alexametrics
26.6 C
Bojonegoro
Wednesday, May 25, 2022

Duh, Anak Merokok Kian Banyak

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Kepulan asap mengebul dari mulut seorang anak berusia 13 tahun itu. Berada di warung di Kecamatan Kedungadem, siswa tersebut merokok sambil bermain gadget, kemarin (23/7) siang. Beberapa batang rokok tergeletak di hadapannya.

M. Ramadhan, salah satu penjaga warung mengatakan, anak 13 tahun tersebut kerap nongkrong di tempatnya. Bermain game online sambil merokok. Padahal, warungnya tak menjual rokok sebatang pun.

’’Saya lihat biasanya selama di warung habis sekitar 3 sampai 4 batang rokok. Nongkrong-nya 2 sampai 3 jam sehari,” katanya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro.

Menurut dia, banyak juga anak mengonsumsi rokok elektrik (vape). Dia kurang bisa memastikan vape itu milik siapa, tapi kemungkinan besar milik pribadi anak tersebut. Sebab, teman sekelompoknya tak ada yang memiliki.

Potret anak merokok menjadi problem sosial di tengah perayaan Hari Anak Nasional (HAN) yang dirayakan kemarin. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) dikeluarkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), terkait prevalensi merokok pada populasi usia 10-18 tahun trennya naik.

Baca Juga :  Pemkab Bojonegoro Raih Penghargaan Bidang Akuntabilitas Kinerja

Riskesdas 2013 populasi usia 10-18 tahun yang merokok 7,2 persen. Riskesdas 2016 jumlahnya naik menjadi 8,8 persen. Dan, angkanya naik menjadi 9,1 persen pada Riskesdas 2018.

Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018 dalam Publikasi Statistik Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Bojonegoro, rerata pengeluaran rokok dan tembakau per kapita sebulan sebesar Rp 26.000. Angka itu pada kelompok pengeluaran 40 persen terbawah.

Sementara kelompok pengeluaran 40 persen tengah sebesar Rp 63.000. Sedangkan, kelompok pengeluaran 20 persen teratas jauh lebih tinggi sebesar Rp 87.000.

Staf Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A) Bojonegoro Indriyanti Agustina Putri sangat prihatin melihat anak-anak sudah memiliki kebiasaan merokok. Namun, tegasnya, bukan hanya anak-anak yang perlu dibina. Justru orang tua sebagai pelaku utama perokok aktif perlu ditindaklanjuti.

’’Jangankan anak-anak, orang tua yang merokok saja menurut saya tidak pantas,’’ ucapnya.

Baca Juga :  Kapok! Temukan Konten Vulgar di Ponsel PelajarĀ 

Dia mengatakan, bentuk pencegahan agar anak-anak tidak merokok berasal dari orang-orang terdekat. Jika lingkungan dan media yang dilihat anak-anak selalu seputar rokok, tentunya menjadi pemicu anak-anak tergiur mencoba.

’’Sebenarnya pemerintah sudah membuat kebijakan terkait pembelian rokok untuk pencegahan. Di kemasan sudah ada gambar-gambar menyeramkan seharusnya fungsinya mengedukasi orang-orang terkait rokok,’’ ujarnya.

Kepala Seksi (Kasi) Sosial Badan Pusat Statistik (BPS) Bojonegoro Abu Amar mengatakan, tidak ada data khusus mengenai prevalensi usia perokok. Sementara, susenas hanya melakukan pendataan berdasarkan tingkat konsumsi rokok per keluarga pada statistik kesejahteraan rakyat. Tergolong pada konsumsi dan pengeluaran.

Sementara hasil Susenas 2019 diperkirakan dirilis September mendatang. Hanya menampilkan konsumsi rokok pada komposisi rata-rata pengeluaran per kapita sebulan berdasar kelompok komoditas. Juga, kelompok pengeluaran dalam rupiah. Sementara ini rilis tingkat provinsi.

’’Konsumsi rokok termasuk dalam kelompok pengeluaran per keluarga. Artinya dari persentase usia tidak ditampilkan,’’ terangnya.

