alexametrics
22.7 C
Bojonegoro
Wednesday, June 29, 2022

Ditta Hakha Soleha, 21, Penulis Muda Produktif asal Bojonegoro

FEATURES – Menulis memang menyehatkan. Bahkan, bisa menjadi hiburan. Bergitu juga Ditta Hakha. Gadis asal Kecamatan Dander ini cukup produktif. Bukunya sudah banyak berbedar. Hari masih pagi. Alun-alun Bojonegoro dipenuhi anak-anak SD yang sedang berolahraga, kemarin (24/1).

Selain itu, pusat kota masih belum begitu ramai. Petugas kebersihan sesekali terlihat untuk menyapu dedaunan dan samping di pinggiran alun-alun. 

Seorang gadis berjilbab memarkirkan motornya di depan masjid Agung Darusalam. Turun dari motornya lalu menata jilbabnya. Setelah terlihat lebih rapi dia mengambil sebuah kresek.

Di-tenteng-nya kresek itu kemudian membalikkan badannya dan berjalan ke arah alun-alun.  Tetiba dia berhenti di tengah jalan. Menoleh menunggu motor yang terlihat terburu-buru.

Gadis itu melanjutkan jalannya dan memasuki alun-alun. Memilih tempat duduk yang di bawah pohon yang teduh. 

Gadis berjilbab itu bernama Ditta Hakha Soleha. Seorang penulis muda asal Bojonegoro yang saat ini tercatat sebagai mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) Jawa Barat.

Pagi itu, dia berada di Bojonegoro karena sedang libur kuliah. Ditta, sapaan akrabnya, membuka tas kresek yang dia bawa tadi. Tiga buah buku dikeluarkan. Dua buku tak berplastik. Sedangkan, satu buku masih berpastik.

Dua buku tentang novel dan satu buku tentang komik. D’eiffel buku yang masih berplastik itu akhirnya di buka.

Dia menceritakan buku yang setting-nya berada di Paris. Buku ini bercerita tentang seorang tokoh perempuan bernama Laxy. Dalam buku 144 halaman ini bercerita tentang sebuah peristiwa yang menakjubkan.

Sebab, si tokoh yang berambut gelap cokelat itu dalam waktu singkat mempertemukan dengan sederet orang asing. Ada yang baik hati, ramah, licik bahkan kejam. Buku ini terbit pada Agustus 2016. 

‘’Kenapa setting-nya di Paris? Karena aku ingin pergi ke sana,’’ ujarnya gadis asal Dander ini.  Ditta menceritakan mula bakat menulisnya sudah ada sejak SD. Alasannya sederhana. Semua bermula saat membaca sebuah majalah.

Baca Juga :  Pasar Hewan Dibangun Tahun Depan, Pasar Kota Belum Ada Kepastian

Dari sanalah imajinasinya mulai terbentuk. Dia berpikir membaca saja dan tak menulis itu ibarat ada yang hilang. Sebab, dengan menulis dia bisa mengungkapkan imanjinasinya yang sedang berlompatan di kepala. 

‘’Aku mulai menulis saat kelas 6 SD,’’ kata dia.  Di umur yang masih belia, Ditta pun memberanikan diri untuk mencoba mengirimkan naskah yang ia tulis ke sebuah penerbit. Yakni sebuah novel. Sayang, naskahnya ditolak.

Waktu itu, novelnya berisi tentang tentang kehidupan seorang pelajar perempuan di asrama.  Penolakan bukan akhir dari segalanya bagi Ditta. Sebab, adrenalinnya terus terpacu. Dia kembali menulis dan menulis.

Meski ujung-ujungnya ditolak oleh penerbit mayor tersebut. Dengan  perjuangan yang cukup keras dan terus memperbaiki karyanya. Sampailah Ditta dinobatkan sebagai seorang penulis novel.

Sebab, di 2013 karya pertamanya akhirnya diterbitkan oleh penerbit dari Bandung itu. Selepas SMA. Ditta yang awalnya ingin mewujudkan cita-citanya sebagai seorang duta besar akhirnya harus berbelok.

Dia diterima di jurusan teknologi pangan di kampus IPB. Kepiawaiannya menulis pun tak berhenti. 

‘’Saya memang suka sastra,’’ kata dia. Dia pun terus bergelut di komunitas-komunitas di kampusnya.

Penerbit mayor yang sebelumnya telah menerbitkan karyanya tetap menghubunginya dan terus meminta naskah untuk dicetak. 

‘’Ya di kampus akhirnya ikut lomba dan komunitas-komunitas gitu,’’ kata dara kelahiran 23 November 1996. Dia bercerita, saat di kampus cakrawalanya pun terbuka.

Ditta yang awalnya mendapatkan belajar menulis secara otodidak akhirnya menemukan seorang mentor di kampus diantaranya adalah kakak tingkat ataupun para pegiat kepenulisan di kampusnya. 

Dia pernah digembleng untuk pelatihan menulis fiksi selama dua minggu. Di sana dia dikenalkan berbagai karya sastra. Dia pun akhirnya melahap buku-buku tersebut. Kumpulan cerpen karya Agus Noor.

