alexametrics
24 C
Bojonegoro
Friday, May 20, 2022

DBH Migas 2018 Belum Bisa Diharapkan

BOJONEGORO – Keuangan Bojonegoro tahun depan dimungkinkan masih mengalami masa suram. Sebab, dana bagi hasil (DBH) migas yang menjadi salah satu penopang anggaran di Kota Ledre ini masih belum bisa diharapkan. Produksi minyak yang tinggi, belum dibarengi kenaikan harga. Karena itu, perolehan DBH tahun depan diperkirakan tak jauh beda dengan tahun ini. 

Gambaran penerimaan DBH yang kurang menyenangkan itu disampaikan Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Herry Sudjarwo yang sedang mengikuti forum lifting di Bangka Belitung. ”Lifting Bojonegoro masih stabil di angka 213 ribu barel per hari,’’ ujarnya.

Dia menjelaskan, hasil rekonsiliasi penghitungan lifting nasional menyebutkan realisasi lifting Bojonegoro periode Januari sampai September mencapai 57,6 juta barel atau 74,20 persen dari prognosa 77,6 juta barel.  Hanya, saat ini harga minyak atau Indonesia crude price (ICP) rata rata 48,51 dolar (USD) per barel. ”ICP ini sebenarnya memenuhi target yang dipatok dalam APBN-P. Sesuai Perpres 86/2017 target pendapatan migas sebesar Rp 1,035 triliun bisa dicapai,’’ tambahnya. 

Baca Juga :  Bojonegoro Bisa Jadi Pioner Pengelolaan DBH Migas

Namun, lanjutnya,  adanya kebijakan pembatasan penyaluran DBH lewat Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 112 Tahun 2017 dan penghitungan lebih salur, membuat Bojonegoro belum bisa keluar dari masa sulit. Sebab, aturan itu menyebut DBH hanya akan disalurkan 70 persen dari pagu yang seharusnya diterima.

Tahun ini, DBH migas untuk Bojonegoro sesuai pagu mestinya Rp 1,035 triliun, namun hanya disalurkan 70 persen dari Rp 1,035 triliun atau sekitar Rp 724 miliar saja. ”Kita tidak bisa berbuat banyak. Mungkin 2018 ada skema perhitungan yang lebih berpihak kepada daerah dan lebih transparan. Harapan kita seperti itu,’’ katanya.

Sekadar diketahui, lifting Bojonegoro triwulan 1, atau Januari – Maret 2017 mencapai 18.784.029 barel atau setara dengan 212 ribu barel per hari. 

Baca Juga :  DBH Migas 2019 Tak Capai Target

Capaian triwulan 1 tersebut sudah menutup 24,56 persen dari target lifting migas di Bojonegoro tahun 2017. Dari yang diprediksikan minimal sebesar 76.492.950 barel.  Dengan ICP saat itu 50 dolar lebih, harapannya DBH yang diterima akan naik. Namun, kenaikan produksi dan ICP yang lumayan tinggi belum  berpengaruh pada penerima DBH Bojonegoro. Sehingga, APBD Bojonegoro terseok-seok.

BOJONEGORO – Keuangan Bojonegoro tahun depan dimungkinkan masih mengalami masa suram. Sebab, dana bagi hasil (DBH) migas yang menjadi salah satu penopang anggaran di Kota Ledre ini masih belum bisa diharapkan. Produksi minyak yang tinggi, belum dibarengi kenaikan harga. Karena itu, perolehan DBH tahun depan diperkirakan tak jauh beda dengan tahun ini. 

Gambaran penerimaan DBH yang kurang menyenangkan itu disampaikan Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Herry Sudjarwo yang sedang mengikuti forum lifting di Bangka Belitung. ”Lifting Bojonegoro masih stabil di angka 213 ribu barel per hari,’’ ujarnya.

Dia menjelaskan, hasil rekonsiliasi penghitungan lifting nasional menyebutkan realisasi lifting Bojonegoro periode Januari sampai September mencapai 57,6 juta barel atau 74,20 persen dari prognosa 77,6 juta barel.  Hanya, saat ini harga minyak atau Indonesia crude price (ICP) rata rata 48,51 dolar (USD) per barel. ”ICP ini sebenarnya memenuhi target yang dipatok dalam APBN-P. Sesuai Perpres 86/2017 target pendapatan migas sebesar Rp 1,035 triliun bisa dicapai,’’ tambahnya. 

Baca Juga :  Suka Mendaki Gunung

Namun, lanjutnya,  adanya kebijakan pembatasan penyaluran DBH lewat Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 112 Tahun 2017 dan penghitungan lebih salur, membuat Bojonegoro belum bisa keluar dari masa sulit. Sebab, aturan itu menyebut DBH hanya akan disalurkan 70 persen dari pagu yang seharusnya diterima.

Tahun ini, DBH migas untuk Bojonegoro sesuai pagu mestinya Rp 1,035 triliun, namun hanya disalurkan 70 persen dari Rp 1,035 triliun atau sekitar Rp 724 miliar saja. ”Kita tidak bisa berbuat banyak. Mungkin 2018 ada skema perhitungan yang lebih berpihak kepada daerah dan lebih transparan. Harapan kita seperti itu,’’ katanya.

Sekadar diketahui, lifting Bojonegoro triwulan 1, atau Januari – Maret 2017 mencapai 18.784.029 barel atau setara dengan 212 ribu barel per hari. 

Baca Juga :  Bojonegoro Bisa Jadi Pioner Pengelolaan DBH Migas

Capaian triwulan 1 tersebut sudah menutup 24,56 persen dari target lifting migas di Bojonegoro tahun 2017. Dari yang diprediksikan minimal sebesar 76.492.950 barel.  Dengan ICP saat itu 50 dolar lebih, harapannya DBH yang diterima akan naik. Namun, kenaikan produksi dan ICP yang lumayan tinggi belum  berpengaruh pada penerima DBH Bojonegoro. Sehingga, APBD Bojonegoro terseok-seok.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/