alexametrics
29.2 C
Bojonegoro
Monday, June 27, 2022

Kaji Ulang Pasar Kota, DPRD Akui Tak Tahu Rencana Pemindahan

Radar Bojonegoro – Rencana Dinas Perdagangan dan Koperasi (Dindagkop) Bojonegoro memindah pedagang Pasar Kota ke Pasar Banjarejo II tampaknya belum satu frekuensi dengan DPRD setempat.

Buktinya, kalangan DPRD mengaku belum mengetahui rencana pengalihan fungsi Pasar Kota menjadi ruang terbuka hijau. Sehingga, legislatif meminta OPD terkait mengakji ulang rencana itu, meskipun pemkab sudah menganggarkan pembangunan pasar baru itu Rp 70 miliar.

Agar kebijakan pemerintah tidak menimbulkan polemik, akademisi menyarankan ada komunikasi intens antara pengelola pasar dengan pedagang. ‘’Rencana itu (pemindahan pasar) harus dikaji ulang,’’ kata Anggota Komisi B DPRD Bojonegoro Lasuri kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro.

Menurut dia, kalangan legislatif meminta disdagkop mempertimbangkan pemindahan Pasar Kota ke pasar baru itu. Apalagi, targetnya tahun depan, dinilai cukup singkat. Berpotensi jadi polemik bagi para pedagang. Pasar Kota idealnya di jantung kota. Karena menjadi salah satu ikon. Jika terlalu jauh, pasar itu tidak bisa menjadi ikon kota.

Selain itu, ruang terbuka hijau (RTH) di wilayah kota dinilai sudah cukup banyak. Alun-alun juga sudah cukup luas. Sehingga tidak perlu penambahan RTH baru. ‘’Kalau bisa pasar kota itu dibangun, tidak perlu dipindah,’’ tegasnya.

Lasuri menegaskan, rencana pemindahan Pasar Kota itu sejauh ini belum diketahui Komisi B. karena selama ini yang terdengar di komisi yang membidangi keuangan dan ekonomi itu rencana pembangunan Pasar Kota. ‘’Rencana memindahkan pasar kota ke pasar hewan itu saya baru tahu saat ini,’’ tandasnya penasaran.

Pembangunan Pasar Banjarejo II, kata dia, sudah disampaikan dalam pembahasan APBD 2021 lalu. Namun, saat itu sebagian anggota DPRD secara rinci belum fokus pada lokasi pasar itu. ‘’Kalau pemindahan pasar hewan (ke Kecamatan Balen) kami memang tahu. Itu sudah dibahas sejak awal,’’ jelasnya.

Baca Juga :  Santri Melepas Rindu Setelah Dua Tahun Gagal Pawai

Dalam waktu dekat, DPRD akan berkoordinasi dengan OPD terkait polemik pasar. Sehingga, bisa diketahui rencana pemindahan pasar itu. Sekretaris Komisi C DPRD Bojonegoro Ahmad Supriyanto mengatakan, rencana pemindahan pedagang memang jangan buruburu dilakukan. Apalagi, pada masa pandemi seperti ini. Pedagang akan kesulitan menyesuaikan dengan lokasi baru. ‘’Menurut saya memang harus dikaji ulang. Perlu melibatkan pedagang,’’ tuturnya singkat.

Kaprodi Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Bojonegoro Moh. Saiful Anam mengatakan kebijakan pemkab dalam merelokasi pasar harus mendapat persetujuan dari pedagang itu sendiri. Sebab mampu menjadi jawaban dari himpitan ekonomi pedagang di tengah pandemi korona. Pemerintah harus turun tangan untuk mengelola, agar pemindahan pasar ini tidak menimbulkan masalah baru. Misalnya, masalah alokasi data pedagang yang akan menempati pasar. “Pemerintah harus hadir agar tidak ada konflik antarpedagang,” ungkapnya.

Anam menekankan beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam kebijakan relokasi pasar. Meliputi akses transportasi, jangan sampai tanpa diimbangi dengan penataan tempat parkir. Karena bisa menyebabkan masalah baru, yaitu kemacetan. Kemudian aspek sosial budaya dan lingkungan, idealnya komunikasi pengelola pasar dan pedagang harus lancar, agar tidak terajdi gejolak.

Jika setiap kebijakan pemerintah tanpa ada komunikasi yang intens dipastikan akan terjadi gejolak. Agar ke depan tidak ada citra pasar tradisional adalah tempat yang kumuh dan kotor, pengelola harus memberikan edukasi dan menyediakan fasilitas tempat sampah memadai.