Baca Juga :  Politik Uang Bisa Gagalkan Hasil Pemilu

Seorang sastrawan yang lahir di Tegal, Juni 1968. ‘’Saya suka lebih suka surealis. Dan karya Agus Noor itu bagus untuk belajar,’’ terangnya. 

Ditta pun mulai bertransformasi. Jika sebelumnya dia menulis serial anak-anak dan dunia imajinasinya anak. Akhirnya dia tertantang untuk menulis lainnya. Sebuah cerpen akhirnya pun lain yang terkumpul dalam antologi cerpen.  

Dia juga pernah ikut dalam sebuah kompetisi antarmahasiswa di DKI Jakarta dan mendapatkan juara di sana. Termasuk ikut dalam sebuah kompetisi tingkat kampusnya. 

‘’Pernah juga nulis naskah teater,’’ katanya. Nah, karya naskah teater itu pun tak lepas dari surealis. Ditta terus belajar untuk mengasah skill-nya sebagai seorang penulis.

Dia yang dikenal sebagai penulis cerita anak ataupun remaja ini belum menjatuhkan pilihan kelak akan tetap menulis bersifat fantasi ataupun akan melangkah mengikuti zaman. 

‘’Aku belum memilih itu. Menunggu saja, yang baik bagaimana,’’ kata dia. Ditta pun telah menyiapkan naskah novelnya yang baru. Kali ini, novelnya masih ber-genre sama.

Dia sedikit membocorkan alurnya. Yakni, tentang warna dan musik. Kebetulan dia suka dengan warna hijau. Jadi, dalam cerita novelnya kelak hijau akan menjadi bagian penting termasuk sebuah musik. 

Hingga saat ini, dia telah berkarya sebanyak 11 buku. Tiga novel, dua antologi cerpen, dan enam buah komik. Untuk komik ini, dia hanya penulis naskahnya saja. Sebab, untuk ilustratornya sudah disediakan oleh penerbitnya. 

Ke depan, Ditta masih ingin tetap menulis. Meski dirinya saat ini berkuliah yang tak ada hubungannya dengan sastra.

Namun, kata dia, di jurusan teknologi pangan ada banyak ide untuk dituliskannya. Misalnya tulisan tentang kuliner atau yang berbau masakan. 

Satu hal lagi, bagi Ditta, menulis memang bukan pekerjaan mudah. Tapi, menulis juga bukan pekerjaan yang menyulitkan. Hanya, butuh ketelatenan dan kesabaran.

FEATURES – Menulis memang menyehatkan. Bahkan, bisa menjadi hiburan. Bergitu juga Ditta Hakha. Gadis asal Kecamatan Dander ini cukup produktif. Bukunya sudah banyak berbedar. Hari masih pagi. Alun-alun Bojonegoro dipenuhi anak-anak SD yang sedang berolahraga, kemarin (24/1).

Selain itu, pusat kota masih belum begitu ramai. Petugas kebersihan sesekali terlihat untuk menyapu dedaunan dan samping di pinggiran alun-alun. 

Seorang gadis berjilbab memarkirkan motornya di depan masjid Agung Darusalam. Turun dari motornya lalu menata jilbabnya. Setelah terlihat lebih rapi dia mengambil sebuah kresek.

Di-tenteng-nya kresek itu kemudian membalikkan badannya dan berjalan ke arah alun-alun.  Tetiba dia berhenti di tengah jalan. Menoleh menunggu motor yang terlihat terburu-buru.

Gadis itu melanjutkan jalannya dan memasuki alun-alun. Memilih tempat duduk yang di bawah pohon yang teduh. 

Gadis berjilbab itu bernama Ditta Hakha Soleha. Seorang penulis muda asal Bojonegoro yang saat ini tercatat sebagai mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) Jawa Barat.

Pagi itu, dia berada di Bojonegoro karena sedang libur kuliah. Ditta, sapaan akrabnya, membuka tas kresek yang dia bawa tadi. Tiga buah buku dikeluarkan. Dua buku tak berplastik. Sedangkan, satu buku masih berpastik.

Dua buku tentang novel dan satu buku tentang komik. D’eiffel buku yang masih berplastik itu akhirnya di buka.

Dia menceritakan buku yang setting-nya berada di Paris. Buku ini bercerita tentang seorang tokoh perempuan bernama Laxy. Dalam buku 144 halaman ini bercerita tentang sebuah peristiwa yang menakjubkan.

Sebab, si tokoh yang berambut gelap cokelat itu dalam waktu singkat mempertemukan dengan sederet orang asing. Ada yang baik hati, ramah, licik bahkan kejam. Buku ini terbit pada Agustus 2016. 

‘’Kenapa setting-nya di Paris? Karena aku ingin pergi ke sana,’’ ujarnya gadis asal Dander ini.  Ditta menceritakan mula bakat menulisnya sudah ada sejak SD. Alasannya sederhana. Semua bermula saat membaca sebuah majalah.

