alexametrics
23.7 C
Bojonegoro
Monday, June 27, 2022

Konsep Taman Harus Bisa Diakses Disabilitas

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Pembangunan 12 taman di Bojonegoro harus ramah anak dan disabilitas. Konsep dan desain taman harus bisa dinikmati semua kalangan. “Penerangan dan sistem pengamanan harus diperhatikan. Sehingga anak-anak yang main di taman merasa aman,” kata Nafidatul Himah, aktivis Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Bojonegoro kemarin (24/9).

Dia mengungkapkan, keberadaan taman atau ruang terbuka hijau (RTH) perlu diperbanyak. Adanya pepohonan mampu mengurangi suhu panasnya Bojonegoro. Dan taman-taman bisa dibuat bermain ketika pagi maupun malam. Jadi penerangan di taman juga harus diperhatikan.

Hal senada diungkapkan salah satu warga Kelurahan Sumbang Chusnul Chotimmah, bahwa RTH berupa taman itu paling banyak dimanfaatkan anak-anak didampingi ibunya. Karena itu, taman wajib ramah anak.  Diperlukan adanya ruang laktasi bagi ibu menyusui.

Baca Juga :  Empat Jembatan Berstatus Rentan, Hanya Ditahan Karung Pasir

“Sebab setahu saya taman-taman lainnya belum ada ruang laktasi,” tuturnya.

Dia mengomentari soal perlunya diperbanyak tempat teduh, bisa pepohonan atau peneduh lainnya. Ia berharap taman-taman yang baru  itu tidak seperti Taman Rajekwesi. Taman tersebut sedikit sekali tempat berteduh. Sehingga ketika siang hari kurang nyaman difungsikan sebagai tempat rekreasi. Dan tempat sampah harus diperbanyak.

“Saran saya, Bojonegoro tidak terlalu butuh bunga-bunga atau tanaman kecil, lebih baik tanam pohon. Meski butuh waktu lama untuk tumbuh, tapi perawatan ke depan enggak butuh banyak dana dan lebih banyak kasih sumbangan oksigen,” tegasnya.

Komentar juga datang dari Ketua Penyandang Disabilitas Kabupaten Bojonegoro (PDKB) Sanawi, terkait arsitektur taman harus inklusif. Sehingga para penyandang disabilitas bisa menikmati taman-taman tersebut. Toilet taman diharapkan ramah disabilitas. Jalanan taman juga harus bisa diakses orang menggunakan kursi roda.

“Tentu harapan kami tak muluk-muluk, taman-taman wajib ramah disabilitas atau inklusif,” tuturnya.

Baca Juga :  Pendaftaran Panwascam Dibuka Hari Ini, Berikut Persyaratannya...

Sementara itu, Kepala Seksi (Kasi) Pertamanan dan Pemakaman Dinas Perumahan Kawan Permukiman dan Cipta Karya (DPKPCK) Bojonegoro Doni Agus Setyawan mengatakan, 12 taman yang akan dibangun itu ramah disabilitas. Khususnya taman lokomotif yang menelan anggaran Rp 4,2 miliar itu juga akan dijadikan hutan kota.

Rencananya akan ditanami pohon mangga dan akasia yang tingginya sekitar tujuh meter. “Taman itu juga ramah untuk lansia dan juga ada diorama kereta api,” ungkapnya.

Namun, disinggung ruang laktasi, ia mengatakan belum masuk dalam perencanaan. Pihaknya mengaku belum terpikir membangun ruang laktasi di taman tersebut. Tetapi, apabila ada permintaan mendesak dari masyarakat, DPKPCK akan mengupayakan pengadaan tahun depan.

“Saya tidak bisa janji, tapi hal tersebut kami masukkan dan melihat permintaan dari masyarakat,” ujar pria tinggal di Kelurahan Ledok Kulon ini.

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Pembangunan 12 taman di Bojonegoro harus ramah anak dan disabilitas. Konsep dan desain taman harus bisa dinikmati semua kalangan. “Penerangan dan sistem pengamanan harus diperhatikan. Sehingga anak-anak yang main di taman merasa aman,” kata Nafidatul Himah, aktivis Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Bojonegoro kemarin (24/9).

Dia mengungkapkan, keberadaan taman atau ruang terbuka hijau (RTH) perlu diperbanyak. Adanya pepohonan mampu mengurangi suhu panasnya Bojonegoro. Dan taman-taman bisa dibuat bermain ketika pagi maupun malam. Jadi penerangan di taman juga harus diperhatikan.

Hal senada diungkapkan salah satu warga Kelurahan Sumbang Chusnul Chotimmah, bahwa RTH berupa taman itu paling banyak dimanfaatkan anak-anak didampingi ibunya. Karena itu, taman wajib ramah anak.  Diperlukan adanya ruang laktasi bagi ibu menyusui.

Baca Juga :  Pendaftaran Panwascam Dibuka Hari Ini, Berikut Persyaratannya...

“Sebab setahu saya taman-taman lainnya belum ada ruang laktasi,” tuturnya.

Dia mengomentari soal perlunya diperbanyak tempat teduh, bisa pepohonan atau peneduh lainnya. Ia berharap taman-taman yang baru  itu tidak seperti Taman Rajekwesi. Taman tersebut sedikit sekali tempat berteduh. Sehingga ketika siang hari kurang nyaman difungsikan sebagai tempat rekreasi. Dan tempat sampah harus diperbanyak.

“Saran saya, Bojonegoro tidak terlalu butuh bunga-bunga atau tanaman kecil, lebih baik tanam pohon. Meski butuh waktu lama untuk tumbuh, tapi perawatan ke depan enggak butuh banyak dana dan lebih banyak kasih sumbangan oksigen,” tegasnya.

Komentar juga datang dari Ketua Penyandang Disabilitas Kabupaten Bojonegoro (PDKB) Sanawi, terkait arsitektur taman harus inklusif. Sehingga para penyandang disabilitas bisa menikmati taman-taman tersebut. Toilet taman diharapkan ramah disabilitas. Jalanan taman juga harus bisa diakses orang menggunakan kursi roda.

“Tentu harapan kami tak muluk-muluk, taman-taman wajib ramah disabilitas atau inklusif,” tuturnya.

Baca Juga :  Defisit P-APBD Bojonegoro Tertutup DBH Migas

Sementara itu, Kepala Seksi (Kasi) Pertamanan dan Pemakaman Dinas Perumahan Kawan Permukiman dan Cipta Karya (DPKPCK) Bojonegoro Doni Agus Setyawan mengatakan, 12 taman yang akan dibangun itu ramah disabilitas. Khususnya taman lokomotif yang menelan anggaran Rp 4,2 miliar itu juga akan dijadikan hutan kota.

Rencananya akan ditanami pohon mangga dan akasia yang tingginya sekitar tujuh meter. “Taman itu juga ramah untuk lansia dan juga ada diorama kereta api,” ungkapnya.

Namun, disinggung ruang laktasi, ia mengatakan belum masuk dalam perencanaan. Pihaknya mengaku belum terpikir membangun ruang laktasi di taman tersebut. Tetapi, apabila ada permintaan mendesak dari masyarakat, DPKPCK akan mengupayakan pengadaan tahun depan.

“Saya tidak bisa janji, tapi hal tersebut kami masukkan dan melihat permintaan dari masyarakat,” ujar pria tinggal di Kelurahan Ledok Kulon ini.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/