bojonegoro Sukirno menerangkan, secara rutin tim unit reaksi cepat (URC) dishub melakukan penertiban arus lalu lintas di Jembatan Kali Bedah yang mengalami longsor. Berdasar hasil asesmen di lokasi, dimensi longsor panjang 10 meter, lebar 5 meter, serta tinggi 5 hingga 10 meter.

Penyebab longsor usai diguyur hujan deras selama dua hari pada 21-22 Januari. Adapun penjagaan atau pengamanan jalan setiap harinya dilakukan oleh anggota Polsek Margomulyo beserta masyarakat setempat. “Kami telah koordinasi dengan petugas teknik PPK (pejabat pembuat komitmen) BBPJN (Balai Pelaksanaan Jalan Nasional) wilayah Bojonegoro. Tapi hingga saat ini belum ada perbaikan,” terangnya.

Baca Juga :  Masukkan Pasal Khusus Sekdes PNS

PPK BBPJN di Bojonegoro Kristanto Yudha mengatakan, kondisi abutmen (bangunan bawah jembatan terletak pada ujung pilar jembatan) masih aman. Tidak terjadi rotasi walaupun terjadi longsor pada oprit atau timbunan jalan pendekat jembatan. Yudha menjelaskan, longsor terjadi karena arus deras menggerus dinding oprit secara terus-menerus.

Intensitas arus seiring musim hujan sehingga konstruksi bawah ambrol. Sementara ini dilakukan pengamanan di area jembatan Kali Bedah dengan pemberian rambu peringatan di 50 meter maupun 100 meter sebelum jembatan. Juga di lokasi longsor ditambah pemasangan barier area kerusakan.

Selain itu, penggunaan satu lajur ketika melewati jembatan. Sehingga kendaraan dari kedua arah harus bergantian. Penjagaan juga dilakukan selama 24 jam. Yudha mengaku oprit yang longsor nantinya akan dibersihkan dan dibangun kembali dengan konstruksi lebih kuat. Namun membutuhkan waktu untuk desain dan tender. Atau adendum dari paket preservasi jalan Bojonegoro yang akan kontrak awal Februari.

Baca Juga :  Akhirnya! Spesialis Copet Handphone Ditangkap

“Untuk Jembatan Kali Bedah rencana pembongkaran bagian yang longsor dan perencanaan desain struktur kembali,” ujarnya.

Sementara itu, di Desa Ngori, Kecamatan Ngraho, juga terdapat sisi jalan yang longsor. Namun, bisa diperbaiki lebih cepat dengan pembuatan dinding pasangan batu baru menggantikan dinding yang sudah terkikis air. “Kami berusaha sesegera mungkin untuk menangani,” ungkapnya.

Yudha menambahkan, di Bojonegoro terdapat lebih dari 39 jembatan dan gorong-gorong berpotensi sama. Karena itu, pihaknya memerintahkan penilik jalan dan jembatan untuk mengon trol lebih intensif kondisinya. “Penilik jalan setiap hari memeriksa kondisi dan melaporkan. Kami bekerja sama dengan pemkab,” jelasnya. (van)

Radar Bojonegoro – Ruas jalan nasional persisnya di Jembatan Kali Bedah Desa Geneng, Kecamatan Margomulyo, terpaksa dilakukan satu jalur. Sayap jembatan sisi utara mengalami longsor. Titik longsor ditandai pembatas. Petugas juga berjaga di sekitar jembatan. Akses jembatan ini cukup vital karena menuju Kabupaten Ngawi juga pintu masuk tol Surabaya-Jogjakarta. Hingga kemarin sore (25/1) belum bisa dilakukan perbaikan. Masih menunggu desain dan tender.

Camat Margomulyo Sahlan mengatakan, arus lalu lintas di jembatan masih lancar karena hanya sisi samping mengalami longsor. Masih bisa dilalui kendaraan. “Normal, di luar sayap jalan,” ungkapnya.

Kepala Bidang (Kabid) Pengembangan dan Keselamatan Transportasi Dinas Perhubungan (Dishub) Bojonegoro Sukirno menerangkan, secara rutin tim unit reaksi cepat (URC) dishub melakukan penertiban arus lalu lintas di Jembatan Kali Bedah yang mengalami longsor. Berdasar hasil asesmen di lokasi, dimensi longsor panjang 10 meter, lebar 5 meter, serta tinggi 5 hingga 10 meter.

Penyebab longsor usai diguyur hujan deras selama dua hari pada 21-22 Januari. Adapun penjagaan atau pengamanan jalan setiap harinya dilakukan oleh anggota Polsek Margomulyo beserta masyarakat setempat. “Kami telah koordinasi dengan petugas teknik PPK (pejabat pembuat komitmen) BBPJN (Balai Pelaksanaan Jalan Nasional) wilayah Bojonegoro. Tapi hingga saat ini belum ada perbaikan,” terangnya.

Baca Juga :  Alam Kita Sudah Rusak

PPK BBPJN di Bojonegoro Kristanto Yudha mengatakan, kondisi abutmen (bangunan bawah jembatan terletak pada ujung pilar jembatan) masih aman. Tidak terjadi rotasi walaupun terjadi longsor pada oprit atau timbunan jalan pendekat jembatan. Yudha menjelaskan, longsor terjadi karena arus deras menggerus dinding oprit secara terus-menerus.

Intensitas arus seiring musim hujan sehingga konstruksi bawah ambrol. Sementara ini dilakukan pengamanan di area jembatan Kali Bedah dengan pemberian rambu peringatan di 50 meter maupun 100 meter sebelum jembatan. Juga di lokasi longsor ditambah pemasangan barier area kerusakan.

Selain itu, penggunaan satu lajur ketika melewati jembatan. Sehingga kendaraan dari kedua arah harus bergantian. Penjagaan juga dilakukan selama 24 jam. Yudha mengaku oprit yang longsor nantinya akan dibersihkan dan dibangun kembali dengan konstruksi lebih kuat. Namun membutuhkan waktu untuk desain dan tender. Atau adendum dari paket preservasi jalan Bojonegoro yang akan kontrak awal Februari.

Baca Juga :  Satreskrim Polres Bojonegoro Tangkap Egga saat di Guru Spiritual

“Untuk Jembatan Kali Bedah rencana pembongkaran bagian yang longsor dan perencanaan desain struktur kembali,” ujarnya.

Sementara itu, di Desa Ngori, Kecamatan Ngraho, juga terdapat sisi jalan yang longsor. Namun, bisa diperbaiki lebih cepat dengan pembuatan dinding pasangan batu baru menggantikan dinding yang sudah terkikis air. “Kami berusaha sesegera mungkin untuk menangani,” ungkapnya.

Yudha menambahkan, di Bojonegoro terdapat lebih dari 39 jembatan dan gorong-gorong berpotensi sama. Karena itu, pihaknya memerintahkan penilik jalan dan jembatan untuk mengon trol lebih intensif kondisinya. “Penilik jalan setiap hari memeriksa kondisi dan melaporkan. Kami bekerja sama dengan pemkab,” jelasnya. (van)

Artikel Terkait

Most Read

Bangun Fasilitas Olahraga hingga Pasar

Cuti Bertambah, Libur 10 Hari

Satu Desa Diadukan

Artikel Terbaru

Delapan Incumbent Kalah Suara

PT DESI Bakal Dilarang Beroperasi

Matangkan Persiapan

Rudjito – Zaenuri Divonis 4 Tahun


/