alexametrics
29.9 C
Bojonegoro
Tuesday, May 17, 2022

Harga Kedelai Impor Tembus Rp 9 Ribu

Radar Bojonegoro – Harga kedelai impor belum juga turun. Bahkan, kemarin (23/12) harga kedelai menembus Rp 9.000. Padahal, normalnya hanya Rp 6.500 sampai Rp 7.000.

Kenaikan ini tentu membuat produsen tahu semakin kelabakan. Produsen tahu merugi apalagi harga minyak goreng juga naik. Ketua Paguyuban Produsen Tahu Kelurahan Ledok Kulon Pranyoto mengatakan, harga kedelai tembus Rp 9.000 per kilogram kemarin (23/12).

Pranyoto makin khawatir, karena pasokan stok kedelai hanya ada yang impor. Kedelai lokal Bojonegoro sudah habis pada Oktober lalu. “Harga kedelai impor ini kok naik terus. Padahal, stok kedelai impor tidak langka, kan aneh. Harga naik sejak dua bulan lalu,” ujarnya kemari.

Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Bojonegoro Sukaemi mengaku telah menindaklanjuti naiknya harga kedelai impor. Pihaknya berkoordinasi dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jawa Timur (Jatim).

Baca Juga :  Gara-Gara Proyek Gagal Bayar Masjid ‘Ditutup’

Sukaemi meminta agar distribusi kedelai impor merata. Sehingga tidak terjadi kelangkaan di Bojonegoro. Informasi didapat dari Disperindag Provinsi Jatim, naiknya harga kedelai impor akibat adanya pembatasan impor. Juga penurunan daya beli akibat pandemi Covid-19.

Dia memprediksi harga kedelai impor akan kembali normal, ketersediaan stok aman. Namun, pihaknya belum memiliki rincian datanya. “Karena kalau soal data jumlah distribusi kedelai impor ini sepenuhnya wewenang Disperindag Provinsi Jatim,” ujar Sukaemi.

Sukaemi menjelaskan, stok kedelai lokal dari Bojonegoro maupun dari kota-kota lain juga terbatas. Panen kedelai hanya setahun sekali. Sehingga, kebutuhan kedelai di wilayah Bojonegoro tidak pernah bisa terpenuhi.

Apalagi tingkat konsumsi kedelai di Bojonegoro juga tinggi. Kepala Bidang (Kabid) Distribusi dan Cadangan Pangan Dinas Ketahanan Pangan Bojonegoro Erick Firdaus mengatakan, produksi kedelai lokal Bojonegoro memang tidak pernah mampu mencukupi kebutuhan.

Baca Juga :  Pendapatan Menggiurkan, tapi Tetap Rentan dan Berisiko

Proyeksi tahun ini produksi kedelai sebesar 9.025 ton, sedangkan kebutuhan kedelai 13.044 ton. Menurutnya, para petani enggan menanam kedelai karena ada kemungkinan biaya perawatan dengan harga jual kurang menguntungkan.

Sehingga pasokan selama ini untuk memenuhi kebutuhan di wilayah Bojonegoro bergantung kedelai impor dari Amerika Latin seperti Brasil dan Argentina. “Dari segi harga kedelai impor memang lebih murah dibanding kedelai lokal,” jelasnya.

Radar Bojonegoro – Harga kedelai impor belum juga turun. Bahkan, kemarin (23/12) harga kedelai menembus Rp 9.000. Padahal, normalnya hanya Rp 6.500 sampai Rp 7.000.

Kenaikan ini tentu membuat produsen tahu semakin kelabakan. Produsen tahu merugi apalagi harga minyak goreng juga naik. Ketua Paguyuban Produsen Tahu Kelurahan Ledok Kulon Pranyoto mengatakan, harga kedelai tembus Rp 9.000 per kilogram kemarin (23/12).

Pranyoto makin khawatir, karena pasokan stok kedelai hanya ada yang impor. Kedelai lokal Bojonegoro sudah habis pada Oktober lalu. “Harga kedelai impor ini kok naik terus. Padahal, stok kedelai impor tidak langka, kan aneh. Harga naik sejak dua bulan lalu,” ujarnya kemari.

Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Bojonegoro Sukaemi mengaku telah menindaklanjuti naiknya harga kedelai impor. Pihaknya berkoordinasi dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jawa Timur (Jatim).

Baca Juga :  Temukan Paspor CJH Kadaluarsa

Sukaemi meminta agar distribusi kedelai impor merata. Sehingga tidak terjadi kelangkaan di Bojonegoro. Informasi didapat dari Disperindag Provinsi Jatim, naiknya harga kedelai impor akibat adanya pembatasan impor. Juga penurunan daya beli akibat pandemi Covid-19.

Dia memprediksi harga kedelai impor akan kembali normal, ketersediaan stok aman. Namun, pihaknya belum memiliki rincian datanya. “Karena kalau soal data jumlah distribusi kedelai impor ini sepenuhnya wewenang Disperindag Provinsi Jatim,” ujar Sukaemi.

Sukaemi menjelaskan, stok kedelai lokal dari Bojonegoro maupun dari kota-kota lain juga terbatas. Panen kedelai hanya setahun sekali. Sehingga, kebutuhan kedelai di wilayah Bojonegoro tidak pernah bisa terpenuhi.

Apalagi tingkat konsumsi kedelai di Bojonegoro juga tinggi. Kepala Bidang (Kabid) Distribusi dan Cadangan Pangan Dinas Ketahanan Pangan Bojonegoro Erick Firdaus mengatakan, produksi kedelai lokal Bojonegoro memang tidak pernah mampu mencukupi kebutuhan.

Baca Juga :  Jihan Audy Goyang Tuban

Proyeksi tahun ini produksi kedelai sebesar 9.025 ton, sedangkan kebutuhan kedelai 13.044 ton. Menurutnya, para petani enggan menanam kedelai karena ada kemungkinan biaya perawatan dengan harga jual kurang menguntungkan.

Sehingga pasokan selama ini untuk memenuhi kebutuhan di wilayah Bojonegoro bergantung kedelai impor dari Amerika Latin seperti Brasil dan Argentina. “Dari segi harga kedelai impor memang lebih murah dibanding kedelai lokal,” jelasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/