alexametrics
22.5 C
Bojonegoro
Wednesday, June 29, 2022

Motifnya Sulit, Diminati Pembeli Arab, Singapura, dan Tiongkok

TANGAN Eny Fuji Lestari sampai kapalan. Setiap hari jari-jemarinya menganyam tali hingga berbentuk tas. Ternyata, karyanya diminati hingga Tiongkok dan Singapura.

Jari-jemarinya lihai saat mengaitkan tali satu dengan yang lain. Berbagai macam warna tali kur berserakan di sekelilingnya. Semua tali sudah dirangkai menjadi sebuah tas. Hanya, belum selesai seluruhnya.

Eny Fuji Lestari, sosok perempuan yang merangkai tali kur menjadi tas. Terlihat bentuk tas bagian atas sudah berpola. Bagian tengah masih berupa untaian tali. Di ruang tamu rumah sederhana di Gang Langgar Jalan Brigjen Sutoyo itu terlihat etalase kaca. Di dalamnya terdapat berbagai motif tas.

Eny Fuji Lestari bukanlah orang asli Bojonegoro. Tetapi, dari Surabaya. Hanya, saat ini ikut suami yang bekerja di daerah Bojonegoro. Meski begitu, E’en, sapaan akrabnya, berusaha memperkuat kerajinan tangannya. Ia berusaha mencari ibu-ibu  tetangganya yang berminat belajar membuat tas berbahan tali kur.

’’Rata-rata orang yang ingin belajar justru tinggalnya lebih jauh. Sementara, di sekitar sini tidak banyak yang minat. Begitu melihat tas berbagai motif langsung minder. Katanya sulit,’’ ucapnya sambil tertawa.

Baca Juga :  Upaya Mediasi Gagal

Padahal, perempuan yang memiliki dua putra itu juga mengajak belajar gratis via online. Karena terkadang tidak tega meminta bayaran pada para ibu yang alasannya ingin menambah pemasukan suami. Perempuan berdomisili di Desa Sukorejo ini mengatakan, penjualan tas karyanya hingga luar negeri. Bahkan, masih rutin mengirim tas ke Tiongkok dan Singapura.

Sambil menganyam tali kur merah dan krem, E’en mengatakan, pemesan dari Tiongkok dan Singapura biasanya hanya memesan satu tas saja. Dipakai untuk pribadi. ’’Kali pertama dapat pesanan dari luar negeri itu dari Jerman. Saya minta testimoni. Lalu di Jeddah, Arab juga pernah. Itu orang Madura yang berjualan di sana (Jeddah). Sekali kirim satu lusin,’’ jelas perempuan 41 tahun itu.

Mengobrol bersama E’en menyenangkan. Suaranya renyah. Kadang tertawa jika berbicara mengenai hobinya membuat tas. Perempuan berjilbab ini menunjukkan jari-jemarinya yang kapalan akibat membuat tas dari tali. Menarik tali dengan kuat agar tidak ada rongga pada aplikasi motif. Bahkan, ia juga menggunakan kakinya agar tali terikat kuat.

Baca Juga :  Pahlawan Kesehatan Indonesia: Prof. Kusnandi RusmilĀ 

’’Katanya orang tua dulu suka perempuan yang tangannya kasar. Tandanya rajin kerja,’’ ujar alumnus Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sidoarjo.

Sambil menyuguhkan minuman, ia bercerita tidak pernah berpikir hobinya menghasilkan uang. Hanya modal memakai tas buatannya ke luar rumah atau acara kumpul bersama teman, ternyata membuat orang yang melihatnya tertarik.

Dalam sehari, ia bisa membuat empat tas berukuran kecil dengan berbagai motif. Perempuan penyuka warna merah ini mengatakan, merasa tertantang jika mendapat motif sulit.

E’en memiliki kisah seru sebagai perajin tas. Ketika mengendarai motor, ia pernah diikuti orang sampai Pasar Sumberrejo. ’’Sampai pasar saya berhenti. Mereka juga berhenti. Kan takut ya diikuti orang. Saya tanya ternyata mereka suami istri dari Kecamatan Kedungadem. Istrinya berminat dengan tas yang saya pakai. Transaksi saat itu juga. Isi tas saya simpan di jok motor,’’ ucapnya dengan senyum.

