alexametrics
31.2 C
Bojonegoro
Monday, May 23, 2022

Martono: Mereka Minta ‘Bantuan’

BOJONEGORO – Teka- teki siapa lima orang asal Bojonegoro yang mendatangi Universitas Negeri Semarang (Unnes) akhirnya terjawab. Ketua Komisi A Sugeng Hari Hanggoro dan Wakil Ketua Komisi A Anam Warsito mengakui bahwa merekalah  yang datang ke lembaga yang digandeng untuk menyelenggarakan ujian calon perangkat desa tersebut.

”Kami yang datang. Lima orang yang disebutkan itu adalah saya sendiri, ketua komisi A, dan tiga kades,’’ ujar Anam Warsito,  juru bicara komisi A dalam keterangan persnya kemarin (23/10).

Selain Sugeng dan Anam, keterangan pers yang digelar di ruangan Komisi A DPRD Bojonegoro itu juga dihadiri anggota komisi A lainnya. Selain Sugeng Hari Hanggoro dan Anam Warsito, ada tiga kades yang ikut ke Unnes. Mereka adalah Kades Plesungan, Kecamatan Kapas yang juga Ketua Asosiasi Kepala Desa (AKD) Moh. Choiri serta Kades Prayungan (Sumberrejo)  Imam Rofii,  dan Kades Wedi, Kecamatan Kapas Mashuri. ”Kami datang Selasa 17 Oktober, atau H-10 dari pelaksanaan ujian,’’ terangnya.

Anam mengklaim, kedatangannya itu sengaja untuk mengecek kesiapan Unnes dalam membuat soal. Sebab, sebagai pimpinan komisi A, dia dan Sugeng masuk dalam tim pengisian perangkat desa sesuai dengan SK Bupati Nomor 188/213 Tahun 2017 tertanggal 24 Juli 2017. Anam dan Sugeng masuk dalam jajaran evaluator, bersama dengan wakil ketua I dan II DPRD Bojonegoro serta dua NGO di Kota Ledre ini.

”Jadi, kedatangan kami sah dan resmi, karena kami bagian dari tim pengisian perangkat desa dengan jabatan evaluator,’’ ungkapnya.

Terkait dengan diajaknya ketua AKD dan dua kades lainnya, anggota DPRD dari Partai Gerindra ini menceritakan, di lapangan sudah banyak isu berseliweran. Salah satunya mengatasnamakan oknum dari Unnes yang mengaku bisa meloloskan calon untuk menjadi perangkat desa dengan imbalan uang. Masyarakat mengadu ke kepala desa masing-masing yang kemudian diteruskan ke AKD.

”Saat AKD mengadu ke kami, saya ajak sekalian ke Unnes agar  bisa bertanya langsung. Sebab, di Sukosewu sudah ada membayar Rp 25 juta pada oknum. Ini kan repot,’’ bebernya.

Baca Juga :  HR Dilacak, Polres Kirim Anggota ke Semarang

Anam mengaku tak koordinasi dengan anggota tim lainnya sebelum ke Unnes. Sebab, dia merasa bahwa tugas dan fungsinya sebagai evaluator melekat. Sehingga, ketika akan bertindak atau melakukan sesuatu tidak harus izin atau koordinasi dengan yang lain. ”Sama seperti Anda, ketika sudah menerima kartu pers dari media Anda, masak Anda mau liputan ke mana-mana selalu bilang dulu,’’ katanya.

Saat di Unnes, dia mengaku diterima Wakil Rektor II Unnes. Pertemuan pun dilakukan di ruang kerja wakil rektor tersebut. Selain dia dan rombongan, wakil rektor didampingi satu orang lagi. ”Kami bertujuh di ruangan itu. Saat itu sekitar jam 10.00, bisa dicek,’’ terangnya.