Baca Juga :  Warga Desa Ngadiluhur Bojonegoro Jabat Rektor Universitas Brawijaya

Dari sanalah imajinasinya mulai terbentuk. Dia berpikir membaca saja dan tak menulis itu ibarat ada yang hilang. Sebab, dengan menulis dia bisa mengungkapkan imanjinasinya yang sedang berlompatan di kepala. 

‘’Aku mulai menulis saat kelas 6 SD,’’ kata dia.  Di umur yang masih belia, Ditta pun memberanikan diri untuk mencoba mengirimkan naskah yang ia tulis ke sebuah penerbit. Yakni sebuah novel. Sayang, naskahnya ditolak.

Waktu itu, novelnya berisi tentang tentang kehidupan seorang pelajar perempuan di asrama.  Penolakan bukan akhir dari segalanya bagi Ditta. Sebab, adrenalinnya terus terpacu. Dia kembali menulis dan menulis.

Meski ujung-ujungnya ditolak oleh penerbit mayor tersebut. Dengan  perjuangan yang cukup keras dan terus memperbaiki karyanya. Sampailah Ditta dinobatkan sebagai seorang penulis novel.

Sebab, di 2013 karya pertamanya akhirnya diterbitkan oleh penerbit dari Bandung itu. Selepas SMA. Ditta yang awalnya ingin mewujudkan cita-citanya sebagai seorang duta besar akhirnya harus berbelok.

Dia diterima di jurusan teknologi pangan di kampus IPB. Kepiawaiannya menulis pun tak berhenti. 

‘’Saya memang suka sastra,’’ kata dia. Dia pun terus bergelut di komunitas-komunitas di kampusnya.

Penerbit mayor yang sebelumnya telah menerbitkan karyanya tetap menghubunginya dan terus meminta naskah untuk dicetak. 

‘’Ya di kampus akhirnya ikut lomba dan komunitas-komunitas gitu,’’ kata dara kelahiran 23 November 1996. Dia bercerita, saat di kampus cakrawalanya pun terbuka.

Ditta yang awalnya mendapatkan belajar menulis secara otodidak akhirnya menemukan seorang mentor di kampus diantaranya adalah kakak tingkat ataupun para pegiat kepenulisan di kampusnya. 

Dia pernah digembleng untuk pelatihan menulis fiksi selama dua minggu. Di sana dia dikenalkan berbagai karya sastra. Dia pun akhirnya melahap buku-buku tersebut. Kumpulan cerpen karya Agus Noor.

Baca Juga :  Komitmen Bu Anna Tingkatkan Kualitas SDM Bojonegoro

Seorang sastrawan yang lahir di Tegal, Juni 1968. ‘’Saya suka lebih suka surealis. Dan karya Agus Noor itu bagus untuk belajar,’’ terangnya. 

Ditta pun mulai bertransformasi. Jika sebelumnya dia menulis serial anak-anak dan dunia imajinasinya anak. Akhirnya dia tertantang untuk menulis lainnya. Sebuah cerpen akhirnya pun lain yang terkumpul dalam antologi cerpen.  

Dia juga pernah ikut dalam sebuah kompetisi antarmahasiswa di DKI Jakarta dan mendapatkan juara di sana. Termasuk ikut dalam sebuah kompetisi tingkat kampusnya. 

‘’Pernah juga nulis naskah teater,’’ katanya. Nah, karya naskah teater itu pun tak lepas dari surealis. Ditta terus belajar untuk mengasah skill-nya sebagai seorang penulis.

Dia yang dikenal sebagai penulis cerita anak ataupun remaja ini belum menjatuhkan pilihan kelak akan tetap menulis bersifat fantasi ataupun akan melangkah mengikuti zaman. 

‘’Aku belum memilih itu. Menunggu saja, yang baik bagaimana,’’ kata dia. Ditta pun telah menyiapkan naskah novelnya yang baru. Kali ini, novelnya masih ber-genre sama.

Dia sedikit membocorkan alurnya. Yakni, tentang warna dan musik. Kebetulan dia suka dengan warna hijau. Jadi, dalam cerita novelnya kelak hijau akan menjadi bagian penting termasuk sebuah musik. 

Hingga saat ini, dia telah berkarya sebanyak 11 buku. Tiga novel, dua antologi cerpen, dan enam buah komik. Untuk komik ini, dia hanya penulis naskahnya saja. Sebab, untuk ilustratornya sudah disediakan oleh penerbitnya. 

Ke depan, Ditta masih ingin tetap menulis. Meski dirinya saat ini berkuliah yang tak ada hubungannya dengan sastra.

Namun, kata dia, di jurusan teknologi pangan ada banyak ide untuk dituliskannya. Misalnya tulisan tentang kuliner atau yang berbau masakan. 

Satu hal lagi, bagi Ditta, menulis memang bukan pekerjaan mudah. Tapi, menulis juga bukan pekerjaan yang menyulitkan. Hanya, butuh ketelatenan dan kesabaran.

Artikel Terkait

Most Read

Produksi Perikanan Glagah Tertinggi

Harga Naik, Tetap Dibeli

Lagi, Polisi Jadi Korban Tabrak Lari

Artikel Terbaru


/