alexametrics
30.9 C
Bojonegoro
Sunday, May 29, 2022

Petani Tebu Untung

LAMONGAN, Radar Lamongan – Harga jual tebu tahun ini cukup stabil. Harga untuk rendemen paling rendah 7 persen, dibeli Rp 65 ribu per kwintal.
Kacung Purwanto, petani tebu asal Kecamatan Sambeng mengatakan, petani tebu sedikit bisa tersenyum tahun ini. Harga tebu cukup stabil sampai panen terakhir.
Meski ada penurunan kualitas karena hujan beberapa waktu lalu, kondisi itu tidak memengaruhi harga beli pabrik. Sehingga, petani untung.
‘’Kita cukup senang tebu dibeli semua dengan harga yang cukup stabil Rp 65 ribu minimal. Kalau kualitasnya lebih baik, harganya tentu lebih mahal,” ujarnya.
Menurut dia, harga gula di pasar cenderung stabil Rp 12.500 per kg. Tahun lalu, harga gula sempat turun Rp 10 ribu per kg.
Karena harga gula tahun ini stabil,  lanjut Kacung, maka pabrik tidak menurunkan harga beli. Sebab, kebutuhan pasar normal.
Meski harga tebu cukup bagus, kata Kacung, sebagian petani ada yang enggan kembali menanam tebu.
Mereka yang sudah beralih ke palawija, sulit untuk kembali ke tebu. Apalagi, menanam palawija tahun ini juga untung. Kacung  mencontohkan harga kedelai minimal Rp 4 ribu per kg. Bahkan panen pertama mencapai Rp 5 ribu per kg.
Sehingga petani sedikit terbantu dengan harga beli yang tinggi apalagi dalam situasi pandemi yang serba sulit ini.
Dikonfirmasi terpisah, Kasi Perkebunan Dinas Tanaman Pangan, Holtikultura, dan Perkebunan Lamongan Suryo Putro mengatakan, hasil panen tebu sempat ada penurunan rendemen, tapi tidak fatal. Hanya beberapa petani yang terdampak intensitas hujan yang tergolong masih rendah.
Masa panen tebu berakhir bulan lalu. Dia mendapatkan informasi dari petani bahwa ada keuntungan karena pabrik tetap membeli hasil panen meski rendemen terendah. Bahkan harga yang ditawarkan cukup baik.
“Sebagian besar petani kita mitra tapi ada yang mandiri, harga tebu dengan rendemen terbaik 9 persen dibeli Rp 77 ribu per kwintal,” jelasnya.

Baca Juga :  Tak Full Team, Saddil dan Dwi Kus Absen Lawan Persipura 

LAMONGAN, Radar Lamongan – Harga jual tebu tahun ini cukup stabil. Harga untuk rendemen paling rendah 7 persen, dibeli Rp 65 ribu per kwintal.
Kacung Purwanto, petani tebu asal Kecamatan Sambeng mengatakan, petani tebu sedikit bisa tersenyum tahun ini. Harga tebu cukup stabil sampai panen terakhir.
Meski ada penurunan kualitas karena hujan beberapa waktu lalu, kondisi itu tidak memengaruhi harga beli pabrik. Sehingga, petani untung.
‘’Kita cukup senang tebu dibeli semua dengan harga yang cukup stabil Rp 65 ribu minimal. Kalau kualitasnya lebih baik, harganya tentu lebih mahal,” ujarnya.
Menurut dia, harga gula di pasar cenderung stabil Rp 12.500 per kg. Tahun lalu, harga gula sempat turun Rp 10 ribu per kg.
Karena harga gula tahun ini stabil,  lanjut Kacung, maka pabrik tidak menurunkan harga beli. Sebab, kebutuhan pasar normal.
Meski harga tebu cukup bagus, kata Kacung, sebagian petani ada yang enggan kembali menanam tebu.
Mereka yang sudah beralih ke palawija, sulit untuk kembali ke tebu. Apalagi, menanam palawija tahun ini juga untung. Kacung  mencontohkan harga kedelai minimal Rp 4 ribu per kg. Bahkan panen pertama mencapai Rp 5 ribu per kg.
Sehingga petani sedikit terbantu dengan harga beli yang tinggi apalagi dalam situasi pandemi yang serba sulit ini.
Dikonfirmasi terpisah, Kasi Perkebunan Dinas Tanaman Pangan, Holtikultura, dan Perkebunan Lamongan Suryo Putro mengatakan, hasil panen tebu sempat ada penurunan rendemen, tapi tidak fatal. Hanya beberapa petani yang terdampak intensitas hujan yang tergolong masih rendah.
Masa panen tebu berakhir bulan lalu. Dia mendapatkan informasi dari petani bahwa ada keuntungan karena pabrik tetap membeli hasil panen meski rendemen terendah. Bahkan harga yang ditawarkan cukup baik.
“Sebagian besar petani kita mitra tapi ada yang mandiri, harga tebu dengan rendemen terbaik 9 persen dibeli Rp 77 ribu per kwintal,” jelasnya.

Baca Juga :  Membaca di Tepi Telaga

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/