Materi pembicaraan juga terkait hal-hal teknis, sehingga tidak ada pembicaraan khusus, apalagi untuk memengaruhi pihak Unnes agar melakukan sesuatu kecurangan. Atas merebaknya kedatangan dia ke Unnes menjadi isu yang membuahkan suasana gaduh, Anam menyatakan sangat menyayangkan. Sebab, mestinya  jika ada persoalan bisa dibicarakan di internal tim pengisian. ”Tidak malah diinformasikan secara liar ke media. Kami sangat menyayangkan,’’ tandasnya.

Karena itu, Anam mengusulkan ke bupati untuk menggelar rapat koordinasi seluruh tim pengisian perangkat. Pihak Unnes juga diundang untuk menjelaskan seperti apa sebenarnya kejadiannya. ”Agar semua klir. Kalau seperti ini, lembaga DPRD terutama komisi A dan AKD dipojokkan. Terlebih kemudian muncul fitnah-fitnah yang luar biasa itu. Intinya, kedatangan kami ke sana (Unnes) untuk mengecek kesiapan Unnes, bukan untuk yang lain,’’ tegasnya.

Namun, keterangan dari Anam ini berbeda dengan Wakil Rektor II Unnes Martono. Wakil Rektor II Unnes Martono mengatakan, mereka memang datang ke Unnes dan memperkenalkan diri. Namun, mereka tidak membawa surat tugas dari lembaga mereka. Baik komisi A maupun AKD sama-sama tidak membawa surat tugas. Sehingga, mereka datang ke Unnes bukan dalam rangka tugas, melainkan pribadi. ”Mereka memang memperkenalkan diri. Tapi, mereka tidak menunjukkan surat tugas. Saya angggap mereka ke sini (Unnes) secara pribadi,’’ ungkap Martono kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro.

Baca Juga :  DPRD Bakal Klarifikasi Unnes

Selain berbasa-basi menanyakan teknis pelaksanaan ujian tes perangkat desa, mereka juga minta bantuan. Kata-kata minta ‘bantuan’ tersebut oleh Martono digarisbawahi sebagai sesuatu permintaan yang tidak baik. ”Pak tolong saya ‘dibantu’,’’ ucap Martono menirukan ucapan salah satu dari lima orang itu.

Menurut Martono, mereka sepertinya ada maksud tertentu. ”Tapi, saya katakan bahwa sepanjang minta untuk pencetakan, distribusi soal, dan pengawasan ya bisa. Kalau yang lain tidak bisa,’’ jelasnya.

Namun, lanjutnya, mereka sepertinya meminta ‘bantuan yang lain’. Hal tersebut membuat Martono tidak bisa melakukannya. Sebab, Unnes sudah berkomitmen untuk menjaga integritas dan kejujuran.

Dia menceritakan kronologi kedatangan lima orang itu. Sebelum lima orang itu, ada dua orang lain yang membawa mereka. Namun, Martono tidak mengetahui siapa dua orang itu. ”Kelihatannya dua orang itu bukan dari Bojonegoro. Mereka yang membawa masuk lima orang itu menghadap saya. Kelihatannya perantara,’’ jelasnya.

Martono menjelaskan, apakah ada orang lain yang mendatangi Unnes, Martono mengatakan ada. Namun, orang-orang itu tidak menemuinya. Dia khawatir, kedatangannya ke Unnes akan digunakan untuk berbuat jahat. Misalnya, mengaku sudah menemui Unnes dan bisa dimintai tolong untuk meloloskan. ”Ini yang saya khawatirkan,’’ jelasnya.

Martono menegaskan, pihaknya akan menjaga integritas kejujuran. Sebab, ini demi reputasi Unnes dan masyarakat Bojonegoro. ”Biarlah tidak disukai kalangan tertentu karena permintaannya tidak bisa dikabulkan. Tapi, integritas masih kami jaga,’’ jelasnya.

Unnes juga akan kooperatif jika pihak kepolisian bekerja sama dalam hal ini. Pihaknya akan mempersilakan polisi untuk memeriksa CCTV yang ada di depan ruangannya. Sehingga, bisa terlihat siapa-siapa saja yang datang ke Unnes menemuinya.

