alexametrics
29.9 C
Bojonegoro
Tuesday, May 17, 2022

Pasar Batik Masih Terbatas

BOJONEGORO – Produksi batik Bojonegoro belakangan naik hingga 10 persen. Hal itu dipengaruhi permintaan sejumlah sekolah, kantor, bank, dan instansi yang diwajibkan menggunakan batik khas Jonegoro.

Karyawan salah satu pengrajin batik di Bojonegoro, Weny, mengatakan, permintaan batik selama ini cenderung stabil, karena penjualan batik sudah menyasar seluruh segmen, mulai pemerintahan, sekolah, dan bank.

Dikatakan Weny, setiap tahun penjualan batik memang terjadi kenaikan.

Meski tidak signifikan, tetapi progress penjualan batik selalu positif.

”Dengan kenaikan permintaan, persaingan pengrajin dipastikan semakin kuat,” ujarnya kemarin (23/10). 

Menurut Weny, permintaan batik selama ini masih di dominasi jenis cap.

Selain prosesnya lebih mudah, warna yang ditawarkan lebih bervariatif.

Baca Juga :  Komponen Robot dari Jerman, Juga Dibuat Sendiri dari Bahan Bekas

Sehingga, konsumen batik cap selalu bertambah baik dari lokal maupun luar kota.

Selain itu, kebutuhan akan batik cap didominasi sekolah dan instansi.

Harganya juga cukup ekonomis, antara Rp 130 ribu-Rp 150 ribu.

Sedangkan batik tulis harganya Rp 350 ribu-Rp 400 ribu per potong. 

Terpisah, Yayuk pengrajin lainnya, mengatakan, kebutuhan akan batik semakin tinggi.

Sehingga persaingan pengrajin selalu berdatangan, tetapi masing-masing pengrajin memiliki karakter sendiri.

Sehingga, produk ditawarkan juga berbeda menyesuaikan dengan kualitas dan hasil produksinya.

Yayuk menambahkan, pasar batik belakangan cukup kompetitif.

Sehingga, pengrajin harus bersaing, sedangkan segmen penjualan batik masih berkutat jenis cap.

”Kalau batik cap lebih murah, tetapi biasanya pemesanan dilakukan secara berkelompok antara 100-200 potong,” terangnya.

Baca Juga :  Selalu Jaga Penampilan

BOJONEGORO – Produksi batik Bojonegoro belakangan naik hingga 10 persen. Hal itu dipengaruhi permintaan sejumlah sekolah, kantor, bank, dan instansi yang diwajibkan menggunakan batik khas Jonegoro.

Karyawan salah satu pengrajin batik di Bojonegoro, Weny, mengatakan, permintaan batik selama ini cenderung stabil, karena penjualan batik sudah menyasar seluruh segmen, mulai pemerintahan, sekolah, dan bank.

Dikatakan Weny, setiap tahun penjualan batik memang terjadi kenaikan.

Meski tidak signifikan, tetapi progress penjualan batik selalu positif.

”Dengan kenaikan permintaan, persaingan pengrajin dipastikan semakin kuat,” ujarnya kemarin (23/10). 

Menurut Weny, permintaan batik selama ini masih di dominasi jenis cap.

Selain prosesnya lebih mudah, warna yang ditawarkan lebih bervariatif.

Baca Juga :  Limpahkan Berkas Pencabulan ke Kejari

Sehingga, konsumen batik cap selalu bertambah baik dari lokal maupun luar kota.

Selain itu, kebutuhan akan batik cap didominasi sekolah dan instansi.

Harganya juga cukup ekonomis, antara Rp 130 ribu-Rp 150 ribu.

Sedangkan batik tulis harganya Rp 350 ribu-Rp 400 ribu per potong. 

Terpisah, Yayuk pengrajin lainnya, mengatakan, kebutuhan akan batik semakin tinggi.

Sehingga persaingan pengrajin selalu berdatangan, tetapi masing-masing pengrajin memiliki karakter sendiri.

Sehingga, produk ditawarkan juga berbeda menyesuaikan dengan kualitas dan hasil produksinya.

Yayuk menambahkan, pasar batik belakangan cukup kompetitif.

Sehingga, pengrajin harus bersaing, sedangkan segmen penjualan batik masih berkutat jenis cap.

”Kalau batik cap lebih murah, tetapi biasanya pemesanan dilakukan secara berkelompok antara 100-200 potong,” terangnya.

Baca Juga :  Menikmati Kebun Kelengkeng di Desa Pajeng, Lereng Gunung Pandan

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/