alexametrics
29.2 C
Bojonegoro
Monday, June 27, 2022

Enam Bulan, 55 Mama – Papa di Bawah Umur

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Dispensasi kawin (diska) di Kabupaten Bojonegoro mengalami kenaikan setiap bulan. Panitera Pengadilan Agama Kabupaten Bojonegoro, Solikin Jami, mengatakan, Agustus banyak yang mengajukan diska ke PA. Data lengkapnya menunggu akhir bulan.

‘’Banyak. Nanti akhir Agustus akan diketahui berapa jumlahnya,’’ katanya kemarin (24/8).

Diska periode Januari hingga April ada 38 perkara. Namun, diputus 31 diska. Sementara April sampai Juni diterima 25 diska dan diputus 24 diska. Jika ditotal, maka diska yang diterima periode Januari hingga Juni ada 63 perkara dan yang diputus 55 perkara.

Dia menyinggung Kabupaten Gresik yang melakukan pencegahan dan penghentian pernikahan anak usia dini secara serius. Surat edaran menyebutkan kades atau kelurahan bekerja sama dengan semua pihak untuk tercapainya wajib belajar 12 tahun. Serta mencegah perkawinan anak usia di bawah 18 tahun sebelum meyelesaikan pendidikan menengah atas.

Baca Juga :  Keliling 16 Negara Kampanyekan Pengurangan Sampah Plastik

Selain itu, rumah curhat dan kelompok masyarakat yang dibentuk oleh perempuan untuk pencegahan dan penghapusan perkawinan anak. ‘’Kalau di Bojonegoro ada surat edaran seperti di Kabupaten Gresik maka diska bisa ditekan,’’ klaimnya.

Solikin mengatakan, naiknya jumlah pernikahan dini menjadi parameter tingkat pendidikan di Bojonegoro masih rendah. Padahal, dengan melanjutkan pendidikan minimal bangku SMA, bisa menekan pernikahan dini.

Dia menjelaskan, dispensasi bagi perempuan di bawah 16 tahun. Sementara dari pihak laki-laki dibawah 19 tahun.

Menurut dia, pernikahan dini rentan sekali dengan perceraian. ‘’Banyak kejadiannya perkawinan antardesa di satu kecamatan. Ruang lingkup yang kecil membuat wawasan tentang pernikahan cenderung kurang,’’ tuturnya.

Versi dia, hanya pendidikan yang bisa menurunkan angka pernikahan dini. Semakin tinggi pendidikan anak, maka semakin bisa mengatasi berbagai masalah. Pendidikan dilakukan bukan hanya untuk pekerjaan, namun anak lebih bisa mengatasi problem solving.

Baca Juga :  Pikap Disantap KA Ambarawa, Satu Tewas

Kepala Seksi Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak (P3A) Suharto mengatakan, segala bentuk pencegahan sudah dilakukan. Seperti peneguran bila terlihat muda-mudi berduaan. ‘’Itu dilakukan oleh satgas. Melatih keberanian untuk menegur. Karena kalau orang umum tidak berani untuk menegur,’’ ujarnya.

Dia mengatakan, sosialisasi mengenai bahaya pernikahan dini juga telah dilakukan ke sejumlah sekolah di Bojonegoro. Mulai SD hingga SMA dengan materi sosialisasi berbeda.

‘’Kalau tingkat SD kita beri materi kewaspadaan jika didekati orang lain. Seperti teriak jika didekati orang yang mencurigakan. Atau tingkat SMP mengenai kesehatan reproduksi,’’ jelasnya.

Menurut dia, bentuk pencegahan itu mudah, tapi sulit dilakukan. Perlu kesadaran semua lapisan masyarakat untuk mencegah pernikahan dini.

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Dispensasi kawin (diska) di Kabupaten Bojonegoro mengalami kenaikan setiap bulan. Panitera Pengadilan Agama Kabupaten Bojonegoro, Solikin Jami, mengatakan, Agustus banyak yang mengajukan diska ke PA. Data lengkapnya menunggu akhir bulan.

‘’Banyak. Nanti akhir Agustus akan diketahui berapa jumlahnya,’’ katanya kemarin (24/8).

Diska periode Januari hingga April ada 38 perkara. Namun, diputus 31 diska. Sementara April sampai Juni diterima 25 diska dan diputus 24 diska. Jika ditotal, maka diska yang diterima periode Januari hingga Juni ada 63 perkara dan yang diputus 55 perkara.

Dia menyinggung Kabupaten Gresik yang melakukan pencegahan dan penghentian pernikahan anak usia dini secara serius. Surat edaran menyebutkan kades atau kelurahan bekerja sama dengan semua pihak untuk tercapainya wajib belajar 12 tahun. Serta mencegah perkawinan anak usia di bawah 18 tahun sebelum meyelesaikan pendidikan menengah atas.

Baca Juga :  Orang Tua Bayi Terancam Jerat Hukum

Selain itu, rumah curhat dan kelompok masyarakat yang dibentuk oleh perempuan untuk pencegahan dan penghapusan perkawinan anak. ‘’Kalau di Bojonegoro ada surat edaran seperti di Kabupaten Gresik maka diska bisa ditekan,’’ klaimnya.

Solikin mengatakan, naiknya jumlah pernikahan dini menjadi parameter tingkat pendidikan di Bojonegoro masih rendah. Padahal, dengan melanjutkan pendidikan minimal bangku SMA, bisa menekan pernikahan dini.

Dia menjelaskan, dispensasi bagi perempuan di bawah 16 tahun. Sementara dari pihak laki-laki dibawah 19 tahun.

Menurut dia, pernikahan dini rentan sekali dengan perceraian. ‘’Banyak kejadiannya perkawinan antardesa di satu kecamatan. Ruang lingkup yang kecil membuat wawasan tentang pernikahan cenderung kurang,’’ tuturnya.

Versi dia, hanya pendidikan yang bisa menurunkan angka pernikahan dini. Semakin tinggi pendidikan anak, maka semakin bisa mengatasi berbagai masalah. Pendidikan dilakukan bukan hanya untuk pekerjaan, namun anak lebih bisa mengatasi problem solving.

Baca Juga :  SMA-SMK Belum Tentukan Siswa Bisa Daftar SNMPTN

Kepala Seksi Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak (P3A) Suharto mengatakan, segala bentuk pencegahan sudah dilakukan. Seperti peneguran bila terlihat muda-mudi berduaan. ‘’Itu dilakukan oleh satgas. Melatih keberanian untuk menegur. Karena kalau orang umum tidak berani untuk menegur,’’ ujarnya.

Dia mengatakan, sosialisasi mengenai bahaya pernikahan dini juga telah dilakukan ke sejumlah sekolah di Bojonegoro. Mulai SD hingga SMA dengan materi sosialisasi berbeda.

‘’Kalau tingkat SD kita beri materi kewaspadaan jika didekati orang lain. Seperti teriak jika didekati orang yang mencurigakan. Atau tingkat SMP mengenai kesehatan reproduksi,’’ jelasnya.

Menurut dia, bentuk pencegahan itu mudah, tapi sulit dilakukan. Perlu kesadaran semua lapisan masyarakat untuk mencegah pernikahan dini.

Artikel Terkait

Most Read

Belum Ada Kepastian Ulang

Eks Gelandang Arema FC Merapat

Artikel Terbaru

Berharap Pasar Hewan segera Dibuka

Harga Tanah Rp 450 Ribu Per Meter

Sempat Vakum Dua Tahun


/