alexametrics
26 C
Bojonegoro
Saturday, May 21, 2022

Biru Milik Langit

“MAS Langit  dari mana? Ada yang menunggu selama dua jam.”

Aku baru saja masuk kamar senja ini. Ibu Farida, ibu kosku segera menyongsong dengan tergopoh. Aku merasakan ada hal penting. Aku mencoba tersenyum tawar. Siapa mau menunggu selama itu untuk sekadar bertemu? “Siapa, Bu, Bagaimana cirinya?” Aku coba mendamaikan hatiku mulai dipenuhi praduga tentang sosok itu. 

“Maaf, Mas Langit, gadis cantik itu merahasiakan nama dan keperluannya. Ia Hanya mengatakan mau mencarimu dengan raut sedih, menunggumu lama. Ibu melihat sesekali gadis itu mengusap air matanya dengan ujung jilbab.”

Aku menelan ludah mendengar penjelasan Bu Farida. Gadis cantik sekira 21 tahun, berjilbab, tinggi, kusus, berwajah cantik, dan ramah. Kepalaku makin pening.  Ada urusan apa gadis pembawa sial itu berusaha menemuiku setelah ribuan purnama.

“Ibu tinggalkan nomor kontak Mas Langit. Maafkan Ibu lancang memberikannya. Dia ingin sekali bertemu denganmu,” tambah Bu Farida. 

Bah, akting apalagi yang akan dilakukannya kali ini. Apa belum cukup dengan segala dilakukannya padaku, pada ibuku, pada kelaurgaku? Apa masih kurang prahara ini?  Aku mohon izin kepada Ibu Farida untuk masuk ke kamar, merajam rasa lelah perjalanan dari luar kota. Kali ini, malah beban bertambah hadirnya gadis itu. Apa harus aku lakukan? Perang ini akan selamanya berkibar. Mustahil merdeka jika menyangkut gadis itu.   

Aku membolak-balikan badanku di atas kasur berselimut beludru hijau muda. Inginku dapatkan ketenangan melihat langit-langit kos berpendar lampu temaram. Di sana ada bias lengkung sinar biru muda. Aku segera menepis dengan bantal. Gelap. Sunyi. Namun, ada sesuatu kosong, bergejolak membubung ke pelipis kepalaku. Berdenyut semakin kencang.

Aku harus berani melupakan semua ini. Aku harus bangkit. Aku mampu bertahan dengan segala telah kuperjuangkan. Persetan gadis itu dan keluarganya. Aku adalah aku yang hidup dari sampah mereka tinggalkan. 

Lelap. Aku nanar menatap layar telepon genggamku. Terpampang nomor baru yang asing di sana. Aku yakin ini telepon dari gadis itu. Sejenak, aku mengacuhkannya. Panggilan sampai 9 kali tanpa ingin kujawab. Biarkan dia berpikir jika aku enggan diganggu oleh keluarganya lagi. 

Aku lega, dering itu sirna. Lalu mengambil minum air putih di sudut kamar. Baru seteguk saja, terdengar notifikasi pesan di WhatsApp muncul. Belum jera juga dia, pikirku.

Aku sempat melihat isi pesan itu tanpa kubuka. Ayah kritis, ibu belum sadar sejak tiga hari lalu. Aku kaget. Sedetik aku oleng, limbung dalam duduk. Kakiku gemetar, tak mampu menahan berat badanku yang kata orang, atletis ini. 

Pikiranku semakin berkelindan membuka segala kenangan buruk itu. Biarkan saja. Aku sudah tidak ada hubungan lagi dengan mereka. Tapi, membayangkan dia seorang diri mendampingi ayah dan ibunya? Tegakah aku sebagai seorang lelaki menuju dewasa? Yang berjuang sendiri dari keterpurukan, terlunta-lunta tanpa seperpun harta. 

