alexametrics
27.4 C
Bojonegoro
Friday, July 1, 2022

3.927 Rumah Reot Dipermak, Total Anggaran Rp 78,5 Miliar

Radar Bojonegoro – Rumah reot atau tidak layak huni (RTLH) bakal semakin berkurang. Rehab RTLH mendapatkan alokasi cukup besar tahun ini. Dinas Perumahan, Kawasan Pemukiman, dan Cipta Karya (PKPCK) Bojonegoro mengalokasikan anggaran sebesar Rp 78,5 miliar. Anggaran itu akan digunakan untuk merehab 3.927 rumah tidak layak huni.

Kabid Pertanahan, Pemakaman, dan Kawasan Pemukiman Dinas PKCK Bojonegoro M. Zamroni mengatakan, jumlah RTLH akan direhab tahun ini cukup banyak. Lebih banyak dibanding tahun lalu hanya 2.271 unit dengan total anggaran mencapai Rp 45,4 miliar.

‘’Tahun ini jumlahnya hampir 4.000, persisnya 3.927 unit,’’ katanya kemarin. Jumlah itu adalah usulan dari pemerintah desa (pemdes). Desa mendata warga yang rumahnya masuk kriteria tidak layak huni. Setelah itu, diusulkan dalam program rehab RTLH itu. Total anggaran dialokasikan mencapai Rp 78,5 miliar. Masing-masing rumah diberikan anggaran Rp 20 juta. Dana itu digunakan untuk perbaikan atap, lantai, dan dinding (aladin).

Baca Juga :  Isak Tangis Iringi Keberangkatan CJH

Zamroni menjelaskan, fokus perbaikan RTLH adalah atap, lantai, dan dinding. Setelah tiga bagian rumah itu diperbaiki, sudah dinyatakan rumah layak huni. ‘’Tahun ini nilainya masih sama. Setiap rumah mendapatkan alokasi sebesar Rp 20 juta,’’ jelasnya.

Menurut Zamroni, penuntasan target rehab RTLH itu kerap mengalami kendala di lapangan. Para pemilik rumah kerap menolak rumahnya direhab. Tidak jarang mereka awalnya bersedia direhab, tiba-tiba menolak. Mereka ingin merehab sendiri. Total RTLH itu hampir merata di setiap kecamatan di Bojonegoro. Desa yang jumlahnya RTLH banyak proses pemilihan penyedia rehab dilakukan secara lelang.

Misalnya, dalam satu desa jumlahnya RTLH-nya mencapai 40 unit. Data sementara, lanjut Zamroni, ada dua kecamatan pelaksanaan rehapnya dilelang. Yakni, di Kecamatan Kedewan dan Kedungadem. Ketua Komisi D DPRD Bojonegoro Abdullah Umar meminta dinas PKCK benar-benar mengawasi proses rehab RTLH itu. Sehingga, hasil rehab sesuai standar kualitas yang ditentukan. ‘’Jangan sampai rehab dikerjakan asal-asalan,’’ jelasnya.

Baca Juga :  Pedagang Pasar Kepoh Patungan Bikin Lapak, Pemdes Siapkan TPS

Umar meminta agar rumah warga yang masuk kriteria segera diusulkan. Sehingga, tahun depan rumah mereka bisa segera direhap. Camat Kedungadem Agus Saiful mengaku tidak tahu pasti jumlah warga yang mendapat program RTLH. Karena belum mendapat data dari DPUCK. Namun untuk tahun lalu sekitar 10 setiap desa. “Langsung konfimasi ke cipta karya,” ungkapnya.

Agus menyambut baik program RTLH, karena bisa membantu warga yang memiliki hunian kurang layak. Terlebih Kecamatan Kedungadem memiliki jumlah penduduk banyak. Dan beberapa diantaranya hidup di bawah garis kemiskinan. (irv)

Radar Bojonegoro – Rumah reot atau tidak layak huni (RTLH) bakal semakin berkurang. Rehab RTLH mendapatkan alokasi cukup besar tahun ini. Dinas Perumahan, Kawasan Pemukiman, dan Cipta Karya (PKPCK) Bojonegoro mengalokasikan anggaran sebesar Rp 78,5 miliar. Anggaran itu akan digunakan untuk merehab 3.927 rumah tidak layak huni.

Kabid Pertanahan, Pemakaman, dan Kawasan Pemukiman Dinas PKCK Bojonegoro M. Zamroni mengatakan, jumlah RTLH akan direhab tahun ini cukup banyak. Lebih banyak dibanding tahun lalu hanya 2.271 unit dengan total anggaran mencapai Rp 45,4 miliar.

‘’Tahun ini jumlahnya hampir 4.000, persisnya 3.927 unit,’’ katanya kemarin. Jumlah itu adalah usulan dari pemerintah desa (pemdes). Desa mendata warga yang rumahnya masuk kriteria tidak layak huni. Setelah itu, diusulkan dalam program rehab RTLH itu. Total anggaran dialokasikan mencapai Rp 78,5 miliar. Masing-masing rumah diberikan anggaran Rp 20 juta. Dana itu digunakan untuk perbaikan atap, lantai, dan dinding (aladin).

Baca Juga :  Hanya Separo Jalan Diselimuti Cor

Zamroni menjelaskan, fokus perbaikan RTLH adalah atap, lantai, dan dinding. Setelah tiga bagian rumah itu diperbaiki, sudah dinyatakan rumah layak huni. ‘’Tahun ini nilainya masih sama. Setiap rumah mendapatkan alokasi sebesar Rp 20 juta,’’ jelasnya.

Menurut Zamroni, penuntasan target rehab RTLH itu kerap mengalami kendala di lapangan. Para pemilik rumah kerap menolak rumahnya direhab. Tidak jarang mereka awalnya bersedia direhab, tiba-tiba menolak. Mereka ingin merehab sendiri. Total RTLH itu hampir merata di setiap kecamatan di Bojonegoro. Desa yang jumlahnya RTLH banyak proses pemilihan penyedia rehab dilakukan secara lelang.

Misalnya, dalam satu desa jumlahnya RTLH-nya mencapai 40 unit. Data sementara, lanjut Zamroni, ada dua kecamatan pelaksanaan rehapnya dilelang. Yakni, di Kecamatan Kedewan dan Kedungadem. Ketua Komisi D DPRD Bojonegoro Abdullah Umar meminta dinas PKCK benar-benar mengawasi proses rehab RTLH itu. Sehingga, hasil rehab sesuai standar kualitas yang ditentukan. ‘’Jangan sampai rehab dikerjakan asal-asalan,’’ jelasnya.

Baca Juga :  Proyek Pelebaran Jalan Sebabkan Macet Panjang Setiap Sore

Umar meminta agar rumah warga yang masuk kriteria segera diusulkan. Sehingga, tahun depan rumah mereka bisa segera direhap. Camat Kedungadem Agus Saiful mengaku tidak tahu pasti jumlah warga yang mendapat program RTLH. Karena belum mendapat data dari DPUCK. Namun untuk tahun lalu sekitar 10 setiap desa. “Langsung konfimasi ke cipta karya,” ungkapnya.

Agus menyambut baik program RTLH, karena bisa membantu warga yang memiliki hunian kurang layak. Terlebih Kecamatan Kedungadem memiliki jumlah penduduk banyak. Dan beberapa diantaranya hidup di bawah garis kemiskinan. (irv)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/