alexametrics
25.3 C
Bojonegoro
Sunday, May 22, 2022

Di Luar Permainan Tradisional, di Rumah Bahasa Kromo

ANAK-ANAK mulai meninggalkan permainan tradisional. Lebih memilih bermain HP. Pemuda Desa Ketuwan pun menghidupkan anak-anak bermaian tradisional dan taman belajar.

Suasana panas di Desa Ketuwan, Kecamatan Kedungtuban, seakan-akan luntur. Anak-anak bermain gobak sodor dengan riang. Guyub dan penuh keceriaan. Tak ada yang bermain handphone (HP).

Tak jauh dari balai desa setempat, bertemu dengan pemuda berjengot tipis. Dialah Achmad Fathoni. Relawan yang membangkitkan permainan tradisional di desa setempat. Sasarannya anak-anak. Juga, mengajak anak mengedepankan bahasa Jawa kromo yang santun.

Toni, sapaannya menceritakan, kegiatan bermain di Desa Ketuwan dihidupkan sejak Ramadan lalu. Ketika itu para pemuda desa setempat berkumpul dan berpikir membentuk tempat belajar sekaligus permainan tradisional.

Baca Juga :  Kompetitor Seleksi Sekda

Karena, selama ini, menurut Toni, anak-anak di desanya jarang ada yang berkumpul dengan guyub. Justru, anak-anak kecil itu diketahui asyik bermain HP. Baik di rumah maupaun di lingkungan sekitar. ”Jadinya meraka individualis,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro.

”Dari pemerintah desa juga mendukung adanya kegiatan ini,” ungkap dia.

Menurut dia, kegiatan ini mengajak anak-anak SD belajar bersama dan memperkenalkan permainan tradisional. Seperti gobak sodor, bentik, kasti, dan permainan lainnya. Padahal, permainan tradisional ini syarat akan makna. Mengajak anak berkelompok.

”Di sini kami ingin menghidupkan permainan tradisional,” imbuhnya.

Selain itu, pemuda Desa Ketuwan melalui taman belajar juga mengajarkan anak-anak memakai bahasa kromo atau bahasa halus dalam bahasa Jawa. Belajarnya bertahap. Anak-anak harus mengaplikasikan menggunakan bahasa kromo di rumah dengan menjawab panggilan dengan kata “dalem” (apa), “injih” (iya).

Baca Juga :  Permintaan Tongkat Komando, Menembus Kalimantan

”Seminggu itu anak-anak tidak boleh memakai kata iyo atau opo,” imbuhnya.

Untuk lebih memudahkan anak-anak, lanjut dia, pihaknya mengenalkan menggunakan nyanyian Jawa. Dengan lirik bahasa Indonesia dengan diartikan bahasa Jawa. Itu sangat ampuh untuk anak-anak.

Anak-anak desa setempat juga diajarkan bahasa Inggris dan matematika. ”Memang fokus kita tentang pelajaran bahasa Inggris dan matematika,” imbuhnya.

Agar mengasyikkan, belajar bahasa Inggris dan matematika ini, anak-anak diajak permainan tradisional.

ANAK-ANAK mulai meninggalkan permainan tradisional. Lebih memilih bermain HP. Pemuda Desa Ketuwan pun menghidupkan anak-anak bermaian tradisional dan taman belajar.

Suasana panas di Desa Ketuwan, Kecamatan Kedungtuban, seakan-akan luntur. Anak-anak bermain gobak sodor dengan riang. Guyub dan penuh keceriaan. Tak ada yang bermain handphone (HP).

Tak jauh dari balai desa setempat, bertemu dengan pemuda berjengot tipis. Dialah Achmad Fathoni. Relawan yang membangkitkan permainan tradisional di desa setempat. Sasarannya anak-anak. Juga, mengajak anak mengedepankan bahasa Jawa kromo yang santun.

Toni, sapaannya menceritakan, kegiatan bermain di Desa Ketuwan dihidupkan sejak Ramadan lalu. Ketika itu para pemuda desa setempat berkumpul dan berpikir membentuk tempat belajar sekaligus permainan tradisional.

Baca Juga :  Permintaan Tongkat Komando, Menembus Kalimantan

Karena, selama ini, menurut Toni, anak-anak di desanya jarang ada yang berkumpul dengan guyub. Justru, anak-anak kecil itu diketahui asyik bermain HP. Baik di rumah maupaun di lingkungan sekitar. ”Jadinya meraka individualis,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro.

”Dari pemerintah desa juga mendukung adanya kegiatan ini,” ungkap dia.

Menurut dia, kegiatan ini mengajak anak-anak SD belajar bersama dan memperkenalkan permainan tradisional. Seperti gobak sodor, bentik, kasti, dan permainan lainnya. Padahal, permainan tradisional ini syarat akan makna. Mengajak anak berkelompok.

”Di sini kami ingin menghidupkan permainan tradisional,” imbuhnya.

Selain itu, pemuda Desa Ketuwan melalui taman belajar juga mengajarkan anak-anak memakai bahasa kromo atau bahasa halus dalam bahasa Jawa. Belajarnya bertahap. Anak-anak harus mengaplikasikan menggunakan bahasa kromo di rumah dengan menjawab panggilan dengan kata “dalem” (apa), “injih” (iya).

Baca Juga :  Demokrat Belum Lengkap, SK PKB Segera Turun

”Seminggu itu anak-anak tidak boleh memakai kata iyo atau opo,” imbuhnya.

Untuk lebih memudahkan anak-anak, lanjut dia, pihaknya mengenalkan menggunakan nyanyian Jawa. Dengan lirik bahasa Indonesia dengan diartikan bahasa Jawa. Itu sangat ampuh untuk anak-anak.

Anak-anak desa setempat juga diajarkan bahasa Inggris dan matematika. ”Memang fokus kita tentang pelajaran bahasa Inggris dan matematika,” imbuhnya.

Agar mengasyikkan, belajar bahasa Inggris dan matematika ini, anak-anak diajak permainan tradisional.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

Dari Dangdut ke Salawat

Mampu Berbuah Lebih Cepat

Anak Desa Harus Semangat Kuliah


/