Tidak. Biarkan saja dia merasakan apa pernah kurasakan. Ya Rabb… bagaimana ini berujung? Simpul kukaitkan begitu kuat. Aku kunci rapat sampai menjerat. Tapi, mengapa kali ini dengan mudahnya waktu melipat, segala khilaf sengaja dulu mereka buat. Apa yang harus aku lakukan?

Baca Juga :  Mendekati Seleksi Calon Perangkat Desa, Pemkab Janji Tuntaskan Perbup

Jujur saja aku perang dengan hatiku. Aku malu pada janji dan sumpah serapahku dulu untuk melupakan mereka. Menganggap mereka telah tiada. Aku tinggal di luar kota, jauh dari semua, tertatih dan terlunta. Ibu? Apa yang harus aku lakukan tanpamu? 

Aku berhasil menguasai diriku sendiri. Aku mencoba tetap tegar, mendoakan mereka agar diberikan terbaik. Aku masih dengan prinsipku membiarkan saja.  Aku tidak akan pernah memaafkan mereka. 

Esoknya, Kamis malam Jumat, aku santai di beranda kos berbincang dengan teman-teman penghuni kos. Doni bermain gitar menyanyikan lagu Titip Rindu buat Ayah milik Ebiet G. Ade. Entah kenapa. Kesiur angin membelaiku. Meremangkan rambut halus di tengkukku sampai lengan. Mengalir menuju jantungku. Berdetak. Lebih kencang. Aku mengingat ayah. Aku lempar Doni dengan makanan ringan. Ia melihat apa terjadi padaku barusan. Ia malah semakin semangat memetik sinar gitarnya. 

“Cukup, Don! Lagu sore-sore ngene kok meloow, cengeng koe,” kataku mengalihkan suasana hati ditemani rinai hujan Desember hampir tiap hari membasahi kota kecilku, Bojonegoro. 

“Justru karena hujan sore inilah, aku teringat ayah telah lama berpulang. Aku kangen beliau. Aku sebagai anak, belum banyak berkorban.”

Deg. Sihir macam apa kata-kata Doni tadi menampar kesadaranku. Doni begitu merindui ayahnya sudah lama tiada. Sementara aku?

“Sudahlah, Don! Ayo kita makan besar. Biar aku yang traktir,”

“Beneran, seorang Langit mengajak makan besar? Kamu mau lamaran dengan gadis tempo hari ke sini?” tanya Doni tanpa merasa bersalah.

Aku menjitak kepala Doni dengan novel yang kubaca. Tapi, belum sampai kami masuk kamar berganti baju, sebuah suara lembut tertahan mengucap salam.

“Assalamu’alaikum, Mas Langit?”

Aku dan Doni segera menoleh ke sumber suara. Aku jawab salam itu baru sepotong. Lidahku kelu dalam diam. Aku seakan tidak percaya siapa berdiri di bawah payung biru muda itu. 

“Maafkan saya, Mas Langit,” suaranya parau ketakutan. Ia hanya mampu menunduk tanpa berani menatap mataku, sama seperti beberapa tahun silam. 

Aku berdiri mematung. Gadis itu kedinginan, terlihat mengapitkan kedua telapak tangannya di depan dada. Doni malah peka melihat keadaannya.

“Ayo, silakan masuk! Di luar hujan. Nanti Mbak kedinginan,”

Hening. Hanya desau angin menerbangkan tempias ke muka kami berdiri di teras kos. Akhirnya aku kasihan, mempersilakannya masuk  dengan wajah datar.

“Jangan pernah temui aku lagi. Aku sudah menghapus memori tentang kalian.”

  “Aku tidak akan meminta apapun dari Mas Langit. Aku sudah tahu jawabannya sejak dulu. Ini permintaan ayah. Beliau ingin bertemu Mas langsung. Moga belum terlambat. Sebelum Mas menyesal.”

“Aku tidak akan menggangu Mas lagi. Maafkan kami!”