BOJONEGORO – Teka- teki siapa lima orang asal Bojonegoro yang mendatangi Universitas Negeri Semarang (Unnes) akhirnya terjawab. Ketua Komisi A Sugeng Hari Hanggoro dan Wakil Ketua Komisi A Anam Warsito mengakui bahwa merekalah  yang datang ke lembaga yang digandeng untuk menyelenggarakan ujian calon perangkat desa tersebut.

”Kami yang datang. Lima orang yang disebutkan itu adalah saya sendiri, ketua komisi A, dan tiga kades,’’ ujar Anam Warsito,  juru bicara komisi A dalam keterangan persnya kemarin (23/10).

Selain Sugeng dan Anam, keterangan pers yang digelar di ruangan Komisi A DPRD Bojonegoro itu juga dihadiri anggota komisi A lainnya. Selain Sugeng Hari Hanggoro dan Anam Warsito, ada tiga kades yang ikut ke Unnes. Mereka adalah Kades Plesungan, Kecamatan Kapas yang juga Ketua Asosiasi Kepala Desa (AKD) Moh. Choiri serta Kades Prayungan (Sumberrejo)  Imam Rofii,  dan Kades Wedi, Kecamatan Kapas Mashuri. ”Kami datang Selasa 17 Oktober, atau H-10 dari pelaksanaan ujian,’’ terangnya.

Anam mengklaim, kedatangannya itu sengaja untuk mengecek kesiapan Unnes dalam membuat soal. Sebab, sebagai pimpinan komisi A, dia dan Sugeng masuk dalam tim pengisian perangkat desa sesuai dengan SK Bupati Nomor 188/213 Tahun 2017 tertanggal 24 Juli 2017. Anam dan Sugeng masuk dalam jajaran evaluator, bersama dengan wakil ketua I dan II DPRD Bojonegoro serta dua NGO di Kota Ledre ini.

”Jadi, kedatangan kami sah dan resmi, karena kami bagian dari tim pengisian perangkat desa dengan jabatan evaluator,’’ ungkapnya.

Terkait dengan diajaknya ketua AKD dan dua kades lainnya, anggota DPRD dari Partai Gerindra ini menceritakan, di lapangan sudah banyak isu berseliweran. Salah satunya mengatasnamakan oknum dari Unnes yang mengaku bisa meloloskan calon untuk menjadi perangkat desa dengan imbalan uang. Masyarakat mengadu ke kepala desa masing-masing yang kemudian diteruskan ke AKD.

”Saat AKD mengadu ke kami, saya ajak sekalian ke Unnes agar  bisa bertanya langsung. Sebab, di Sukosewu sudah ada membayar Rp 25 juta pada oknum. Ini kan repot,’’ bebernya.

Baca Juga :  Siti Nurul Hidayah Ketua Baru

Anam mengaku tak koordinasi dengan anggota tim lainnya sebelum ke Unnes. Sebab, dia merasa bahwa tugas dan fungsinya sebagai evaluator melekat. Sehingga, ketika akan bertindak atau melakukan sesuatu tidak harus izin atau koordinasi dengan yang lain. ”Sama seperti Anda, ketika sudah menerima kartu pers dari media Anda, masak Anda mau liputan ke mana-mana selalu bilang dulu,’’ katanya.

Saat di Unnes, dia mengaku diterima Wakil Rektor II Unnes. Pertemuan pun dilakukan di ruang kerja wakil rektor tersebut. Selain dia dan rombongan, wakil rektor didampingi satu orang lagi. ”Kami bertujuh di ruangan itu. Saat itu sekitar jam 10.00, bisa dicek,’’ terangnya.

