alexametrics
29.8 C
Bojonegoro
Sunday, August 14, 2022

Donor Plasma Konvalesen Harus ke Surabaya Dulu

- Advertisement -

Radar Lamongan – Palang Merah Indonesia (PMI) Lamongan belum bisa memproses donor plasma darah konvalesen, yakni darah yang berasal dari mantan warga yang pernah terpapar Covid-19. Sebab PMI Kota Soto tersebut belum memiliki alat apheresis (pemisah komponen daerah). Sehingga yang ingin melakukan donor plasma darah yang dibutuhkan pasien Covid-19 itu harus ke Surabaya.

Menurut Kepala PMI Lamongan, Agus Suyanto, pihaknya harus melakukan pemrosesan donor plasma konvalesen di PMI Surabaya, sehingga membutuhkan waktu berhari-hari. Karena belum memiliki alat apheresis. PMI Lamongan hanya bisa melayani screening sampel darah dari para calon pendonor.

‘’Alat apheresis PMI Lamongan memang belum punya. Sehingga di sini calon pendonor hanya diambil darahnya untuk screening. Calon pendonor yang lolos screening, proses donornya dilakukan di Surabaya,’’ paparnya kemarin (24/1).

Baca Juga :  Bantu Promosikan Potensi Wisata Bojonegoro

Agus mengungkapkan, harga satu unit mesin apheresis sekitar Rp 1,2 Miliar. Alat tersebut berfungsi memisahkan komponen-komponen darah yang dibutuhkan. Seperti plasma darah, sel darah merah (trombosit), dan sel darah putih.

Satu pendonor bisa menghasilkan dua hingga empat kantong plasma konvalesen. Sedangkan setiap pasien Covid-19 membutuhkan transfer plasma dengan jumlah berbeda-beda sesuai kebutuhan.

- Advertisement -

‘’(Meski donornya di Surabaya) hasilnya (plasma konvalesen) tetap disimpan atau di-stok di Lamongan, agar segera bisa disalurkan ke pasien,’’ tutur pria yang juga Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Lamongan.

Sementara itu, sejak 17 Desember 2020 hingga kemarin jumlah plasma konvalesen yang terkumpul di PMI Lamongan belum ada penambahan secara signifikan. Pada 12 Januari, total keseluruhan ada 30 kantong plasma konvalesen, dan telah terpakai sebanyak 20 kantong.

Baca Juga :  8.064 Pagu SMAN dan SMKN, Tak Jujur Terancam Diskualifikasi

Dua minggu kemudian hanya bertambah empat kantong plasma konvalesen. Sehingga jumlah total hingga kemarin ada 34 kantong, dan telah terpakai sebanyak 25 kantong. ‘’Memang tidak banyak pertambahan stoknya. Jadi saat ini (kemarin, Red) masih tersisa sembilan kantong plasma,’’ pungkas Agus.

Radar Lamongan – Palang Merah Indonesia (PMI) Lamongan belum bisa memproses donor plasma darah konvalesen, yakni darah yang berasal dari mantan warga yang pernah terpapar Covid-19. Sebab PMI Kota Soto tersebut belum memiliki alat apheresis (pemisah komponen daerah). Sehingga yang ingin melakukan donor plasma darah yang dibutuhkan pasien Covid-19 itu harus ke Surabaya.

Menurut Kepala PMI Lamongan, Agus Suyanto, pihaknya harus melakukan pemrosesan donor plasma konvalesen di PMI Surabaya, sehingga membutuhkan waktu berhari-hari. Karena belum memiliki alat apheresis. PMI Lamongan hanya bisa melayani screening sampel darah dari para calon pendonor.

‘’Alat apheresis PMI Lamongan memang belum punya. Sehingga di sini calon pendonor hanya diambil darahnya untuk screening. Calon pendonor yang lolos screening, proses donornya dilakukan di Surabaya,’’ paparnya kemarin (24/1).

Baca Juga :  91 ASN Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Dicek Urine

Agus mengungkapkan, harga satu unit mesin apheresis sekitar Rp 1,2 Miliar. Alat tersebut berfungsi memisahkan komponen-komponen darah yang dibutuhkan. Seperti plasma darah, sel darah merah (trombosit), dan sel darah putih.

Satu pendonor bisa menghasilkan dua hingga empat kantong plasma konvalesen. Sedangkan setiap pasien Covid-19 membutuhkan transfer plasma dengan jumlah berbeda-beda sesuai kebutuhan.

- Advertisement -

‘’(Meski donornya di Surabaya) hasilnya (plasma konvalesen) tetap disimpan atau di-stok di Lamongan, agar segera bisa disalurkan ke pasien,’’ tutur pria yang juga Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Lamongan.

Sementara itu, sejak 17 Desember 2020 hingga kemarin jumlah plasma konvalesen yang terkumpul di PMI Lamongan belum ada penambahan secara signifikan. Pada 12 Januari, total keseluruhan ada 30 kantong plasma konvalesen, dan telah terpakai sebanyak 20 kantong.

Baca Juga :  Nelayan Kecil Was-Was Melaut

Dua minggu kemudian hanya bertambah empat kantong plasma konvalesen. Sehingga jumlah total hingga kemarin ada 34 kantong, dan telah terpakai sebanyak 25 kantong. ‘’Memang tidak banyak pertambahan stoknya. Jadi saat ini (kemarin, Red) masih tersisa sembilan kantong plasma,’’ pungkas Agus.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/