Dia  begitu lancar  menguapkan kalimat-kalimat dari bibir merahnya yang tipis itu. Aku tak sengaja melihat sinar ketegasan, kepasrahan dalam sorot  matanya. Aku tidak menyangka gadis seperti dia dulu penyakitan bisa bijaksana memahami hidup. Ah, sudahlah, malah aku mengaguminya. Aku lupa dia adalah musuh terbesarku, aku wajib ingat hal itu.

Baca Juga :  Eks Kabag Pemerintahan Bayar Denda Rp 100 Juta

Dia pamit dengan memberikan alamat sebuah rumah sakit di Kota Blora. Sekira menempuh perjalanan dari Bojoneoro dua jam. Aku hanya mengintip lewat sudut mataku. 

Doni mengantarnya keluar. Aku lupa memanggil namanya. Entah siapa. Sepeninggal dia, aku lebih banyak diam. Doni membatalkan makan malam. Malah dia menyarankan menemaniku ke Blora, menemui ayah dan ibu gadis itu. 

  Aku ingat semuanya ketika sepulang sekolah. Ibuku menangis karena meminta cerai. Ayahku ingin menikahi janda memiliki anak gadis sakit sakitan. Ibu tidak bisa menerima pejelasan ayah. Aku masih SMP ikut ibu meninggalkan rumah. Meninggalkan Surabaya menuju Bojonegoro, rumah nenekku. Semenara ayahku hidup bersama istri barunya. 

Suasana rumah sakit sendu. Aku canggung melagkahkan kaki menuju kamar pasien tertera di kertas kecil itu. Doni menepuk pundakku memberikan semangat dan dukungan. Aku melihat gadis itu terisak keluar dari ruangan. Dia tidak melihat kehadiranku.

Lalu aku masuk ruangan setelah memperkenalkan diriku kepada perawat. Ada sebuah senyum menguatkan dari tatapan mereka. Aku mendekati sesosok tubuh terbaring lemah menutup matanya. Aku genggang tangan kanannya.

Kelopak matanya terbuka. Beliau tersenyum melihat hadirku. Di samping ranjangnya, ada ibu-ibu masih aku ingat dengan jelas dulu.

“Kami menunggumu sangat lama, Nak! Kemarilah”

  Aku semakin mendekat dan membelai kepalanya, aku rindu ayahku. 

  “Ayah, maafkan Langit yang tidak berbakti,”

Tiba-tiba genggaman ayah melemah. 

“Maafkan Ayahmu, Langit. Biar Nara yang menceritakan semuanya. Jaga adikmu ya? kami titipkan dia padamu?” suara wanita di ranjang samping ayah.

Ayah menutup matanya dengan senyum. Sementara tubuh wanita  di ranjang sebelah ayah juga memberikan reaksi mengejutkan sepeninggal ayah.  Gadis itu entah sudah sejak kapan ada di belakangku. 

“Ayah? Ibu? Jangan tinggalkan Nara?”

Aku menoleh ke suara, aku merengkuhnya. Dia meronta. Aku berhasil menenangkannya. Aku berjanji akan menjaganya. 

Pagi ini, Jumat adalah hari pilu berlukiskan langit berwarna biru. Aku mengantar jenazah dua orang sekaligus. Mengantar jenazah ayah dimakamkan bersama istri keduanya, yaitu ibu tiriku, ibunya Nara.  

  Nara memberikan semua dokumen dan surat ditulis oleh ayahku. Warisan dan hakku utuh dari dulu. Nara dan ibunya tidak menyentuhnya. Misteri pernikahan kedua ayah terkuak.  Demi sebuah janji ayah kepada ayahnya Nara. Siapa meninggal lebih dulu harus menikahi istrinya. Ternyata ayahnya Nara lebih dulu meninggal ketika mengunjungi perusahaan mebelnya. Jadi ayah memikul tanggung jawab janjinya. 

Aku pandangi langit pagi itu cerah. Biru bersih. Biru milik Langit. Langit yang sangat pemaaf, menaungi semua kehidupan di dunia.  

“Ayo, kita pulang, Dik Nara!”