Baca Juga :  Menjelang Liburan Sekolah, Permintaan Kamera Digital Tren Naik

Infrastruktur pasar yang berkualitas, khususnya aksebilitas transportasi dapat dirasakan manfaatnya. Terutama menjamin distribusi bahan pokok. Juga menggerakkan sektor riil atau UMKM merata hingga pelosok desa. “Adanya penataan pasar akan berdampak terhadap sektor ekonomi masyarakat sekitar. Banyak aktifitas ekonomi yang akan terjadi,” ujarnya.

Dosen Ekonomi Universitas Trunojoyo Madura Boy Singgih Gitayuda mengatakan lokasi pasar kota sekarang sangat strategis. Karena berada di tengah kota. Namun, selain itu banyak faktor yang memengaruh tempat kegiatan ekonomi dikatakan stategis. Seperti dekat dengan bahan baku, pembeli (masyarakat), pemasok, mudah dijangkau seluruh alat transpontasi, dan dekat dengang fasilitas penunjang lain. Mungkin pemadam kebakaran, rumah sakit, keamanan (kantor polisi).

Jika masalah Pasar Kota tidak bisa berkembang karena lahan yang sempit. Dan alasan pemindahan lahan bekas pasar untuk ruang terbuka hijau bagus. Namun banyak hal perlu diperhatikan bagi pasar baru. “Di tempat baru pasar harus lebih luas maupun rapi, dan parkir nyaman. Pasti akan semakin meningkatkan kunjungan di pasar. Yang pasti harus ada kemajuan daripada pasar lama,” ujar alumni SMAN 1 Bojonegoro itu.

Boy memrediksi di awal pindah, pedagang pasti perlu adaptasi. Pendapatan pedagang berkurang. Tetapi wajar dan akan kembali normal seiring berjalannya waktu. “Tidak bisa diprediksi dengan tepat perlu berapa lama waktu adaptasi. Mungkin beberapa bulan,” jelasnya.

Boy menambahkan dalam pemindah harus memberikan solusi terbaik dan tidak akan lepas tangan. Sebab perbaikan akses dan kualitas pasar akan berpengaruh pada peningkatan pengunjung dan pendapatan pedagang. (irv)

Radar Bojonegoro – Rencana Dinas Perdagangan dan Koperasi (Dindagkop) Bojonegoro memindah pedagang Pasar Kota ke Pasar Banjarejo II tampaknya belum satu frekuensi dengan DPRD setempat.

Buktinya, kalangan DPRD mengaku belum mengetahui rencana pengalihan fungsi Pasar Kota menjadi ruang terbuka hijau. Sehingga, legislatif meminta OPD terkait mengakji ulang rencana itu, meskipun pemkab sudah menganggarkan pembangunan pasar baru itu Rp 70 miliar.

Agar kebijakan pemerintah tidak menimbulkan polemik, akademisi menyarankan ada komunikasi intens antara pengelola pasar dengan pedagang. ‘’Rencana itu (pemindahan pasar) harus dikaji ulang,’’ kata Anggota Komisi B DPRD Bojonegoro Lasuri kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro.

Menurut dia, kalangan legislatif meminta disdagkop mempertimbangkan pemindahan Pasar Kota ke pasar baru itu. Apalagi, targetnya tahun depan, dinilai cukup singkat. Berpotensi jadi polemik bagi para pedagang. Pasar Kota idealnya di jantung kota. Karena menjadi salah satu ikon. Jika terlalu jauh, pasar itu tidak bisa menjadi ikon kota.

Selain itu, ruang terbuka hijau (RTH) di wilayah kota dinilai sudah cukup banyak. Alun-alun juga sudah cukup luas. Sehingga tidak perlu penambahan RTH baru. ‘’Kalau bisa pasar kota itu dibangun, tidak perlu dipindah,’’ tegasnya.

Lasuri menegaskan, rencana pemindahan Pasar Kota itu sejauh ini belum diketahui Komisi B. karena selama ini yang terdengar di komisi yang membidangi keuangan dan ekonomi itu rencana pembangunan Pasar Kota. ‘’Rencana memindahkan pasar kota ke pasar hewan itu saya baru tahu saat ini,’’ tandasnya penasaran.

Pembangunan Pasar Banjarejo II, kata dia, sudah disampaikan dalam pembahasan APBD 2021 lalu. Namun, saat itu sebagian anggota DPRD secara rinci belum fokus pada lokasi pasar itu. ‘’Kalau pemindahan pasar hewan (ke Kecamatan Balen) kami memang tahu. Itu sudah dibahas sejak awal,’’ jelasnya.