Materi pembicaraan juga terkait hal-hal teknis, sehingga tidak ada pembicaraan khusus, apalagi untuk memengaruhi pihak Unnes agar melakukan sesuatu kecurangan. Atas merebaknya kedatangan dia ke Unnes menjadi isu yang membuahkan suasana gaduh, Anam menyatakan sangat menyayangkan. Sebab, mestinya  jika ada persoalan bisa dibicarakan di internal tim pengisian. ”Tidak malah diinformasikan secara liar ke media. Kami sangat menyayangkan,’’ tandasnya.

Karena itu, Anam mengusulkan ke bupati untuk menggelar rapat koordinasi seluruh tim pengisian perangkat. Pihak Unnes juga diundang untuk menjelaskan seperti apa sebenarnya kejadiannya. ”Agar semua klir. Kalau seperti ini, lembaga DPRD terutama komisi A dan AKD dipojokkan. Terlebih kemudian muncul fitnah-fitnah yang luar biasa itu. Intinya, kedatangan kami ke sana (Unnes) untuk mengecek kesiapan Unnes, bukan untuk yang lain,’’ tegasnya.

Namun, keterangan dari Anam ini berbeda dengan Wakil Rektor II Unnes Martono. Wakil Rektor II Unnes Martono mengatakan, mereka memang datang ke Unnes dan memperkenalkan diri. Namun, mereka tidak membawa surat tugas dari lembaga mereka. Baik komisi A maupun AKD sama-sama tidak membawa surat tugas. Sehingga, mereka datang ke Unnes bukan dalam rangka tugas, melainkan pribadi. ”Mereka memang memperkenalkan diri. Tapi, mereka tidak menunjukkan surat tugas. Saya angggap mereka ke sini (Unnes) secara pribadi,’’ ungkap Martono kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro.

Baca Juga :  HR Dilacak, Polres Kirim Anggota ke Semarang

Selain berbasa-basi menanyakan teknis pelaksanaan ujian tes perangkat desa, mereka juga minta bantuan. Kata-kata minta ‘bantuan’ tersebut oleh Martono digarisbawahi sebagai sesuatu permintaan yang tidak baik. ”Pak tolong saya ‘dibantu’,’’ ucap Martono menirukan ucapan salah satu dari lima orang itu.

Menurut Martono, mereka sepertinya ada maksud tertentu. ”Tapi, saya katakan bahwa sepanjang minta untuk pencetakan, distribusi soal, dan pengawasan ya bisa. Kalau yang lain tidak bisa,’’ jelasnya.

Namun, lanjutnya, mereka sepertinya meminta ‘bantuan yang lain’. Hal tersebut membuat Martono tidak bisa melakukannya. Sebab, Unnes sudah berkomitmen untuk menjaga integritas dan kejujuran.

Dia menceritakan kronologi kedatangan lima orang itu. Sebelum lima orang itu, ada dua orang lain yang membawa mereka. Namun, Martono tidak mengetahui siapa dua orang itu. ”Kelihatannya dua orang itu bukan dari Bojonegoro. Mereka yang membawa masuk lima orang itu menghadap saya. Kelihatannya perantara,’’ jelasnya.

Martono menjelaskan, apakah ada orang lain yang mendatangi Unnes, Martono mengatakan ada. Namun, orang-orang itu tidak menemuinya. Dia khawatir, kedatangannya ke Unnes akan digunakan untuk berbuat jahat. Misalnya, mengaku sudah menemui Unnes dan bisa dimintai tolong untuk meloloskan. ”Ini yang saya khawatirkan,’’ jelasnya.

Martono menegaskan, pihaknya akan menjaga integritas kejujuran. Sebab, ini demi reputasi Unnes dan masyarakat Bojonegoro. ”Biarlah tidak disukai kalangan tertentu karena permintaannya tidak bisa dikabulkan. Tapi, integritas masih kami jaga,’’ jelasnya.

Unnes juga akan kooperatif jika pihak kepolisian bekerja sama dalam hal ini. Pihaknya akan mempersilakan polisi untuk memeriksa CCTV yang ada di depan ruangannya. Sehingga, bisa terlihat siapa-siapa saja yang datang ke Unnes menemuinya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/