*) Penulis merupakan Guru MI Al Ulum Guyangan, Trucuk, Bojonegoro

“MAS Langit  dari mana? Ada yang menunggu selama dua jam.”

Aku baru saja masuk kamar senja ini. Ibu Farida, ibu kosku segera menyongsong dengan tergopoh. Aku merasakan ada hal penting. Aku mencoba tersenyum tawar. Siapa mau menunggu selama itu untuk sekadar bertemu? “Siapa, Bu, Bagaimana cirinya?” Aku coba mendamaikan hatiku mulai dipenuhi praduga tentang sosok itu. 

“Maaf, Mas Langit, gadis cantik itu merahasiakan nama dan keperluannya. Ia Hanya mengatakan mau mencarimu dengan raut sedih, menunggumu lama. Ibu melihat sesekali gadis itu mengusap air matanya dengan ujung jilbab.”

Aku menelan ludah mendengar penjelasan Bu Farida. Gadis cantik sekira 21 tahun, berjilbab, tinggi, kusus, berwajah cantik, dan ramah. Kepalaku makin pening.  Ada urusan apa gadis pembawa sial itu berusaha menemuiku setelah ribuan purnama.

“Ibu tinggalkan nomor kontak Mas Langit. Maafkan Ibu lancang memberikannya. Dia ingin sekali bertemu denganmu,” tambah Bu Farida. 

Bah, akting apalagi yang akan dilakukannya kali ini. Apa belum cukup dengan segala dilakukannya padaku, pada ibuku, pada kelaurgaku? Apa masih kurang prahara ini?  Aku mohon izin kepada Ibu Farida untuk masuk ke kamar, merajam rasa lelah perjalanan dari luar kota. Kali ini, malah beban bertambah hadirnya gadis itu. Apa harus aku lakukan? Perang ini akan selamanya berkibar. Mustahil merdeka jika menyangkut gadis itu.   

Aku membolak-balikan badanku di atas kasur berselimut beludru hijau muda. Inginku dapatkan ketenangan melihat langit-langit kos berpendar lampu temaram. Di sana ada bias lengkung sinar biru muda. Aku segera menepis dengan bantal. Gelap. Sunyi. Namun, ada sesuatu kosong, bergejolak membubung ke pelipis kepalaku. Berdenyut semakin kencang.

Aku harus berani melupakan semua ini. Aku harus bangkit. Aku mampu bertahan dengan segala telah kuperjuangkan. Persetan gadis itu dan keluarganya. Aku adalah aku yang hidup dari sampah mereka tinggalkan. 

Lelap. Aku nanar menatap layar telepon genggamku. Terpampang nomor baru yang asing di sana. Aku yakin ini telepon dari gadis itu. Sejenak, aku mengacuhkannya. Panggilan sampai 9 kali tanpa ingin kujawab. Biarkan dia berpikir jika aku enggan diganggu oleh keluarganya lagi. 

Aku lega, dering itu sirna. Lalu mengambil minum air putih di sudut kamar. Baru seteguk saja, terdengar notifikasi pesan di WhatsApp muncul. Belum jera juga dia, pikirku.

Aku sempat melihat isi pesan itu tanpa kubuka. Ayah kritis, ibu belum sadar sejak tiga hari lalu. Aku kaget. Sedetik aku oleng, limbung dalam duduk. Kakiku gemetar, tak mampu menahan berat badanku yang kata orang, atletis ini. 

Pikiranku semakin berkelindan membuka segala kenangan buruk itu. Biarkan saja. Aku sudah tidak ada hubungan lagi dengan mereka. Tapi, membayangkan dia seorang diri mendampingi ayah dan ibunya? Tegakah aku sebagai seorang lelaki menuju dewasa? Yang berjuang sendiri dari keterpurukan, terlunta-lunta tanpa seperpun harta. 