TANGAN Eny Fuji Lestari sampai kapalan. Setiap hari jari-jemarinya menganyam tali hingga berbentuk tas. Ternyata, karyanya diminati hingga Tiongkok dan Singapura.

Jari-jemarinya lihai saat mengaitkan tali satu dengan yang lain. Berbagai macam warna tali kur berserakan di sekelilingnya. Semua tali sudah dirangkai menjadi sebuah tas. Hanya, belum selesai seluruhnya.

Eny Fuji Lestari, sosok perempuan yang merangkai tali kur menjadi tas. Terlihat bentuk tas bagian atas sudah berpola. Bagian tengah masih berupa untaian tali. Di ruang tamu rumah sederhana di Gang Langgar Jalan Brigjen Sutoyo itu terlihat etalase kaca. Di dalamnya terdapat berbagai motif tas.

Eny Fuji Lestari bukanlah orang asli Bojonegoro. Tetapi, dari Surabaya. Hanya, saat ini ikut suami yang bekerja di daerah Bojonegoro. Meski begitu, E’en, sapaan akrabnya, berusaha memperkuat kerajinan tangannya. Ia berusaha mencari ibu-ibu  tetangganya yang berminat belajar membuat tas berbahan tali kur.

’’Rata-rata orang yang ingin belajar justru tinggalnya lebih jauh. Sementara, di sekitar sini tidak banyak yang minat. Begitu melihat tas berbagai motif langsung minder. Katanya sulit,’’ ucapnya sambil tertawa.

Baca Juga :  UNBK Paket C Dimulai Hari Ini

Padahal, perempuan yang memiliki dua putra itu juga mengajak belajar gratis via online. Karena terkadang tidak tega meminta bayaran pada para ibu yang alasannya ingin menambah pemasukan suami. Perempuan berdomisili di Desa Sukorejo ini mengatakan, penjualan tas karyanya hingga luar negeri. Bahkan, masih rutin mengirim tas ke Tiongkok dan Singapura.

Sambil menganyam tali kur merah dan krem, E’en mengatakan, pemesan dari Tiongkok dan Singapura biasanya hanya memesan satu tas saja. Dipakai untuk pribadi. ’’Kali pertama dapat pesanan dari luar negeri itu dari Jerman. Saya minta testimoni. Lalu di Jeddah, Arab juga pernah. Itu orang Madura yang berjualan di sana (Jeddah). Sekali kirim satu lusin,’’ jelas perempuan 41 tahun itu.

Mengobrol bersama E’en menyenangkan. Suaranya renyah. Kadang tertawa jika berbicara mengenai hobinya membuat tas. Perempuan berjilbab ini menunjukkan jari-jemarinya yang kapalan akibat membuat tas dari tali. Menarik tali dengan kuat agar tidak ada rongga pada aplikasi motif. Bahkan, ia juga menggunakan kakinya agar tali terikat kuat.

Baca Juga :  Pemohon Kartu Kuning Sepi, Belum Kantongi Data Pengangguran

’’Katanya orang tua dulu suka perempuan yang tangannya kasar. Tandanya rajin kerja,’’ ujar alumnus Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sidoarjo.

Sambil menyuguhkan minuman, ia bercerita tidak pernah berpikir hobinya menghasilkan uang. Hanya modal memakai tas buatannya ke luar rumah atau acara kumpul bersama teman, ternyata membuat orang yang melihatnya tertarik.

Dalam sehari, ia bisa membuat empat tas berukuran kecil dengan berbagai motif. Perempuan penyuka warna merah ini mengatakan, merasa tertantang jika mendapat motif sulit.

E’en memiliki kisah seru sebagai perajin tas. Ketika mengendarai motor, ia pernah diikuti orang sampai Pasar Sumberrejo. ’’Sampai pasar saya berhenti. Mereka juga berhenti. Kan takut ya diikuti orang. Saya tanya ternyata mereka suami istri dari Kecamatan Kedungadem. Istrinya berminat dengan tas yang saya pakai. Transaksi saat itu juga. Isi tas saya simpan di jok motor,’’ ucapnya dengan senyum.

Artikel Terkait

Most Read

Hindari Truk, Tewas Ditabrak Truk

UMKM Masih Terkendala Pemasaran

Pengeboran Sumur Gas JTB Tahap Vital

Artikel Terbaru


/