Baca Juga :  Sekitar 6.000 Pekerja Terancam, 90 Persen Buruh Wanita

Dalam waktu dekat, DPRD akan berkoordinasi dengan OPD terkait polemik pasar. Sehingga, bisa diketahui rencana pemindahan pasar itu. Sekretaris Komisi C DPRD Bojonegoro Ahmad Supriyanto mengatakan, rencana pemindahan pedagang memang jangan buruburu dilakukan. Apalagi, pada masa pandemi seperti ini. Pedagang akan kesulitan menyesuaikan dengan lokasi baru. ‘’Menurut saya memang harus dikaji ulang. Perlu melibatkan pedagang,’’ tuturnya singkat.

Kaprodi Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Bojonegoro Moh. Saiful Anam mengatakan kebijakan pemkab dalam merelokasi pasar harus mendapat persetujuan dari pedagang itu sendiri. Sebab mampu menjadi jawaban dari himpitan ekonomi pedagang di tengah pandemi korona. Pemerintah harus turun tangan untuk mengelola, agar pemindahan pasar ini tidak menimbulkan masalah baru. Misalnya, masalah alokasi data pedagang yang akan menempati pasar. “Pemerintah harus hadir agar tidak ada konflik antarpedagang,” ungkapnya.

Anam menekankan beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam kebijakan relokasi pasar. Meliputi akses transportasi, jangan sampai tanpa diimbangi dengan penataan tempat parkir. Karena bisa menyebabkan masalah baru, yaitu kemacetan. Kemudian aspek sosial budaya dan lingkungan, idealnya komunikasi pengelola pasar dan pedagang harus lancar, agar tidak terajdi gejolak.

Jika setiap kebijakan pemerintah tanpa ada komunikasi yang intens dipastikan akan terjadi gejolak. Agar ke depan tidak ada citra pasar tradisional adalah tempat yang kumuh dan kotor, pengelola harus memberikan edukasi dan menyediakan fasilitas tempat sampah memadai.

Baca Juga :  Latihan sebelum Sekolah, Hafal Lagu Band Queen

Infrastruktur pasar yang berkualitas, khususnya aksebilitas transportasi dapat dirasakan manfaatnya. Terutama menjamin distribusi bahan pokok. Juga menggerakkan sektor riil atau UMKM merata hingga pelosok desa. “Adanya penataan pasar akan berdampak terhadap sektor ekonomi masyarakat sekitar. Banyak aktifitas ekonomi yang akan terjadi,” ujarnya.

Dosen Ekonomi Universitas Trunojoyo Madura Boy Singgih Gitayuda mengatakan lokasi pasar kota sekarang sangat strategis. Karena berada di tengah kota. Namun, selain itu banyak faktor yang memengaruh tempat kegiatan ekonomi dikatakan stategis. Seperti dekat dengan bahan baku, pembeli (masyarakat), pemasok, mudah dijangkau seluruh alat transpontasi, dan dekat dengang fasilitas penunjang lain. Mungkin pemadam kebakaran, rumah sakit, keamanan (kantor polisi).

Jika masalah Pasar Kota tidak bisa berkembang karena lahan yang sempit. Dan alasan pemindahan lahan bekas pasar untuk ruang terbuka hijau bagus. Namun banyak hal perlu diperhatikan bagi pasar baru. “Di tempat baru pasar harus lebih luas maupun rapi, dan parkir nyaman. Pasti akan semakin meningkatkan kunjungan di pasar. Yang pasti harus ada kemajuan daripada pasar lama,” ujar alumni SMAN 1 Bojonegoro itu.

Boy memrediksi di awal pindah, pedagang pasti perlu adaptasi. Pendapatan pedagang berkurang. Tetapi wajar dan akan kembali normal seiring berjalannya waktu. “Tidak bisa diprediksi dengan tepat perlu berapa lama waktu adaptasi. Mungkin beberapa bulan,” jelasnya.

Boy menambahkan dalam pemindah harus memberikan solusi terbaik dan tidak akan lepas tangan. Sebab perbaikan akses dan kualitas pasar akan berpengaruh pada peningkatan pengunjung dan pendapatan pedagang. (irv)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

Berharap Pasar Hewan segera Dibuka

Harga Tanah Rp 450 Ribu Per Meter

Sempat Vakum Dua Tahun


/