Tidak. Biarkan saja dia merasakan apa pernah kurasakan. Ya Rabb… bagaimana ini berujung? Simpul kukaitkan begitu kuat. Aku kunci rapat sampai menjerat. Tapi, mengapa kali ini dengan mudahnya waktu melipat, segala khilaf sengaja dulu mereka buat. Apa yang harus aku lakukan?

Baca Juga :  Kedelai Mahal, Harga Impor Tembus Rp 10 Ribu

Jujur saja aku perang dengan hatiku. Aku malu pada janji dan sumpah serapahku dulu untuk melupakan mereka. Menganggap mereka telah tiada. Aku tinggal di luar kota, jauh dari semua, tertatih dan terlunta. Ibu? Apa yang harus aku lakukan tanpamu? 

Aku berhasil menguasai diriku sendiri. Aku mencoba tetap tegar, mendoakan mereka agar diberikan terbaik. Aku masih dengan prinsipku membiarkan saja.  Aku tidak akan pernah memaafkan mereka. 

Esoknya, Kamis malam Jumat, aku santai di beranda kos berbincang dengan teman-teman penghuni kos. Doni bermain gitar menyanyikan lagu Titip Rindu buat Ayah milik Ebiet G. Ade. Entah kenapa. Kesiur angin membelaiku. Meremangkan rambut halus di tengkukku sampai lengan. Mengalir menuju jantungku. Berdetak. Lebih kencang. Aku mengingat ayah. Aku lempar Doni dengan makanan ringan. Ia melihat apa terjadi padaku barusan. Ia malah semakin semangat memetik sinar gitarnya. 

“Cukup, Don! Lagu sore-sore ngene kok meloow, cengeng koe,” kataku mengalihkan suasana hati ditemani rinai hujan Desember hampir tiap hari membasahi kota kecilku, Bojonegoro. 

“Justru karena hujan sore inilah, aku teringat ayah telah lama berpulang. Aku kangen beliau. Aku sebagai anak, belum banyak berkorban.”

Deg. Sihir macam apa kata-kata Doni tadi menampar kesadaranku. Doni begitu merindui ayahnya sudah lama tiada. Sementara aku?

“Sudahlah, Don! Ayo kita makan besar. Biar aku yang traktir,”

“Beneran, seorang Langit mengajak makan besar? Kamu mau lamaran dengan gadis tempo hari ke sini?” tanya Doni tanpa merasa bersalah.

Aku menjitak kepala Doni dengan novel yang kubaca. Tapi, belum sampai kami masuk kamar berganti baju, sebuah suara lembut tertahan mengucap salam.

“Assalamu’alaikum, Mas Langit?”

Aku dan Doni segera menoleh ke sumber suara. Aku jawab salam itu baru sepotong. Lidahku kelu dalam diam. Aku seakan tidak percaya siapa berdiri di bawah payung biru muda itu. 

“Maafkan saya, Mas Langit,” suaranya parau ketakutan. Ia hanya mampu menunduk tanpa berani menatap mataku, sama seperti beberapa tahun silam. 

Aku berdiri mematung. Gadis itu kedinginan, terlihat mengapitkan kedua telapak tangannya di depan dada. Doni malah peka melihat keadaannya.

“Ayo, silakan masuk! Di luar hujan. Nanti Mbak kedinginan,”

Hening. Hanya desau angin menerbangkan tempias ke muka kami berdiri di teras kos. Akhirnya aku kasihan, mempersilakannya masuk  dengan wajah datar.

“Jangan pernah temui aku lagi. Aku sudah menghapus memori tentang kalian.”

  “Aku tidak akan meminta apapun dari Mas Langit. Aku sudah tahu jawabannya sejak dulu. Ini permintaan ayah. Beliau ingin bertemu Mas langsung. Moga belum terlambat. Sebelum Mas menyesal.”

“Aku tidak akan menggangu Mas lagi. Maafkan kami!”

