alexametrics
30.4 C
Bojonegoro
Monday, May 23, 2022

Rute Jalan Tol Ngawi-Bojonegoro-Tuban-Lamongan Belum Ditentukan

Radar Bojonegoro – Penentuan rute tol Ngawi-Bojonegoro-Tuban-Lamongan belum disepakati. Pemerintah kabupaten (pemkab) yang dilewati memiliki pendapat masing-masing berdasarkan rencana tata ruang wilayah (RTRW). Karena itu, rute tol menyambung ini masih dikaji.

Namun, semua keputusan terakhir terkait rute tol dilakukan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Kementerian PUPR akan membuat peta satelit. Nantinya untuk menentukan jalur yang paling sesuai. Termasuk saat ini masih menggandeng kampus untuk prastudi kelayakan (feasibility study).

Kasubbid Sarana dan Prasarana Badan Koordinasi Wilayah (Bakorwil) Bojonegoro Ramses Panjaitan mengatakan, RTRW kabupaten yang dilewati tol berbeda-beda. Pemkab Bojonegoro sepertinya keberatan untuk melakukan pembebasan lahan. Sehingga, menurut dia, Pemkab Bojonegoro mengajukan tol menggunakan jalur Solo Valley Werken.

Jalur ini dari Kecamatan Margomulyo sampai Kecamatan Babat, Lamongan. Alasannya, karena tanah negara dan tidak perlu dilakukan pembebasan lahan. Dengan konsep sungai pengendali banjir diapit dua jalur tol. “Jalurnya berbeda. Untuk Kabupaten Lamongan tidak begitu mempermasalahkan, karena sudah terakses tol Demak – Gresik,” ujarnya.

Baca Juga :  Hanya Separo Jalan Diselimuti Cor

Berbeda dengan Pemkab Tuban. Menurut dia, Pemkab Tuban menginginkan tol melalui wilayah barat, yang merupakan sentra industri. Keberadaan jalan tol bertujuan untuk meningkatkan ekonomi masyarakat. Sehingga sentra industri tumbuh. Karena akses kendaraan mudah dan mengangkat hasil daerah tersebut. “Karena bagian barat Tuban ada industri besar,” ungkapnya ditemui di kantornya kemarin (23/11).

Ramses menjelaskan, Pemkab Tuban meminta jalan tol masuk ke Tuban melalui Kecamatan Trucuk, Bojonegoro dan Kacamatan Parengan hingga ke Kacamatan Jenu. Ramses meminta LPPM Universitas Brawijaya Malang selaku peneliti prastudi kelayakan (feasibility studyi) memberikan solusi terbaik atas kajian rute tol ini. Dengan target akhir tahun, sebab kontrak dengan pihak UB hingga Desember.

Baca Juga :  JPU Nilai Kembalikan Uang Setelah Diperiksa Polisi

“Cobalah cari win-win solution. Tidak ada yang disalahkan,” jelasnya. Namun semua keputusan terkahir terkait rute tol dilakukan oleh Kementerian PUPR. Ramses menjelaskan, pembangunan jalan tol merupakan program presiden sesuai Perpres Nomor 80 Tahun 2019 tentang Percepatan Pembangunan Ekonomi di Kawasan Gerbang kertosusila. Sehingga pembangunan direncanakan selesai 2024.

“Sesuai masa jabatan Presiden Jokowi,” ungkapnya. Semantara itu, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Bojonegoro Anwar Mukhtadlo mengatakan, permbangunan tol masih lama. Terdapat proses-proses akan dijalani selanjutnya. Koordinasi penentuan rute akan dilakukan lagi. “Ditunggu kabar selanjutnya,” ungkapnya. (irv)

Radar Bojonegoro – Penentuan rute tol Ngawi-Bojonegoro-Tuban-Lamongan belum disepakati. Pemerintah kabupaten (pemkab) yang dilewati memiliki pendapat masing-masing berdasarkan rencana tata ruang wilayah (RTRW). Karena itu, rute tol menyambung ini masih dikaji.

Namun, semua keputusan terakhir terkait rute tol dilakukan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Kementerian PUPR akan membuat peta satelit. Nantinya untuk menentukan jalur yang paling sesuai. Termasuk saat ini masih menggandeng kampus untuk prastudi kelayakan (feasibility study).

Kasubbid Sarana dan Prasarana Badan Koordinasi Wilayah (Bakorwil) Bojonegoro Ramses Panjaitan mengatakan, RTRW kabupaten yang dilewati tol berbeda-beda. Pemkab Bojonegoro sepertinya keberatan untuk melakukan pembebasan lahan. Sehingga, menurut dia, Pemkab Bojonegoro mengajukan tol menggunakan jalur Solo Valley Werken.

Jalur ini dari Kecamatan Margomulyo sampai Kecamatan Babat, Lamongan. Alasannya, karena tanah negara dan tidak perlu dilakukan pembebasan lahan. Dengan konsep sungai pengendali banjir diapit dua jalur tol. “Jalurnya berbeda. Untuk Kabupaten Lamongan tidak begitu mempermasalahkan, karena sudah terakses tol Demak – Gresik,” ujarnya.

Baca Juga :  Tambah Gelandang Bertahan, Dua Pemain Diberangkatkan

Berbeda dengan Pemkab Tuban. Menurut dia, Pemkab Tuban menginginkan tol melalui wilayah barat, yang merupakan sentra industri. Keberadaan jalan tol bertujuan untuk meningkatkan ekonomi masyarakat. Sehingga sentra industri tumbuh. Karena akses kendaraan mudah dan mengangkat hasil daerah tersebut. “Karena bagian barat Tuban ada industri besar,” ungkapnya ditemui di kantornya kemarin (23/11).

Ramses menjelaskan, Pemkab Tuban meminta jalan tol masuk ke Tuban melalui Kecamatan Trucuk, Bojonegoro dan Kacamatan Parengan hingga ke Kacamatan Jenu. Ramses meminta LPPM Universitas Brawijaya Malang selaku peneliti prastudi kelayakan (feasibility studyi) memberikan solusi terbaik atas kajian rute tol ini. Dengan target akhir tahun, sebab kontrak dengan pihak UB hingga Desember.

Baca Juga :  Anggota DPRD Bojonegoro Harus Sregep Ngantor

“Cobalah cari win-win solution. Tidak ada yang disalahkan,” jelasnya. Namun semua keputusan terkahir terkait rute tol dilakukan oleh Kementerian PUPR. Ramses menjelaskan, pembangunan jalan tol merupakan program presiden sesuai Perpres Nomor 80 Tahun 2019 tentang Percepatan Pembangunan Ekonomi di Kawasan Gerbang kertosusila. Sehingga pembangunan direncanakan selesai 2024.

“Sesuai masa jabatan Presiden Jokowi,” ungkapnya. Semantara itu, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Bojonegoro Anwar Mukhtadlo mengatakan, permbangunan tol masih lama. Terdapat proses-proses akan dijalani selanjutnya. Koordinasi penentuan rute akan dilakukan lagi. “Ditunggu kabar selanjutnya,” ungkapnya. (irv)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/