alexametrics
24.8 C
Bojonegoro
Friday, May 27, 2022

Banyak Penderita DB Meninggal, Warga Dihimbau Berantas Sarang Nyamuk

BOJONEGORO – Angka kematian penderita demam berdarah dengue (DBD) mulai mengkhawatirkan. Hingga November, tujuh penderita meninggal dunia akibat serangan nyamuk Aedes aegypti ini. Padahal, jumlah penderita sejak Januari 2017 ini 194 orang.

Berbeda dengan 2016, jumlah penderita DB 543 jiwa. Namun, yang meninggal 18 penderita. Sehingga, berdasar persentase jumlah penderita dan korban meninggal, tentu tahun ini lebih parah dibanding sebelumnya. 

Kepala Seksi (Kasi) Penyakit Menular Dinas Kesehatan (Dinkes) Bojonegoro Whenny Dyah mengatakan, jumlah kasus meninggal DBD tahun ini yakni tujuh penderita, cukup tinggi.

Sebelumnya, dengan temuan lebih banyak kasus jumlah meninggalnya justru sedikit. 

Sehingga, perlu tindakan agar jumlah penderita meninggal tidak bertambah hingga akhir tahun.

Baca Juga :  15 Anak Derita Demam Berdarah

Apalagi, melihat musim penghujan di penghujung tahun cukup ekstrem. ”Sisa waktu satu setengah bulan, semoga tidak ada kasus meninggal lagi,” katanya kemarin (24/11). 

Menurut Whenny, selama ini kasus meninggal banyak dialami anak-anak usia di bawah 14 tahun.

Karena mereka terbiasa bermain di arena terbuka, sehingga tidak memperhatikan kebersihan lingkungan.

Memasuki musim penghujan, orang tua harus memasang perhatian lebih. Sebab, nyamuk memiliki waktu khusus mencari mangsanya. 

Bojonegoro merupakan kabupaten endemi  DB. Setiap tahun selalu ada kasus DB dan selalu ada korban meninggal.

Sehingga, kewaspadaan bukan hanya bagi petugas kesehatan. Tetapi, kesadaran orang tua dan lingkungan terus melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN). 

Baca Juga :  DB Serang Anak Usia Sekolah di Lamongan

Temuan beberapa kasus terakhir cukup mendadak. Artinya, pasien meninggal mendadak setelah mendapat perawatan selama tiga hari.

Temuan kasus terakhir, justru pasien sudah dalam fase pengobatan, dan kondisi fisiknya sudah lemas. 

Petugas dinkes, kata dia, masih menelusuri, apakah penyebabnya memang serangan virus mutasi. Atau ada persebaran jentik dari kantong-kantong tertentu.ri

BOJONEGORO – Angka kematian penderita demam berdarah dengue (DBD) mulai mengkhawatirkan. Hingga November, tujuh penderita meninggal dunia akibat serangan nyamuk Aedes aegypti ini. Padahal, jumlah penderita sejak Januari 2017 ini 194 orang.

Berbeda dengan 2016, jumlah penderita DB 543 jiwa. Namun, yang meninggal 18 penderita. Sehingga, berdasar persentase jumlah penderita dan korban meninggal, tentu tahun ini lebih parah dibanding sebelumnya. 

Kepala Seksi (Kasi) Penyakit Menular Dinas Kesehatan (Dinkes) Bojonegoro Whenny Dyah mengatakan, jumlah kasus meninggal DBD tahun ini yakni tujuh penderita, cukup tinggi.

Sebelumnya, dengan temuan lebih banyak kasus jumlah meninggalnya justru sedikit. 

Sehingga, perlu tindakan agar jumlah penderita meninggal tidak bertambah hingga akhir tahun.

Baca Juga :  Calon Pengantin Wajib Dikonseling Tes HIV

Apalagi, melihat musim penghujan di penghujung tahun cukup ekstrem. ”Sisa waktu satu setengah bulan, semoga tidak ada kasus meninggal lagi,” katanya kemarin (24/11). 

Menurut Whenny, selama ini kasus meninggal banyak dialami anak-anak usia di bawah 14 tahun.

Karena mereka terbiasa bermain di arena terbuka, sehingga tidak memperhatikan kebersihan lingkungan.

Memasuki musim penghujan, orang tua harus memasang perhatian lebih. Sebab, nyamuk memiliki waktu khusus mencari mangsanya. 

Bojonegoro merupakan kabupaten endemi  DB. Setiap tahun selalu ada kasus DB dan selalu ada korban meninggal.

Sehingga, kewaspadaan bukan hanya bagi petugas kesehatan. Tetapi, kesadaran orang tua dan lingkungan terus melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN). 

Baca Juga :  Imunisasi Difteri Pakai Dana Talangan

Temuan beberapa kasus terakhir cukup mendadak. Artinya, pasien meninggal mendadak setelah mendapat perawatan selama tiga hari.

Temuan kasus terakhir, justru pasien sudah dalam fase pengobatan, dan kondisi fisiknya sudah lemas. 

Petugas dinkes, kata dia, masih menelusuri, apakah penyebabnya memang serangan virus mutasi. Atau ada persebaran jentik dari kantong-kantong tertentu.ri

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/