alexametrics
25.5 C
Bojonegoro
Sunday, July 3, 2022

Sehari Tujuh Perkara Perceraian Diputus

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Pengentasan kemiskinan menjadi salah satu faktor yang menekan angka perceraian di Bojonegoro. Sebab, dalam kurun waktu delapan bulan (Januari hingga Agustus)  tercatat ada 1.699 perkara perceraian diputus Pengadilan Agama (PA) Bojonegoro. Berarti, rerata sehari terdapat tujuh perkara perceraian.

Kebanyakan perceraian karena faktor ekonomi. Dan, pihak perempuan paling banyak mengajukan gugatan. Ada 1.149 cerai gugat. Sedangkan, 550 lainnya cerai talak. Jika dibandingkan tahun lalu ada 2.965 perceraian. Disebabkan karena faktor ekonomi 1.759 perceraian.

Panitera PA Bojonegoro Sholikin Jami’ mengatakan, banyaknya perempuan mengajukan gugat cerai menandakan adanya kesadaran perempuan melindungi hak-haknya. Hak perempuan dan laki-laki sama dalam hukum.

Baca Juga :  Belum Ada Setoran BUMD

Sementara, banyaknya perempuan menggugat cerai, kata Sholikin, menandakan dua hal. Laki-laki tidak bertanggung jawab dan perempuan sudah memahami hak-haknya untuk menuntut keadilan.

Sementara, bukan hanya persoalan tidak ada tanggung jawab  saja. Namun lebih pada perempuan perlu melihat laki-laki keseluruhan dan tidak mudah terperdaya. Jika dibaca berdasar data, tentu terlihat banyak perempuan yang menuntut keadilan. Misalnya kejadian laki-laki meninggalkan istrinya begitu saja.

Perceraian di Bojonegoro menjadi momok rumah tangga tidak harmonis. Untuk itu, menurut Sholikin, perlu pembinaan lebih intensif terkait penikahan. Hingga pernikahan tidak menjadi alasan tidak terpenuhinya ekonomi keluarga berujung perceraian.

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Pengentasan kemiskinan menjadi salah satu faktor yang menekan angka perceraian di Bojonegoro. Sebab, dalam kurun waktu delapan bulan (Januari hingga Agustus)  tercatat ada 1.699 perkara perceraian diputus Pengadilan Agama (PA) Bojonegoro. Berarti, rerata sehari terdapat tujuh perkara perceraian.

Kebanyakan perceraian karena faktor ekonomi. Dan, pihak perempuan paling banyak mengajukan gugatan. Ada 1.149 cerai gugat. Sedangkan, 550 lainnya cerai talak. Jika dibandingkan tahun lalu ada 2.965 perceraian. Disebabkan karena faktor ekonomi 1.759 perceraian.

Panitera PA Bojonegoro Sholikin Jami’ mengatakan, banyaknya perempuan mengajukan gugat cerai menandakan adanya kesadaran perempuan melindungi hak-haknya. Hak perempuan dan laki-laki sama dalam hukum.

Baca Juga :  Belum Tentukan Desain Surat Suara

Sementara, banyaknya perempuan menggugat cerai, kata Sholikin, menandakan dua hal. Laki-laki tidak bertanggung jawab dan perempuan sudah memahami hak-haknya untuk menuntut keadilan.

Sementara, bukan hanya persoalan tidak ada tanggung jawab  saja. Namun lebih pada perempuan perlu melihat laki-laki keseluruhan dan tidak mudah terperdaya. Jika dibaca berdasar data, tentu terlihat banyak perempuan yang menuntut keadilan. Misalnya kejadian laki-laki meninggalkan istrinya begitu saja.

Perceraian di Bojonegoro menjadi momok rumah tangga tidak harmonis. Untuk itu, menurut Sholikin, perlu pembinaan lebih intensif terkait penikahan. Hingga pernikahan tidak menjadi alasan tidak terpenuhinya ekonomi keluarga berujung perceraian.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

Makin Sombong, Makin Bernilai

Kehilangan Akun Line


/