alexametrics
29.8 C
Bojonegoro
Sunday, August 14, 2022

Petani Bawang Merah Terkendala Hama Ulat

- Advertisement -

KEDUNGADEM – Petani bawang merah di Kecamatan Kedungadem memperkirakan hasil dan harga tanamannya akan bagus. Sebab, cuaca akhir-akhir ini mendukung. Namun, ulat menjadi penyakit yang menyerang tanamannya.

Menurut salah satu petani bawang merah Untari, panen ke depan hasil bawang merahnya bagus. Namun sekarang yang menjadi kendala, yaitu banyak ulat.

“Ulatnya jadi penyakit. Soalnya sudah satu minggu tidak hujan. Tapi, semisal sering hujan hasil bawang merahnya juga kurang bagus,” kata wanita asal Desa Pejok, Kecamatan Kedungadem.

Meski begitu, dia memprediksi bahwa hasil panen bawang merah akan bagus. Terlebih harganya tinggi. Adapun, tahun ini masyarakat Kedungadem telah dua kali panen.

Baca Juga :  Mengenal Komunitas Ngaostik, Menggabungkan Buku dan MusikĀ 
- Advertisement -

“Baru-baru ini bawang merah Kedungadem menyaingi hasil panen dari Bima (NTB). Sebab, ukurannya lebih besar dan segar,” jelas dia.

Lanjut Untari, dia memiliki lahan tak sampai satu hektare. Namun, dia biasanya membeli bibit bawang merah sebanyak 4 kuintal dari Nganjuk.  

“Saat ini tanaman saya sudah berumur 25 hari dan bisa dipanen 56 hari. Tapi kalau memang bawang merahnya bagus, belum sampai 50 hari sudah banyak dicari pembeli,” kata dia.

Sementara itu, petani bawang merah lainnya, Agus Wahyu mengatakan, tanaman ini akan menguntungkan jika cuaca dan pengelolaannya bagus. Selalu diberi pupuk dan garam.

“Tanah yang ditanami bawang merah harus dingin. Tidak boleh kering dan tergenang air atau banjir,” imbuh dia.

Baca Juga :  Tak Ada Pembeli, Harga Garam Anjlok

Menurut Agus, sapaannya, bawang merah hasil dari masyarakat Kedungadem agak sulit mengalahkan milik Nganjuk. Sebab, di Nganjuk kontur tanahnya cocok dan mereka juga memiliki skill yang mumpuni.

“Kita saja kalau beli bibit dari Nganjuk. Bibitnya bagus. Tapi harganya mahal. Per kilogramnya sampai Rp 35 ribu,” ucap dia.

KEDUNGADEM – Petani bawang merah di Kecamatan Kedungadem memperkirakan hasil dan harga tanamannya akan bagus. Sebab, cuaca akhir-akhir ini mendukung. Namun, ulat menjadi penyakit yang menyerang tanamannya.

Menurut salah satu petani bawang merah Untari, panen ke depan hasil bawang merahnya bagus. Namun sekarang yang menjadi kendala, yaitu banyak ulat.

“Ulatnya jadi penyakit. Soalnya sudah satu minggu tidak hujan. Tapi, semisal sering hujan hasil bawang merahnya juga kurang bagus,” kata wanita asal Desa Pejok, Kecamatan Kedungadem.

Meski begitu, dia memprediksi bahwa hasil panen bawang merah akan bagus. Terlebih harganya tinggi. Adapun, tahun ini masyarakat Kedungadem telah dua kali panen.

Baca Juga :  Pendaftar Berebut Kuota Jalur Afirmasi di SMA Perkotaan
- Advertisement -

“Baru-baru ini bawang merah Kedungadem menyaingi hasil panen dari Bima (NTB). Sebab, ukurannya lebih besar dan segar,” jelas dia.

Lanjut Untari, dia memiliki lahan tak sampai satu hektare. Namun, dia biasanya membeli bibit bawang merah sebanyak 4 kuintal dari Nganjuk.  

“Saat ini tanaman saya sudah berumur 25 hari dan bisa dipanen 56 hari. Tapi kalau memang bawang merahnya bagus, belum sampai 50 hari sudah banyak dicari pembeli,” kata dia.

Sementara itu, petani bawang merah lainnya, Agus Wahyu mengatakan, tanaman ini akan menguntungkan jika cuaca dan pengelolaannya bagus. Selalu diberi pupuk dan garam.

“Tanah yang ditanami bawang merah harus dingin. Tidak boleh kering dan tergenang air atau banjir,” imbuh dia.

Baca Juga :  Berrar Fachtya, Guru Sekaligus Abdi Dalem Keraton Surakarta

Menurut Agus, sapaannya, bawang merah hasil dari masyarakat Kedungadem agak sulit mengalahkan milik Nganjuk. Sebab, di Nganjuk kontur tanahnya cocok dan mereka juga memiliki skill yang mumpuni.

“Kita saja kalau beli bibit dari Nganjuk. Bibitnya bagus. Tapi harganya mahal. Per kilogramnya sampai Rp 35 ribu,” ucap dia.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/