Dia  begitu lancar  menguapkan kalimat-kalimat dari bibir merahnya yang tipis itu. Aku tak sengaja melihat sinar ketegasan, kepasrahan dalam sorot  matanya. Aku tidak menyangka gadis seperti dia dulu penyakitan bisa bijaksana memahami hidup. Ah, sudahlah, malah aku mengaguminya. Aku lupa dia adalah musuh terbesarku, aku wajib ingat hal itu.

Baca Juga :  Langkah Hanafi Terhenti?

Dia pamit dengan memberikan alamat sebuah rumah sakit di Kota Blora. Sekira menempuh perjalanan dari Bojoneoro dua jam. Aku hanya mengintip lewat sudut mataku. 

Doni mengantarnya keluar. Aku lupa memanggil namanya. Entah siapa. Sepeninggal dia, aku lebih banyak diam. Doni membatalkan makan malam. Malah dia menyarankan menemaniku ke Blora, menemui ayah dan ibu gadis itu. 

  Aku ingat semuanya ketika sepulang sekolah. Ibuku menangis karena meminta cerai. Ayahku ingin menikahi janda memiliki anak gadis sakit sakitan. Ibu tidak bisa menerima pejelasan ayah. Aku masih SMP ikut ibu meninggalkan rumah. Meninggalkan Surabaya menuju Bojonegoro, rumah nenekku. Semenara ayahku hidup bersama istri barunya. 

Suasana rumah sakit sendu. Aku canggung melagkahkan kaki menuju kamar pasien tertera di kertas kecil itu. Doni menepuk pundakku memberikan semangat dan dukungan. Aku melihat gadis itu terisak keluar dari ruangan. Dia tidak melihat kehadiranku.

Lalu aku masuk ruangan setelah memperkenalkan diriku kepada perawat. Ada sebuah senyum menguatkan dari tatapan mereka. Aku mendekati sesosok tubuh terbaring lemah menutup matanya. Aku genggang tangan kanannya.

Kelopak matanya terbuka. Beliau tersenyum melihat hadirku. Di samping ranjangnya, ada ibu-ibu masih aku ingat dengan jelas dulu.

“Kami menunggumu sangat lama, Nak! Kemarilah”

  Aku semakin mendekat dan membelai kepalanya, aku rindu ayahku. 

  “Ayah, maafkan Langit yang tidak berbakti,”

Tiba-tiba genggaman ayah melemah. 

“Maafkan Ayahmu, Langit. Biar Nara yang menceritakan semuanya. Jaga adikmu ya? kami titipkan dia padamu?” suara wanita di ranjang samping ayah.

Ayah menutup matanya dengan senyum. Sementara tubuh wanita  di ranjang sebelah ayah juga memberikan reaksi mengejutkan sepeninggal ayah.  Gadis itu entah sudah sejak kapan ada di belakangku. 

“Ayah? Ibu? Jangan tinggalkan Nara?”

Aku menoleh ke suara, aku merengkuhnya. Dia meronta. Aku berhasil menenangkannya. Aku berjanji akan menjaganya. 

Pagi ini, Jumat adalah hari pilu berlukiskan langit berwarna biru. Aku mengantar jenazah dua orang sekaligus. Mengantar jenazah ayah dimakamkan bersama istri keduanya, yaitu ibu tiriku, ibunya Nara.  

  Nara memberikan semua dokumen dan surat ditulis oleh ayahku. Warisan dan hakku utuh dari dulu. Nara dan ibunya tidak menyentuhnya. Misteri pernikahan kedua ayah terkuak.  Demi sebuah janji ayah kepada ayahnya Nara. Siapa meninggal lebih dulu harus menikahi istrinya. Ternyata ayahnya Nara lebih dulu meninggal ketika mengunjungi perusahaan mebelnya. Jadi ayah memikul tanggung jawab janjinya. 

Aku pandangi langit pagi itu cerah. Biru bersih. Biru milik Langit. Langit yang sangat pemaaf, menaungi semua kehidupan di dunia.  

“Ayo, kita pulang, Dik Nara!”

*) Penulis merupakan Guru MI Al Ulum Guyangan, Trucuk, Bojonegoro

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru


/