alexametrics
28.1 C
Bojonegoro
Wednesday, May 25, 2022

Serapan APBD Maksimal Rp 3,3 Triliun

Radar Bojonegoro – Serapan anggaran menjadi salah satu fokus pembahasan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja (RAPBD) 2021 Bojonegoro kemarin (23/11). Sebab, serapan terlalu tinggi berdampak tidak tertutupnya defisit APBD tahun depan. Terakhir, posisi serapan anggaran mencapai Rp 2,7 triliun.

Untuk menutup defisit APBD 2021, maksimal serapan APBD tahun ini Rp 3,3 triliun. Sehingga, maksimal serapan anggaran hingga akhir Desember Rp 600 miliar. Namun, tak perlu khawatir tentang defisit. Sebab, terjadi lonjakan pendapatan dari deposito, dari target Rp 80 miliar, per 23 November realisasinya sudah tembus Rp 107 miliar.

‘’Kalau batas aman serapan anggaran ya itu. Tapi menurut saya serapannya bisa lebih,’’ tutur Anggota Badan Anggaran (Banggar) DPRD Bojonegoro Lasuri. Menurutnya Lasuri, serapan anggaran hingga akhir Desember mendatang bisa mencapai Rp 3,5 triliun. Namun, hal itu tidak akan memperparah defisit anggaran tahun depan.

Baca Juga :  Server Mendadak Offline, Siswa Panik

Sebab, ada sejumlah pendapatan lain bisa digunakan menutup kekurangannya. Karena beberapa pendapatan daerah melebihi target. Misalnya, dividen PT Asri Dharma Sejahtera (ADS) Rp 120 miliar. Kemudian, pendapatan dari deposito Rp 107 miliar. Padahal, target jasa menyimpan APBD di bank itu Rp 80 miliar.

‘’Penutupan defisit paling besar adalah dari silpa. Tapi ada sejumlah pendapatan yang bisa membantu menutup,’’ jelas politikus PAN itu. Lasuri menambahkan, APBD tahun depan diproyeksikan defisit Rp 2,4 triliun. Sebab, belanja tahun depan lebih besar dibanding pendapatan. Belanja mencapai Rp 6,4 triliun. Sedangkan pendapatan hanya Rp 3,7 triliun. Terjadi kekurangan sekitar Rp 2,4 triliun.

‘’Saya yakin defisit itu bisa tertutup,’’ tendasnya. Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Bojonegoro Luluk Alifah mengatakan, posisi serapan APBD masih di kisaran Rp 48,11 persen atau Rp 2,7 triliun. Posisi sisa anggaran saat ini sekitar Rp 2,9 triliun. ‘’Itu (sisa anggaran) saat ini yang ada di kas daerah,’’ ujar Luluk.

Baca Juga :  Penyaluran BPNT ke Wilayah Kecamatan Merakurak

Melihat kondisi itu, lanjut Luluk, dipastikan defisit bisa tertutup dengan silpa. Sebab, posisi serapan masih belum melebihi silpa yang diproyeksikan. Sisa anggaran itu posisinya di Bank Jatim. Sebab, kas daerah disimpan di bank itu. Dari penyimpanan itu ada pendapatan dari deposito sebesar Rp 107 miliar.

Pendapatan itu masuk pada APBD 2021 mendatang. Pendapatan dari deposito tahun ini melebihi target yang telah ditetapkan sbeelumnya Rp 80 miliar. Kekuatan Perubahan APBD Bojonegoro Rp 5,7 triliun, terjadi penurunan dari APBD induk Rp 6,4 triliiun. Penurunan itu karena sejumlah pendapatan tidak memenuhi target. 

Radar Bojonegoro – Serapan anggaran menjadi salah satu fokus pembahasan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja (RAPBD) 2021 Bojonegoro kemarin (23/11). Sebab, serapan terlalu tinggi berdampak tidak tertutupnya defisit APBD tahun depan. Terakhir, posisi serapan anggaran mencapai Rp 2,7 triliun.

Untuk menutup defisit APBD 2021, maksimal serapan APBD tahun ini Rp 3,3 triliun. Sehingga, maksimal serapan anggaran hingga akhir Desember Rp 600 miliar. Namun, tak perlu khawatir tentang defisit. Sebab, terjadi lonjakan pendapatan dari deposito, dari target Rp 80 miliar, per 23 November realisasinya sudah tembus Rp 107 miliar.

‘’Kalau batas aman serapan anggaran ya itu. Tapi menurut saya serapannya bisa lebih,’’ tutur Anggota Badan Anggaran (Banggar) DPRD Bojonegoro Lasuri. Menurutnya Lasuri, serapan anggaran hingga akhir Desember mendatang bisa mencapai Rp 3,5 triliun. Namun, hal itu tidak akan memperparah defisit anggaran tahun depan.

Baca Juga :  Server Mendadak Offline, Siswa Panik

Sebab, ada sejumlah pendapatan lain bisa digunakan menutup kekurangannya. Karena beberapa pendapatan daerah melebihi target. Misalnya, dividen PT Asri Dharma Sejahtera (ADS) Rp 120 miliar. Kemudian, pendapatan dari deposito Rp 107 miliar. Padahal, target jasa menyimpan APBD di bank itu Rp 80 miliar.

‘’Penutupan defisit paling besar adalah dari silpa. Tapi ada sejumlah pendapatan yang bisa membantu menutup,’’ jelas politikus PAN itu. Lasuri menambahkan, APBD tahun depan diproyeksikan defisit Rp 2,4 triliun. Sebab, belanja tahun depan lebih besar dibanding pendapatan. Belanja mencapai Rp 6,4 triliun. Sedangkan pendapatan hanya Rp 3,7 triliun. Terjadi kekurangan sekitar Rp 2,4 triliun.

‘’Saya yakin defisit itu bisa tertutup,’’ tendasnya. Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Bojonegoro Luluk Alifah mengatakan, posisi serapan APBD masih di kisaran Rp 48,11 persen atau Rp 2,7 triliun. Posisi sisa anggaran saat ini sekitar Rp 2,9 triliun. ‘’Itu (sisa anggaran) saat ini yang ada di kas daerah,’’ ujar Luluk.

Baca Juga :  Dengan E-Filling, SPT Tahunan Kian Praktis

Melihat kondisi itu, lanjut Luluk, dipastikan defisit bisa tertutup dengan silpa. Sebab, posisi serapan masih belum melebihi silpa yang diproyeksikan. Sisa anggaran itu posisinya di Bank Jatim. Sebab, kas daerah disimpan di bank itu. Dari penyimpanan itu ada pendapatan dari deposito sebesar Rp 107 miliar.

Pendapatan itu masuk pada APBD 2021 mendatang. Pendapatan dari deposito tahun ini melebihi target yang telah ditetapkan sbeelumnya Rp 80 miliar. Kekuatan Perubahan APBD Bojonegoro Rp 5,7 triliun, terjadi penurunan dari APBD induk Rp 6,4 triliiun. Penurunan itu karena sejumlah pendapatan tidak memenuhi target. 

Artikel Terkait

Most Read

Berkas Marfuah Tak Kunjung Lengkap

Waspada Daging Gelonggongan

Zainuri Tinggal Finalisasi

Artikel Terbaru


/