alexametrics
29.2 C
Bojonegoro
Tuesday, June 28, 2022

Tren Penjualan Barang Sekunder Menurun

BOJONEGORO – Pasca libur Lebaran, tren penjualan sejumlah komoditas sekunder menurun. Komisi B DPRD Bojonegoro menganggap kondisi tersebut wajar karena puncak jual beli sudah berakhir ketika Lebaran. Tidak hanya barang sekunder, barang pokok pun sama. Karena itu, para pedagang diharap mampu bijak mendatangkan barang. Sebab, proses jual beli tidak akan sederas ketika perayaan Lebaran. 

Sekretaris Komisi B DPRD Bojonegoro Lasuri mengatakan, tantangan para pedagang usai Lebaran tentu semua kota sama. Yakni, jumlah penjualan menurun. Itu karena puncak jual beli hanya terjadi jelang Lebaran saja. Setelah Lebaran usai, penjualan kembali normal. Nah, karena sebelumnya penjualan cukup tinggi, seolah-olah kuantitas penjualan menurun. “Padahal, sebenarnya itu wajar dan tidak terlalu menurun namun cenderung normal,” katanya. 

Baca Juga :  Socorejo Kampiun Kelas Utama

Lasuri mengatakan, adanya tren penjualan menurun seperti itu, meminta para pedagang tidak menyetok barang terlalu besar seperti sebelum Lebaran. Penjualan menurun, bisa saja stok berpotensi tidak laku. Terutama barang-barang membusuk, tentu itu bakal merugikan. 

Tidak hanya pedagang buah dan sayur, pedagang pakaian misalnya, andai dia menyetok barang terlalu banyak. Lalu dagangan itu tidak laku, tentu modelnya bakal ketinggalan. Dan, sulit dijual kembali. Karena itu, dia mengimbau para pedagang lebih bijak menyetok barang. Sebab, secara otomatis tensi penjualan bakal mengalami penurunan. 

BOJONEGORO – Pasca libur Lebaran, tren penjualan sejumlah komoditas sekunder menurun. Komisi B DPRD Bojonegoro menganggap kondisi tersebut wajar karena puncak jual beli sudah berakhir ketika Lebaran. Tidak hanya barang sekunder, barang pokok pun sama. Karena itu, para pedagang diharap mampu bijak mendatangkan barang. Sebab, proses jual beli tidak akan sederas ketika perayaan Lebaran. 

Sekretaris Komisi B DPRD Bojonegoro Lasuri mengatakan, tantangan para pedagang usai Lebaran tentu semua kota sama. Yakni, jumlah penjualan menurun. Itu karena puncak jual beli hanya terjadi jelang Lebaran saja. Setelah Lebaran usai, penjualan kembali normal. Nah, karena sebelumnya penjualan cukup tinggi, seolah-olah kuantitas penjualan menurun. “Padahal, sebenarnya itu wajar dan tidak terlalu menurun namun cenderung normal,” katanya. 

Baca Juga :  Teliti Kandungan Tanah Tiang Pancang Jembatan Kanor-Rengel

Lasuri mengatakan, adanya tren penjualan menurun seperti itu, meminta para pedagang tidak menyetok barang terlalu besar seperti sebelum Lebaran. Penjualan menurun, bisa saja stok berpotensi tidak laku. Terutama barang-barang membusuk, tentu itu bakal merugikan. 

Tidak hanya pedagang buah dan sayur, pedagang pakaian misalnya, andai dia menyetok barang terlalu banyak. Lalu dagangan itu tidak laku, tentu modelnya bakal ketinggalan. Dan, sulit dijual kembali. Karena itu, dia mengimbau para pedagang lebih bijak menyetok barang. Sebab, secara otomatis tensi penjualan bakal mengalami penurunan. 

Artikel Terkait

Most Read

Jihan Audy Goyang Tuban

Menunggu Rekom Dinas Bina Marga Jatim

Antisipasi Pungli Urus Sertifikat Tanah

Artikel Terbaru

Delapan Incumbent Kalah Suara

PT DESI Bakal Dilarang Beroperasi

Matangkan Persiapan

Rudjito – Zaenuri Divonis 4 Tahun


/