BOJONEGORO, Radar Bojonegoro – Kepulan asap mengebul dari mulut seorang anak berusia 13 tahun itu. Berada di warung di Kecamatan Kedungadem, siswa tersebut merokok sambil bermain gadget, kemarin (23/7) siang. Beberapa batang rokok tergeletak di hadapannya.

M. Ramadhan, salah satu penjaga warung mengatakan, anak 13 tahun tersebut kerap nongkrong di tempatnya. Bermain game online sambil merokok. Padahal, warungnya tak menjual rokok sebatang pun.

’’Saya lihat biasanya selama di warung habis sekitar 3 sampai 4 batang rokok. Nongkrong-nya 2 sampai 3 jam sehari,” katanya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro.

Menurut dia, banyak juga anak mengonsumsi rokok elektrik (vape). Dia kurang bisa memastikan vape itu milik siapa, tapi kemungkinan besar milik pribadi anak tersebut. Sebab, teman sekelompoknya tak ada yang memiliki.

Potret anak merokok menjadi problem sosial di tengah perayaan Hari Anak Nasional (HAN) yang dirayakan kemarin. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) dikeluarkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), terkait prevalensi merokok pada populasi usia 10-18 tahun trennya naik.

Baca Juga :  Nilai USBN SD/MI Turun

Riskesdas 2013 populasi usia 10-18 tahun yang merokok 7,2 persen. Riskesdas 2016 jumlahnya naik menjadi 8,8 persen. Dan, angkanya naik menjadi 9,1 persen pada Riskesdas 2018.

Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2018 dalam Publikasi Statistik Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Bojonegoro, rerata pengeluaran rokok dan tembakau per kapita sebulan sebesar Rp 26.000. Angka itu pada kelompok pengeluaran 40 persen terbawah.

Sementara kelompok pengeluaran 40 persen tengah sebesar Rp 63.000. Sedangkan, kelompok pengeluaran 20 persen teratas jauh lebih tinggi sebesar Rp 87.000.

Staf Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A) Bojonegoro Indriyanti Agustina Putri sangat prihatin melihat anak-anak sudah memiliki kebiasaan merokok. Namun, tegasnya, bukan hanya anak-anak yang perlu dibina. Justru orang tua sebagai pelaku utama perokok aktif perlu ditindaklanjuti.

’’Jangankan anak-anak, orang tua yang merokok saja menurut saya tidak pantas,’’ ucapnya.

Baca Juga :  Listrik Padam, Air PDAM Macet Lima Jam

Dia mengatakan, bentuk pencegahan agar anak-anak tidak merokok berasal dari orang-orang terdekat. Jika lingkungan dan media yang dilihat anak-anak selalu seputar rokok, tentunya menjadi pemicu anak-anak tergiur mencoba.

’’Sebenarnya pemerintah sudah membuat kebijakan terkait pembelian rokok untuk pencegahan. Di kemasan sudah ada gambar-gambar menyeramkan seharusnya fungsinya mengedukasi orang-orang terkait rokok,’’ ujarnya.

Kepala Seksi (Kasi) Sosial Badan Pusat Statistik (BPS) Bojonegoro Abu Amar mengatakan, tidak ada data khusus mengenai prevalensi usia perokok. Sementara, susenas hanya melakukan pendataan berdasarkan tingkat konsumsi rokok per keluarga pada statistik kesejahteraan rakyat. Tergolong pada konsumsi dan pengeluaran.

Sementara hasil Susenas 2019 diperkirakan dirilis September mendatang. Hanya menampilkan konsumsi rokok pada komposisi rata-rata pengeluaran per kapita sebulan berdasar kelompok komoditas. Juga, kelompok pengeluaran dalam rupiah. Sementara ini rilis tingkat provinsi.

’’Konsumsi rokok termasuk dalam kelompok pengeluaran per keluarga. Artinya dari persentase usia tidak ditampilkan,’’ terangnya.

Artikel Terkait

Most Read

Hindari Motor, Truk PMK Terguling

Artikel Terbaru


/