alexametrics
23.5 C
Bojonegoro
Wednesday, August 10, 2022

Karena Difteri Remaja ini Kini Dirawat di RSUD Padangan

BOJONEGORO – Satu pasien lagi ditemukan terinfeksi difteri. Pasien tersebut ditemukan di RSUD Padangan. Identitas pasien berjenis kelamin perempuan, warga Desa Gading Kecamatan Tambakrejo. Saat ini masih di bangku MTs. Kemarin (24/1), Dinkes Bojonegoro mengecek kondisi pasien dan dirujuk ke RSUD Bojonegoro untuk diisolasi. 

“Difteri sangat menular melalui droplet dan penularan dapat terjadi tidak hanya dari penderita saja, namun juga dari karir (pembawa) baik anak maupun dewasa yang tampak sehat kepada orang-orang di sekitarnya,” ujar Kabid Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit (P2P) Dinkes Bojonegoro, Totok Ismanto kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro kemarin. 

Pemeriksaan dilakukan di pondok pesantren tempat pasien sekolah dan keluarganya serumah. Setelah pemeriksaan tersebut, diberikan juga obat eritromisin untuk memutuskan rantai penularan.

Sebelumnya, pun telah temukan tiga kasus difteri di Bojonegoro. Temuan pertama pada Kamis (11/1) lalu, seorang bocah laki-laki asal Kecamatan Gayam berusia 6 tahun.

Baca Juga :  Promosi Alat Peraga Kampanye Belum Kerek Order Percetakan

Lalu, temuan kedua pada Senin  (15/1) lalu, seorang bocah laki-laki asal Kecamatan Dander berusia 5 tahun. Keduanya dirawat di RS Aisyiyah dan sudah pulang.  Namun secara klinis dinyatakan terinfeksi difteri. 

Sedangkan temuan yang ketiga pada Selasa (16/1) lalu, seorang kakek asal Kecamatan Ngraho berusia 60 tahun. Kakek tersebut juga positif terinfeksi difteri dan kini masih dirawat di RSUD Bojonegoro. “Hingga sekarang totalnya ada empat orang yang terinfeksi difteri,” tuturnya. 

Sementara itu, rencana untuk memberikan outbreak response immunization (ORI) atau imunisasi penanganan kejadian luar biasa pada daerah yang terkena kasus difteri juga masih menunggu SK dari Bupati Bojonegoro terkait kejadian luar biasa (KLB).

Baca Juga :  Rintis Eks Lahan Tambang sebagai Wisata

Imunisasi tersebut akan diwajibkan kepada seluruh anak, mulai usia 1-19 tahun pada Februari mendatang. “Masih proses pendataan dan rapat lintas sektor terkait masalah difteri,” tuturnya. 

Berdasarkan data dari Dinkes Bojonegoro, kasus difteri di Bojonegoro mulai muncul pada 2011 hingga 2016, sedangkan pada 2017 nihil. Pada 2011 sebanyak tujuh kasus difteri (selengkapnya baca grafis). 

Totok pun mengimbau agar masyarakat segera ke Puskesmas atau Rumah Sakit terdekat apabila ada anak mengeluh nyeri tenggorokan disertai suara berbunyi seperti mengorok (stridor), khususnya anak berusia kurang dari 15 tahun.

“Anak harus segera dirawat di rumah sakit apabila dicurigai menderita difteri agar segera mendapat pengobatan dan pemeriksaan laboratorium untuk memastikan apakah anak benar menderita difteri,” pungkasnya.

BOJONEGORO – Satu pasien lagi ditemukan terinfeksi difteri. Pasien tersebut ditemukan di RSUD Padangan. Identitas pasien berjenis kelamin perempuan, warga Desa Gading Kecamatan Tambakrejo. Saat ini masih di bangku MTs. Kemarin (24/1), Dinkes Bojonegoro mengecek kondisi pasien dan dirujuk ke RSUD Bojonegoro untuk diisolasi. 

“Difteri sangat menular melalui droplet dan penularan dapat terjadi tidak hanya dari penderita saja, namun juga dari karir (pembawa) baik anak maupun dewasa yang tampak sehat kepada orang-orang di sekitarnya,” ujar Kabid Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit (P2P) Dinkes Bojonegoro, Totok Ismanto kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro kemarin. 

Pemeriksaan dilakukan di pondok pesantren tempat pasien sekolah dan keluarganya serumah. Setelah pemeriksaan tersebut, diberikan juga obat eritromisin untuk memutuskan rantai penularan.

Sebelumnya, pun telah temukan tiga kasus difteri di Bojonegoro. Temuan pertama pada Kamis (11/1) lalu, seorang bocah laki-laki asal Kecamatan Gayam berusia 6 tahun.

Baca Juga :  Gelar Penyuluhan dan Pemeriksaan Kesehatan Gratis 

Lalu, temuan kedua pada Senin  (15/1) lalu, seorang bocah laki-laki asal Kecamatan Dander berusia 5 tahun. Keduanya dirawat di RS Aisyiyah dan sudah pulang.  Namun secara klinis dinyatakan terinfeksi difteri. 

Sedangkan temuan yang ketiga pada Selasa (16/1) lalu, seorang kakek asal Kecamatan Ngraho berusia 60 tahun. Kakek tersebut juga positif terinfeksi difteri dan kini masih dirawat di RSUD Bojonegoro. “Hingga sekarang totalnya ada empat orang yang terinfeksi difteri,” tuturnya. 

Sementara itu, rencana untuk memberikan outbreak response immunization (ORI) atau imunisasi penanganan kejadian luar biasa pada daerah yang terkena kasus difteri juga masih menunggu SK dari Bupati Bojonegoro terkait kejadian luar biasa (KLB).

Baca Juga :  Promosi Alat Peraga Kampanye Belum Kerek Order Percetakan

Imunisasi tersebut akan diwajibkan kepada seluruh anak, mulai usia 1-19 tahun pada Februari mendatang. “Masih proses pendataan dan rapat lintas sektor terkait masalah difteri,” tuturnya. 

Berdasarkan data dari Dinkes Bojonegoro, kasus difteri di Bojonegoro mulai muncul pada 2011 hingga 2016, sedangkan pada 2017 nihil. Pada 2011 sebanyak tujuh kasus difteri (selengkapnya baca grafis). 

Totok pun mengimbau agar masyarakat segera ke Puskesmas atau Rumah Sakit terdekat apabila ada anak mengeluh nyeri tenggorokan disertai suara berbunyi seperti mengorok (stridor), khususnya anak berusia kurang dari 15 tahun.

“Anak harus segera dirawat di rumah sakit apabila dicurigai menderita difteri agar segera mendapat pengobatan dan pemeriksaan laboratorium untuk memastikan apakah anak benar menderita difteri,” pungkasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/